Jumat, 20 Mei 2011

BUDIDAYA DOMBA

Deskripsi
Pengembangan usaha budidaya Domba Garut khususnya di Jawa Barat memiliki prospek yang sangat bagus untuk dikembangkan sebagai usaha sampingan ataupun bisnis skala besar.  Domba Garut merupakan plasma nutfa yang harus terus dikembangkan mengingat Domba Garut merupakan domba kebanggaan masyarakat Jawa Barat.

Hasil penelitian penentuan standaridisasi mutu bibit Domba Garut yang ada di wilayah Jawa Barat, bobot badan Domba Garut jantan dewasa adalah 57,74 ± 11,96 kg, dan Domba Garut betina dewasa 36,89 ± 9,35 kg.  Berdasarkan aspek reproduksi dewasa kelamin domba jantan dan betina pada umur 6 – 8 bulan, sedangkan dewasa tubuh pada umur 1,5 – 2 tahun (Heriyadi dkk., 2002).
 
Kelebihan Domba Garut yaitu:
1.      Postur tubuhnya yang besar dapat dimanfaatkan  sebagai penghasil daging (sumber protein) dengan pangsa pasar  tidak hanya local melainkan sampai tingkat nasional dan internasional. 
2.      Ditinjau dari segi budaya dan pariwisata Domba Garut dijadikan sebagai objek wisata untuk seni ketangkasan.   
3.      Memiliki  nilai jual yang cukup tinggi dan stabil terutama menjelang Hari Raya Kurban. 
4.      Produk lainnya dari ternak domba ini adalah kulit. Pasar kulit domba cukup prospektif. Kulit domba merupakan bahan baku untuk berbagai peralatan rumah tangga dan barang kerajinan. Prospek pasar kulit domba melebihi prospek pasar daging domba. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya para pembeli kulit domba yang sudah menyerahkan uang di muka kepada runah-runah potong hewan, jauh-jauh hari sebelum ternak domba tersebut dipotong.
II.  PENGERTIAN RUMINANSIA
Ruminansia berbeda dengan hewan mamalia atau hewan menyusui.  Perbedaannya terdapat pada organ pencernaannya.  Jika hewan mamalia organ pencernaannya hanya memiliki satu lambung  sedangkan ruminansia memiliki lambung yang terbagi menjadi 4 bagian, yaitu yaitu rumen (lambung beludru), retikulum (lambung jala), omasum (lambung buku), dan abomasum (lambung sejati).
Ruminansia digolongkan menjadi dua, yaitu ruminansia besar (sapi dan kerbau) dan ruminansia kecil (domba dan kambing).  Proses pencernaan pakan pada bagian lambungnya/perutnya terjadi secara enzimatis, pakan dirombak oleh  enzim-enzim pencernaan dan hampir 70% pencernaan terjadi secara fermentatif  yang dilakukan oleh mikroba rumen. 
Fungsi dan peran ketiga bagian lambung, yaitu rumen, reticulum dan omasum adalah:
1        alat pencerna mekanis
2        penghasil bakteri pencerna serat kasar
3        penghasil protein dan asam amino essensial
4        pensintesis vitamin B
III.  TEKNIK BUDIDAYA DOMBA
A.  PENYIAPAN SARANA DAN PRASARANA
Ø  PERKANDANGAN
v  Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesua dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak kebanjiran.
v  Untuk memenuhi fungsi kandang seperti di atas, maka kandang harus mempunyai kondisi dan syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Lokasi kandang sebaiknya lebih tinggi dari tanah sekitarnya agar air hujan tidak tergenang
2.      Kandang sebaiknya dibangun di suatu tempat yang tidak terlalu terbuka terhadap angin kencang. Bila terpaksa maka di sekeliling kandang sebaiknya digunakan pagar  hidup sebagai pelindung.
3.      Arah Kandang; bila memungkinkan, arah kandang menghadap ke timur sehingga memungkinkan sinar matahari pagi masuk ke dalam kandang.
Sinar matahari berguna untuk :
- Membunuh bibit penyakit
- Membantu proses pembentukan vitamin D
- mengurangi kelembaban kandang
Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:
a)      Kandang induk utama, tempat digemukkan.  Satu ekor domba membutuhkan luas kandang 0,75 x 0,75 m atau 1 x 1 m.
b)      Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anakya selama 3 bulan.  Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m dan anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m
c)      Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacek seluas 1,5 m x 2 m/pemacek.

Kandang domba juga dilengkapi dengan tempat pakan (palung pakan) dan tempat minum, gudang menimpan pakan ternak dan penampungan feses dan urin (kotoran domba)


v  Tipe dan model kandang
a.      Tipe kandang panggung
Tipe kandang ini memiliki kolong dan bermanfaat sebagai tempat penampungan kotoran domba.  Lantai kandang dibuat dari bahan bambu dan bercelah berfungsi agar kotoran feses maupun urin langsung jatuh ke bawah tempat penampungan kotoran. Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm.  Palung tempat pakan dan minum dibuat di luar sisi kandang.
b.      Tipe kandang litter atau lemprak
Tipe kandang ini dibuat untuk usaha domba kereman yang berlantai tanah dan alasnya sisa dari makanan.  Untuk menjaga suhu dan kelembaban tetap terjamin diusahakan kandang tidak becek dan kering.  Pembuangan kotoran ternak sebaiknya dilakukan 1 minggu sekali. 
B.  PEMILIHAN BIBIT INDUKAN
v  Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal  dari bangsa domba dengan persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta pertumbuhan cepat dan persentase karkas yang baik.
a.      Pemilihan bibit, umur Domba > 12 bulan (2 buah gigi seri tetap), dengan tubuh baik, bebas cacat tubuh, puting dua buah dan berat badan > 20 kg, keturunan dari ternak yang beranak kembar.
b.      Calon pejantan, umur > 1 1/2 tahun (2 gigi seri tetap), keturunan domba beranak kembar, tidak cacat, skrotum symetris dan relatif besar, sehat dan konfirmasi tubuh seimbang.
v  Pada prinsipnya metode penaksiran umur ternak didasarkan atas perkembangan, penggantian dan keausan gigi. Pada prinsipnya perkembangan gigi itu sendiri terdiri dari tiga rase; rase gigi susu, rase pergantian gigi susu oleh gigi tetap, dan rase atau periode keausan pada gigi tetap.
Patokan pendugaan umur pada beberapa jenis ternak adalah  sebagai berikut:
Keadaan fase perkembangan gigi dan umur (tahun)
Jenis Ternak                          Gigi Susu                      Gigi susu ganti                                        Gigi aus
Sapi                                             1 tahun      1,5 – 2        2 - 2,5       3 - 3,5               4                tua
Domba                                          < 1            1,25 – 2    1,75 - 2      2,25 - 2,5     3 - 3,25          tua
Kambing                                      < 1              1 - 1,5       1,5 - 2          2,5 - 3         3 – 4              tua
Kerbau                                            2                 2,5             3,5              4,5              5 - 6              tua
                                              Gambar 2. Sistematika Cara menentukan Umur Ternak
C.  PEMBERIAN PAKAN  
Pemberian pakan harus memenuhi kebutuhan nutrisi domba yang mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup, yaitu karbohidrat, lemak protein, vitamin mineral, dan air. 
Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan:
  1. Golongan rumput-rumputan, seperti rumput lapangan, rumput gajah, rumput, rumput setaria, rumput raja, dll.
  2. Golongan legume dan kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal, daun kacang tanah, albasia, kaliandram glicrida dan siratro.
  3. Limbah pertanian, seperti jerami padi, jerami jagung, ketela pohon, daun ketela rambat, dll
  4. Golongan makanan penguat atau konsentrat, seperti dedak, jagung, bungkil kelapa, bungkil kedelai ampas tahu, dll.
v  Pemberian hijauan diberikan sebanyak 20% dari berat tubuh.  Jika berat tubuh 1 ekor domba 20 kg maka hijauan segar yang diberikan sebanyak 4 kg /ekor/hari. 
Pemberian



2) Reproduksi dan Perkawinan

Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan
reproduksi
adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.
a) Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi
yang
pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase
ini dicapai
pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan
maupun yang
betina.
b) Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk
dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada
betina dan 12
bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba
betina dalam
keadaan birahi.

3) Proses Kelahiran

Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang
kelahiran anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang
kering.
Bahan untuk alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering.
Obat
yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas
potongan
tali pusar.

Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui
perubahan fisik
dan perilakunya sebagai berikut:
a. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
b. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
c. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
d. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
e. Sering kencing.

Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah
ketuban
pecah, anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak
domba yang
baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat
bernafas.
Biasanya induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan
bersih.

6.3. Pemeliharaan

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif

Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang
dan
peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat
pakan
dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu
dilakukan
pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak
dibersihkan
seminggu sekali.

2) Pengontrolan Penyakit

Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan
dari
yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada
domba-domba yang sehat.

3) Perawatan Ternak

Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang
lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan
diberi minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan
makanan penguat lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan.
Anak
domba (Cempe) yang baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan
yang
terseleksi. Cempe yang disapih perlu diperhatikan. pakan yang
berkualitas
dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.

Perawatan ternak dewasa meliputi:
a. Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara
disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah
sinar
matahari pagi.
b. Mencukur Bulu
Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan
minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal
kira-kira 0,5
cm. Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan
dapat
dijadikan bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari
pada
saat dicukur. Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan
searah
dengan punggung domba.
c. Merawat dan Memotong Kuku
Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat
kayu, pisau rantan, pisau kuku atau gunting.

4)
Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang
disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran
tersebut
adalah:
a. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
b. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
c. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
d. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
e. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5­1 gelas

Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah
sebagai berikut:
a. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
b. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
c. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari
d. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
e. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
f. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari
g. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gram/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
h. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gram/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
i. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gram/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari
j. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gram/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
k. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
l. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gram/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari
m.Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gram/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
n. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gram/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
o. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gram/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari
p. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gram/hari, pertambahan bobot=50
gram/hari
q. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gram/hari, pertambahan bobot=100
gram/hari
r. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan bobot=150
gram/hari

s. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gram/hari, pertambahan
bobot=50
gram/hari
t. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gram/hari, pertambahan
bobot=100
gram/hari
u. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gram/hari, pertambahan
bobot=150
gram/hari

5) Pemberian Vaksinasi dan Obat

Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali
vaksinasi
dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba.
Vaksinasi
mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1
bulan,
selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa
diberikan
adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin
AE, dan
Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).

6) Pemeliharaan Kandang

Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal
satu
minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah,
membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang
untuk disinfektan.



7. HAMA DAN PENYAKIT

1) Penyakit Mencret
Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba
berusia 3
bulan. Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat
mulut.

2) Penyakit Radang Pusar
Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar
tercemar
oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan
Actinomyces
necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7
hari.
Gejala: terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh
domba
akan kesakitan. Pengendalian: dengan antibiotika, sulfa dan pusar
dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan).

3) Penyakit Cacar Mulut
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan. Gejala: cempe
yang
terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya
terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian. Pengendalian:
dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau
pinicillin.

4) Penyakit Titani
Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba
yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan. Gejala: domba selalu
gelisah,
timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan.
Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos
calcicus
dan Magnesium.

5) Penyakit Radang Limoah
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya,
penularannya cepat dan dapat menular ke manusia. Penyebab: bakteri
Bacillus anthracis.. Gejala: suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung
dan
dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat,
tubuh gemetar dan nafsu makan hilang. Pengendalian: dengan
menyuntikan
antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg
berat
tubuh domba tertular.

6) Penyakit Mulut dan kuku
Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba,
dan
yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku. Penyebab: virus dan
menyerang semua usia pada domba Gejala: mulut melepuh diselaputi
lendir.
Pengendalian: membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan
menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku
dilakukan
dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.

7) Penyakit Ngorok
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida. Gejala: nafsu makan domba
berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada.
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang
terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar
lendir
berbuih dan sulit tidur. Pengendalian: menggunakan antibiotika lewat
air
minum atau suntikan.

8) Penyakit perut Kembung
Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang
masih diselimuti embun. Gejala: lambung domba membesar dan dapat
menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang
teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi
Pengendalian: memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya
kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.

9) Penyakit Parasit Cacing
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini. Penyebab: cacing
Fasciola
gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang),
cacing
Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii
(Cacing
mata). Pengendalian: diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan
lewat
minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis
220
mg/kg berat tubuh domba.


10) Penyakit Kudis
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua
usia.
Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi
jelek dan
mengurangi nilai jual ternak domba. Penyebab: parasit berupa
kutu yang
bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis.
Gejala:
tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang
menggaruk
tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung,
kaki dan
pangkal ekor. Pengendalian: dengan mengoleskan Benzoas
bensilikus 10%
pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.

11) Penyakit Dermatitis
Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit
bibit
domba. Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang
semua
usia domba. Gejala: terjadi peradangan kulit di sekitar mulut,
kelopak mata,
dan alat genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang
kelenjar susu.
Pengendalian: menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.

12) Penyakit Kelenjar Susu
Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui,
sehingga air
susu yang diisap cempe tercemar. Penyebab: ambing domba induk
yang
menyusui tidak secara ruti dibersihkan. Gejala: ambing domba
bengkak, bila
diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu
makan
kurang, produsi air susu induk berkurang. Pengendalian:
pemberian obat-
obatan antibiotika melalui air minum.

Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada
domba dapat dilakukan dengan:
a) Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
b) Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
c) Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral,
kalsium dan mangannya.
d) Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan
yang
baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum
diberikan.
e) Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang
terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
f) Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.
g) Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
h) Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.


8. PANEN

Rabu, 18 Mei 2011

Budidaya Ikan Diskus

Deskripsi
Habitat asli diskus (Symphysodon discus) adalah Rio Negro dan perairan tenang Sungai Amazon. Sifatnya omnivora. Gerakannya sangat halus. Ikan ini pun terkenal sebagai "King of Aquarium". Disebut diskus karena bentuk tubuhnya bulat seperti cakram.

Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan walaupun semuanya disebut sebagai diskus, yaitu Heckel Discus (Symphysodon discus), Brown Discus (Symphysodon aequifasciata axetrodi), Green Discus (Symphysodon aequifasciata aequifasciata), dan Blue Discus (Symphysodon aequifasciata haroldi). Oleh karena penggemarnya sangat banyak, kreativitas peternak dan hobiis sangat diperlukan untuk memunculkan varietas baru yang lebih bagus.

Hingga saat ini ada banyak varietas diskus, di antaranya ialah Red Pigeon, Marlboro, Brown Discus, dan Cobalt. Suhu yang baik untuk pemeliharaan diskus berkisar 25-30° C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH) cukup lebar sekitar 5-6,5 dan kekerasan air lunak antara 3-5° dH.


Pemijahan diskus sudah bukan masalah lagi bagi peternak maupun hobiis. Namun, karena harganya mahal dan banyak penggemarnya maka pemijahannya sebaiknya dilakukan dengan seksama. Pemilihan induk harus tepat agar anak yang dihasilkan berkualitas dan bernilai jual tinggi. Induk yang baik harus tanpa cacat, sehat, tampak aktif, bentuknya proporsional, ukurannya terbesar di antara kelompok umurnya, gemuk, mulutnya relatif besar, dan berumur lebih dari setahun.

Induk diskus sangat susah dipaksakan berpasangan sehingga biasanya dibiarkan memilih pasangannya sendiri dalam kelompok calon induk. Bila sudah tampak berpasangan dengan terus berenang bersama maka pasangan induk tersebut dapat dipisahkan dari kelompoknya. Pakan induk tersebut berupa pakan alami seperti cacing darah dan jentik nyamuk serta pakan buatan (pelet) khusus untuk diskus yang banyak dijual di pasaran.


Sarang telur biasanya dibuat dari potongan paralon yang diletakkan di pojok atau tengah akuarium pada posisi berdiri. Seperti halnya ikan lain, induk diskus pun akan membersihkan sarangnya sebelum meletakkan telur-telurnya.

Sifat ikan ini sangat unik, yaitu telur dan larvanya tidak dapat dipisahkan dari induknya. Oleh karena itu, telurnya tidak dipisahkan dari induknya dan dibiarkan menetas dalam wadah pemijahan. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Larva ini akan terus menempel pada induknya hingga berumur seminggu.

Biasanya larva akan mulai berenang setelah berumur seminggu. Walaupun sudah bisa berenang, namun larva tersebut akan sering menempel pada induknya hingga berumur 21 hari. Beberapa pakar menyebutkan bahwa larva diskus tersebut memakan lendir yang keluar dari tubuh induknya atau sering disebut "menyusu" pada induk. Ada juga pakar yang percaya bahwa larva ini diberi pakan melalui mulut induknya.

Walaupun ikan ini terkenal dengan sifatnya merawat telur dan anaknya, namun ada juga induk yang memakan telurnya sendiri. Sementara larva yang sudah bisa berenang tidak akan dimakan induknya. Oleh karena itu, biasanya peternak memberi sekat untuk membatasi induk dengan telurnya. Sekat tersebut terbuat dari kawat halus yang dilingkarkan ke sarang. Adanya sekat ini menyebabkan induk tidak dapat mencapai telurnya.

Selain dengan sekat, dapat juga induknya diganti dengan induk yang sudah diketahui sebagai perawat telur dan larva yang baik. Penggantian induk ini dilakukan pada saat selesai memijah.
Walaupun pakan untuk larva berasal dari induknya, namun akan lebih baik lagi bila ditambahkan nauplii artemia atau kutu air saring. Bila larva sudah pisah dari induknya, pakannya dapat diganti

dengan kutu air besar. Namun, kualitas pakan tersebut harus diperhatikan, terutama pakan dari alam, agar ikan terhindar dari penyakit.
Diskus berumur sebulan atau lebih sudah bisa diberi pakan cacing sutera, cacing darah, atau jentik nyamuk. Bahkan pelet pun dapat diberikan pada usia dewasa. Sementara penggantian air selama pembesaran perlu selalu diperhatikan. penggantian air ini rutin dilakukan setiap 1-2 hari sebanyak sepertiga atau separo volume air. Ukuran 4 cm atau berumur sekitar 3 bulan mulai dapat dijual.

Budidaya Angsa

Deskripsi
Orang yang memelihara angsa sekarang ini sudah jarang kita temui. Padahal tanpa makanan yang khusus, angsa dapat berkembang biak dengan lebih baik dibandingkan kebanyakan unggas lainnya. Angsa tergolong sangat bandel dan relatif mudah tumbuh menjadi besar. Mereka lebih tahan terhadap penyakit dan hampir tidak memerlukan obat-obatan.
Satu hal yang barangkali meragukan, yaitu tentang air. Orang sering disodorkan foto angsa di atas air sehingga berkonotasi bahwa angsa dan air tidak dapat dipisahkan. Sebenarnya tidak demikian, bahkan sebaliknya lumpur dapat menimbulkan penyakit pada angsa. Angsa jelas dapat menjadi ternak peliharaan yang baik di pekarangan rumah.
Pemilihan bibit
Pertama-tama yang harus ditentukan adalah pemilihan bibit angsa. Memilih bibit tergantung dari tujuan pemeliharaannya. Bila untuk sekedar hobby maka akan banyak pilihan karena sifatnya kesukaan pribadi. Sedangkan untuk keperluan memproduksi daging atau telur, pilihan menjadi agak terbatas karena harus memperhitungkan faktor ekonomis yaitu ongkos produksi harus lebih rendah dari harga jual. Mengkalkulasi ongkos produksi sudah barang tentu bukan pekerjaan mudah bagi seorang pemula. Barangkali salah satu cara untuk mengurangi kerugian dari kemungkinan gagal adalah mulailah dengan sedikit. Untuk produksi daging usahakan agar waktu penjualannya yaitu saat angsa berumur 4 sampai 6 bulan jatuh menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya harganya lebih baik. Untuk patokan harga daging dan telur tiap hari bisa dilihat di Departemen Perdagangan dan Perindustrian R.I.
Jenis bibit angsa yang terkenal diantaranya adalah Toulouse, Embden dan African yang tergolong paling berat tubuhnya, Pilgrim yang berat tubuhnya pertengahan dan Chinese yang paling ringan beratnya. Walaupun demikian, kecepatan pertumbuhan dan kemampuan berproduksi telur pada jenis bibit yang sama belum tentu akan sama hasilnya. Jadi dari pengalaman berternak nantinya, pilihlah bibit dari induk yang pertumbuhannya paling cepat dan menghasilkan banyak telur.
Kandang dan peralatan
Angsa tergolong binatang yang tidak kerasan tinggal di kandang. Biarkan mereka berkeliaran di halaman belakang sampai batas tertentu. Kandang diperlukan sebagai tempat berteduh dari hujan lebat dan angin kencang disamping sebagai tempat tidurnya. Ukuran kandang yang dianggap memadai untuk tiap ekor angsa adalah 1 X 1 meter persegi ditambah 3 sampai 4 X 1 meter persegi sebagai pekarangannya. Atap kandang diusahakan tidak bocor agar waktu hujan tetap kering. Makanan sebaiknya dibiasakan diberikan dalam kandang dalam baskom atau wadah plastik yang terbuka. Air minumannya diusakan berada di luar kandang untuk menjaga agar kandang tetap kering. Sarang tidak diperlukan kecuali sudah ada yang bertelur. Sarang bisa dibuat dari kotak kayu yang di dalamnya diberi alas dari serutan kayu atau pecahan strowbur. Cahaya di kandang harus cukup untuk menstimulasi percepatan produksi telur.
Memberi makan
Dalam masa pembiakan, pemberian 15% protein ditambah vitamin dalam kadar yang sama seperti untuk ayam dalam masa pembiakan dianggap telah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi. Makanan sebaiknya tetap tersedia, demikian pula halnya dengan kulit kerang dan pasir. Makanan lainnya tidak ada yang spesifik, dedak dicampur sayuran atau sisa makananpun tidak menjadi masalah. Angsa sangat lahap dalam memakan rumput atau daun-daunan. Dibawah ini adalah tabel komposisi nutrisi sebagai acuan apabila memungkinkan untuk memberikannya.

Komposisi bahan Starter Grower-Finisher(Range)
Ground yellow corn 15 20
Ground barley 20 25
Ground oats 20 25
Meat scrap (50%) 2 3
Soybean oil meal (47%) 21,5 4
Dried whey 2 -
Dehidrated alfalfa meal (17%) 3 -
Dicalcium phosphate 0,5 -
Iodized salt 1 1
TOTAL 100 100
Tambahan:

Riboflavin 2 gram/ton -
Niacin 20 gram/ton -
Vitamin B12 6 miligram/ton -

Apabila pemeliharaan angsa dimaksudkan untuk dikonsumsi, umur angsa yang baik untuk dikonsumsi adalah 4 sampai 6 bulan. Keram mereka pada sangkar yang lebih kecil dan berikan makanan penuh (full feed) 3 atau 4 minggu sebelum batas waktu dikonsumsi.
Adalah sangat mungkin untuk menumbuhkan angsa lebih cepat dengan memberi makan penuh (full feeding grower-finisher pellets) sepanjang masa pertumbuhan. Akan tetapi bila mereka telah mencapai berat yang diinginkan (5,5 sampai 7,5 kilogram) dalam waktu 12 sampai 14 minggu, maka kondisi bulunya akan banyak bulu-bulu pendek yang akan sulit dicabut dan dibersihkan. Setelah lewat 14 minggu, kondisi bulunya akan cepat membaik. Jadi ada baiknya menghemat rumput dengan membatasi pemberiannya pada masa awal dan berkonsentrasi pada masa akhir menjelang dikonsumsi atau dipasarkan.
Pembiakan
Biasanya angsa paling baik dijodohkan sepasang atau bertiga. Angsa jantan yang perkasa akan puas mendapat jodoh dengan 4 atau 5 betina. Apabila mereka telah memilih sendiri pasangannya, maka banyak sekali jantan berpasangan dengan betina yang sama dari tahun ke tahun. Jumlah telur yang dihasilan pada tahun ke dua akan lebih vanyak dari tahun pertama. Prosentase keberhasilan penetasannyapun semakin baik. Induk angsa dapat terus memproduksi telur sampai 10 tahun. Dari hasil penelitian, kemampuan reproduksi angsa jantan lebih cepat menurun dibandingkan angsa betina.
Pemeliharaan telur
Ambil telur dua kali tiap hari, terutama pada musim hujan. Selalu hati-hati dalam pengentasan telur. Berihkan bilamana dipandang perlu. Temperatur yang paling baik pada tempat penyimpanan telur adalah 7 sampai 13°C dengan kelembaban relatif paling kecil 70%. Bila telur akan disimpan lebih dari dua hari, balikkan tiap hari agar prosentase penetasannya meningkat. Apabila cara penyimpanan telur kurang baik, prosentase penetasan ini menurun setelah telur disimpan 6 – 7 hari. Apabila cara penyimpanannya tepat telur dapat bertahan 10 sampai 14 hari dengan hasil pengentasan yang tidak berkurang.
Pengeraman telur
Masa penginkubasian telur angsa yang paling umum adalah antara 29 sampai 30 hari. Empat sampai enam telur dapat diinkubasi pada setelan untuk ayam betina sedangkan 10 sampai 12 telur pada setelan angsa. Balikkan telur tiga atau lima kali sehari apabila incubator tidak bekerja sendiri. Angka bilangan pembalikkan telur harus ganjil untuk mencegah letak telur berada pada posisi yang sama tiap malam.
Apabila telur dieram oleh induk ayam, ambilah anak angsa dari sarang segera setelah dientaskan. Simpan di tempat yang hangat sampai beberapa jam. Apabila anak angsa tidak segera diambil, maka induk ayam mungkin akan meninggalkan sarangnya lebih awal sebelum semua telur menetas.

Pertumbuhan Dan Produksi Cabai (Capsicum Annuum L.) Dengan Penggunaan Mulsa Dan Pemupukan Pk

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa, dan pemupukan PK serta interaksi antara penggunaan mulsa dan pemupukan PK terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Amir Hamzah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah penggunaan mulsa yang terdiri dari tiga jenis yaitu: Tanpa mulsa (M0), Mulsa plastik hitam (M1), Mulsa plastik perak (M2). Faktor yang kedua adalah pemupukan PK yang terdiri dari empat jenis yaitu: Tanpa pemupukan PK (Z0), 75 kg SP36/Ha + 50 kg KCl/Ha (Z1), 150 kg SP36/Ha + 100 kg KCl/Ha (Z2) dan 225 kg SP36/Ha + 150 kg KCl/Ha (Z3). Penggunaan mulsa memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, produksi pertanaman, dan produksi per hektar. Pemupukan PK memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang dan jumlah cabang yang terbentuk serta terhadap parameter produksi. Interaksi antara penggunaan mulsa dan pemupukan PK memperlihatkan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang yang ada, serta terhadap produksi.

Uji Ketahanan Beberapa Varietas Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) Terhadap Serangan Penyakit Antraknosa Dengan Pemakaian Mulsa Plastik

Uraian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan beberapa varietas tanaman cabai (Capsicum annum L.) terhadap serangan penyakit antraknosa dan untuk mengetahui pemakaian mulsa plastik terhadap penyakit antraknosa pada tanaman cabai (Capsicum annum L.). Jenis penyakit yang merusak tanaman cabai adalah penyakit antraknosa menyerang tanaman cabai dengan menginfeksi kulit buah yang muda maupun tua sehingga buah akan mengerut, mengeriting, warna buah berubah menjadi kehitaman dan membusuk dan keguguran, akhirnya produksi menurun kalau serangannya dibiarkan maka tanaman akan mati. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu faktor varietas cabai :V1 (Varitas TM-999), V2 (Varietas Hot Beauty), V3 (Varietas Laris), V4 (Varietas Lokal) dan faktor mulsa : M0 (tanpa Mulsa), M1 (Mulsa Plastik Hitam Perak), M2 (Mulsa Plastik Hitam), dan diulang sebanyak 3 kali. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Merek, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dari bulan September 2007 sampai April 2008. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas dengan mulsa berbeda nyata dalam persentase serangan pada buah, dimana persentase serangan terendah dengan faktor mulsa terdapat pada M1 (Mulsa Hitam Perak) pada pengamatan 17 MST yaitu sebesar 33,60 % dan persentase serangan tertinggi dengan faktor mulsa terdapat pada M0 (tanpa mulsa) pada pengamatan 17 MST yaitu sebesar 41,38 % dan persentase serangan terendah pada faktor varietas pada V1 (TM-999) sebesar 30,60 % pada pengamatan 17 MST dan persentase serangan yang tertinggi pada faktor varietas pada V3 (Varietas Laris) yaitu sebesar 41,83 %. Sedangkan persentase serangan terendah dengan interaksi kedua faktor adalah pada perlakuan M1V1 (Mulsa Hitam Perak dengan Varietas TM-999) yaitu sebesar 16,97 % pada pengamatan 17 MST dan persentase serangan tertinggi pada perlakuan M0V3 (tanpa mulsa dengan varietas Laris) yaitu sebesar 29,65 % pada pengamatan 17 MST. Perlakuan berbagai varietas dengan mulsa berbeda nyata dalam produksi buah, dimana produksi buah tertinggi dengan faktor mulsa terdapat pada M1 (Mulsa Hitam Perak) pada pengamatan 20 MST yaitu sebesar 3,657 ton/ha dan produksi buah terendah dengan faktor mulsa terdapat pada M0 (tanpa mulsa) pada pengamatan 20 MST yaitu sebesar 2,733 ton/ha dan produksi buah tertinggi pada faktor varietas pada V1 (TM-999) sebesar 3,605 ton/ha pada pengamatan 20 MST dan produksi buah yang terendah pada faktor varietas pada V3 (Varietas Laris) yaitu sebesar 2,478 ton/ha Sedangkan produksi buah tertinggi dengan interaksi kedua faktor adalah pada perlakuan M1V1 (Mulsa Hitam Perak dengan Varietas TM-999) yaitu sebesar 2,627 ton/ha pada pengamatan 20 MST dan produksi buah terendah pada perlakuan M0V3 (tanpa mulsa dengan varietas Laris) yaitu sebesar 1,400 ton/ha pada pengamatan 20 MST.

Selasa, 17 Mei 2011

Budidaya Tokek

Deskripsi
Ada beberapa cara budidaya tokek ini, tergantung modal yang kita miliki. Kalau modal kita hanya cukup membeli bamboo untuk tempat persembunyian tokek maka bamboo yang telah kita beri lubang tersebut kita masukkan anak tokek yang masih kecil kemudian kita simpan di atas pohon dan biarkan ia memakan serangga yang hinggap di pohon. Resikonya agak sulit di tangkap jika telah besar dan mungkin tokeknya bisa kabur atau diambil orang lain dengan cara dipancing bila dibandingkan dengan tokek yang kita letakkan di dalam rumah-rumahan kawat ram di kebun-kebun atau di tengah-tengah sawah. Cara ini masih konseptual lho karena penulis sendiri belum pernah melakukan budidayanya. Bulan Desember 2007 penulis mendapat tiga ekor tokek dari daerah Kediri Jawa Timur lantas dibawa ke Bandung dengan cara dimasukkan ke dalam botol plastic bekas kemasan air minum AQUA 1,5 liter dimasukkan ke dalam tas daypack dengan angkutan kereta api untuk diupayakan pembudidayaannya, namun
dua hari kemudian tokek ini mati entah karena kedinginan atau karena stress waktu dalam perjalanan, atau sebab-sebab lain yang tidak ketahuan. Makanan tokek ini berdasarkan penalaman penulis sebelum ke Bandung yaitu jengkerik (Gryllus gryllus), kupu-kupu (?), laron (?) dan setelah di Bandung toek diberi jengkerik, nasi dan terakhir kecoa (Peryplaneta Americana). Mungkinkah kecoa entah ukurannya terlalu besar atau kaki-kakinya yang berduri atau bau kecoa yang sangat menyengat hingga mungkin beracun bagi tokek penulis belum tahu secara pasti. Tanggal 03 January 2008 penulis membawa lagi empat tokek yang berasal dari Malang Jawa Timur yang berhawa dingin seperti Bandung Jawa Barat dan satu ekor tokek dari Kediri Jawa Timur dengan cara dimasukkan ke dalam kurungan burung yang terbuat dari kawat ram dicat hijau daun muda dan didalamnya dimasukkan bumbung bamboo untuk persembunyian/menjaga kehangatan tokek dan kurungan ini lantas dibungkus kertas Koran.
Atap terbuat dari seng atau apa saja untuk melindungi dari hujan dan terik matahari
Pondasi bangunan agar rumah tokek tidak mudah roboh atau diganggu pencuri
Tempat persembunyian bawah jika tempat persembunyian atas terlalu panas

Berupa kawat ram yang bisa dimasuki serangga tetapi tokeknya tidak bisa keluar dari dalam. Sebaiknya kalau malam diberi lampu untuk mengundang serangga malam dan menjaga kehangatan tokek.
Tempat persembunyian atas jika tempat persembunyian bawah terlalu dingin

Sifat Tokek

1 Tokek Merupakan Binatang yang tahan lapar, serta tahan cuaca.
Jadi kalo tokek gak diberi makan selama 1 minggu ato 2 minggu, itu gak masalah. Atopun dicuaca panas ato dingin itu juga gak masalah.

2. Tokek Merupakan hewan kanibal
Jadi jika dia kumpul jadi 1 kandang, dan merasa lapar,dia bersifat kanibal.
Dia mempunyai pedoman siapa yang kuat dia yang menang, jadi ada hukum rimba di sini. Jadi saran saya 1 kandang 1 tokek. Supaya tidak ada persaingan makanan.

3. Tokek Gampang Stress
Dan Karena tokek yang gampang stres, maka sekali diletakan dikandang, jangan dipindah pindah lagi baik tokek maupun kandangnya. Tujuannya supaya tokek tidak stres, akibatnya dia akan gak doyan makan. Sebenarya tokek mati, rata rata mengalami stres. Soalnya ketika saya pertama kali banyak yang mati.

4. Peletakan kandang di tempat yang sesuai.
Tempatnya usahakan di luar, kalo bisa dibawah pohon. Tujuanya supaya tetap merasa di alam.

5. Adaptasi tokek dari ditangkap dan masuk kandang.
Biasanya tokek tidak mau makan selama 2 minggu ato bahkan lebih. Tapi jika kandang dibuat dari kayu, adaptasi akan menjadi lebih cepat. Jadi saya sarankan buat kandang dari kayu.

6. Tujuan memisahkan per kandang.
Yaitu supaya tokek tidak bertelur ato berkembang biak. Karena tujuan utama saya yaitu membesarkan bukan membudidayakan.

7. Untuk ukuran kandang bebas.
Syaratnya harus dari kayu, dan agak gelap. Madsutnya gelap semua tertutup kecuali pintu mengunakan kawat streamin. Dan usahakan max 2 ekor tokek dalam 1 kandang. Kalo ditempat saya menggunakan bekas lemari baju dari kayu, saya modif dengan pintu menggunakan kawat streamin.

8. Untuk makanan.
Serangga adalah makanan tokek. Ini akan merangsang tokek menjadi lebih besar. Dalam hal ini bisa menggunakan jangkrik/Kroto sebagai makanan tokek.Untuk peningkatan beberapa ons itu tergantung banyak faktor, usahakan jangan sampai tokek merasa stress itu aja. buat kandang senyaman mungkin.

9. Cara memegang.
Tokek memang agak menakutkan. biasanya memegang posisi dari belakang, dan sasaran kepalanya, jangan ekornya, karena dia akan melepaskan ekornya kalo dipegang, kayak cicak.
caranya kalo kegigit, siram mulutnya dengan air hangat ato, alihkan gigitanya dengan benda agak lunak misal kain.

Misteri Sidat, Sogili, Pelus (Anguilla spp.) di Indonesia

Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu : Anguilla celebensis dan Anguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris dan Anguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguilla bicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmorata merupakan jenis sidat kosmopolitan yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis (Sarwono, 2000).
Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat dewasa akan melakukan migrasi kelaut untuk melakukan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar hingga mencapai dewasa. Sejak awal tahun 1980, jumlah glass eel yang memasuki sungai-sungai di Eropa mengalami penurunan hingga tinggal 1% dari jumlah semula (Dekker dalam Dannewitz, 2003).  Menurunnya jumlah glass eel yang memasuki suatu wilayah perairan menunjukkan kemungkinan adanya penurunan kualitas lingkungan  yang mengancam populasi sidat.
Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies.  Wilayah penyebarannya meliputi perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia.  Ikan sidat merupakan ikan nokturnal, sehingga keberadaannya lebih mudah ditemukan pada malam hari, terutama pada bulan gelap.  Bleeker dalam Liviawaty dan Afrianto (1998), mengatakan bahwa ikan sidat mempunyai klasifikasi sebagai berikut :
Phylum              : Chordata
Class                : Pisces
Ordo                : Apodes
Famili               : Anguillidae
Genus               : Anguilla
Spesies             : Anguilla sp.

Jenis-jenis ikan sidat (Anguila spp.)

  1. Valid Name                                               Author                               English Name
  2. Anguilla anguilla                                (Linnaeus, 1758)               European eel
  3. Anguilla australis australis                Richardson, 1841               Shortfin eel
  4. Anguilla australis schmidti                Philipps, 1925
  5. Anguilla bengalensis bengalensis      (Gray, 1831)                      Indian mottled eel
  6. Anguilla bengalensis labiata              (Peters, 1852)                   African mottled eel
  7. Anguilla bicolor bicolor                       McClelland, 1844              Indonesian shortfin eel
  8. Anguilla bicolor pacifica                      Schmidt, 1928                  Indian short-finned eel
  9. Anguilla breviceps                              Chu & Jin, 1984
  10. Anguilla celebesensis                         Kaup, 1856                     Celebes longfin eel
  11. Anguilla dieffenbachii                          Gray, 1842                     New Zealand longfin eel
  12. Anguilla interioris                                Whitley, 1938                 Highlands long-finned eel
  13. Anguilla japonica                                Temminck & Schlegel       Japanese eel
  14. Anguilla malgumora                           Kaup, 1856                     Indonesian longfinned eel
  15. Anguilla marmorata                            Quoy & Gaimard, 1824      Giant mottled eel
  16. Anguilla megastoma                           Kaup, 1856                     Polynesian longfinned eel
  17. Anguilla mossambica                         (Peters, 1852)                  African longfin eel
  18. Anguilla nebulosa                               McClelland, 1844             Mottled eel
  19. Anguilla nigricans                               Chu & Wu, 1984
  20. Anguilla obscura                                 Günther, 1872                 Pacific shortfinned eel
  21. Anguilla reinhardtii                              Steindachner, 1867          Speckled longfin eel
  22. Anguilla rostrata                                 (Lesueur, 1817)                American eel

Sumber: www.fishbase.org Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah.  Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan dapat mempengaruhi  distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat.  Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan (EIFAC/ICES, 2000).  Helfman et al.   (1997) mengatakan bahwa ikan sidat jantan tumbuh tidak lebih dari 44 cm dan matang gonad setelah berumur 3-10 tahun.  Anguilla sp. tergolong gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, yaitu kondisi seksual berganda yang keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi intersex yang spontan (Effendi,2000).
Stadia perkembangan ikan sidat baik tropik maupun subtropik (temperate) umumnya sama, yaitu stadia leptochephalus, stadia metamorphosis, stadia glass eel atau elver, yellow eel dan silver eel (sidat dewasa atau matang gonad). Setelah tumbuh dan berkembang di perairan tawar, sidat dewasa (yellow eel) akan berubah menjadi silver eel (sidat matang gonad), dan selanjutnya akan bermigrasi ke laut untuk berpijah.  Lokasi pemijahan sidat tropis diduga berada di perairan Samudra Indonesia, tepatnya di perairan barat pulau Sumatera (Setiawan et al., 2003).
Juvenil ikan sidat hidup selama beberapa tahun di sungai-sungai dan danau untuk melengkapi siklus reproduksinya (Helfman et al, 1997). Selama melakukan ruaya pemijahan, induk sidat mengalami percepatan pematangan gonad dari tekanan hidrostatik air laut, kematangan gonad maksimal dicapai pada saat induk mencapai daerah pemijahan. Proses pemijahan berlangsung pada kedalaman 400 m, induk sidat mati setelah proses pemijahan (Elie, P., 1979 dalam Budimawan, 2003).
Waktu berpijah sidat di perairan Samudra Hindia berlangsung sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei dan Desember untuk Anguilla bicolor bicolor, Oktober untuk Anguilla marmorata, dan Mei untuk Anguilla nebulosa nebulosa (Setiawan et al., 2003). Di perairan Segara Anakan, Anguilla bicolor dapat ditemukan pada bulan September dan Oktober, dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September (Setijanto et al., 2003).Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan (Liviawaty dan Afrianto, 1998).  Tanaka et al.(2001) mengatakan bahwa pakan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah tepung telur ikan hiu, dengan pakan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepali.
Kedatangan juvenil sidat di estuaria dipengaruhi oleh beberapa factor lingkungan, terutama salinitas, debit air sungai, ‘odeur’ air tawar dan suhu.  Elver yang sedang beruaya anadromous menunjukkan kadar thyroid hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Elver juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar (Budimawan, 2003).
Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah elver yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari (Setijanto et al., 2003).   Hasil penelitian Sriati (2003) di di muara sungai Cimandiri menunjukkan bahwa elver cenderung memilih habitat yang memiliki salinitas rendah dengan turbiditas tinggi. Salinitas dan turbiditas merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap kelimpahan.  Kelimpahan elver yang paling tinggi terjadi pada saat bulan gelap.
Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12oC-31oC, sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12oC.  Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppm.  Sidat mempunyai kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu bernapas melalui kulit diseluruh tubuhnya (Liviawaty dan Afrianto, 1998).