Tampilkan postingan dengan label Hama dan Penyakit Tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hama dan Penyakit Tanaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT PADA TANAMAN PADI

Wereng Coklat masih dianggap hama utama pada tanaman padi. Kerusakan akibat serangan hama ini cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim tanam. Secara langsung wereng coklat akan menghisap cairan sel tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati.  Berikut cara pengendalian hama wereng coklat :
 1.      Tanam padi Serempak
Pola tanam serempak dalam areal yang luas dan tidak dibatasi oleh admisistrasi dapat mengantisipasi penyebaran serangan wereng coklat karena jika serempak, hama dapat berpindah-pindah ke lahan padi yang belum panen. Wereng coklat terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atay lautan.
 2.      Perangkap Lampu
Perangkap lampu merupakan perangkap yang paling umum untuk pemantauan migrasi dan pendugaan populasi serangga yang tertarik pada cahaya, khususnya wereng coklat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap lampu antara lain, kekontrasan lampu yang digunakan pada perangkap lampu yang terdapat di sekitarnya. Semakin kontras cahaya lampu yang digunakan maka akan luas jangkauan tangkapannya. Kemampuan serangga untuk menghindari lampu perangkap yang dipasang.
Perangkap lampu dipasang pada pematang (tempat) yang bebas dari naungan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter diatas permukaan tanah. Lampu yang digunakan adalah lampu pijar 40 watt dengan voltase 220 volt. Lampu dinyalakan pada jam 18.00 sampai dengan 06.00 pagi. Agar serangga yang tertangkap tidak terbang lagi, maka pada penampungan serangga yang berisi air ditambahkan sedikit deterjen.
Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu, yaitu wereng-wereng yang tertangkap dikubur, atau keringkan pertanaman padi sampai retak, dan segera setelah dikeringkan kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasikan.
 3.      Tuntaskan pengendalian pada generasi 1
Menurut Baihaki (2011), perkembangan wereng coklat pada pertanaman padi dapat terbagi menjadi 4 (empat) generasi yaitu :
-          generasi 0 (G0) = umur padi 0-20 HST (hari Sesudah Tanam)
-          Generasi 1 (G1) = Umur padi 20-30 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1
-          Generasi 2 (G2) = Umur padi 30-60 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2
-          Generasi 3 (G3) = umur padi diatas 60 HST.
 Pengendalian wereng yang baik yaitu :
  1. Pada saat generasi nol (G0) dan generasi 1 (G1).
  2. Gunakan insektisida berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
  3. Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke-1 (G1) atau paling lampat pada generasi ke -2 (G2).
  4. Pengendalian saat generasi ke-3 (G3) atau puso tidak akan berhasil
4.      Penggunaan Insektisida
  1.  Keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang disemprot atau butiran
  2.  Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang pagi.
  3. Tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
  4. Tepat air pelarut 400-500 liter air per hektar.

Beberapa insektisida yang direkomendasikan untuk menghasilkan hama wereng coklat.
No
Nama bahan Aktif Nama Produk Dosis Pemakaian Konsentrasi Pemakaian
1 Buprofezin BUPROSIDA 100EC 0,25-0,5  L/ha 0,5 – ml/L
2 BPMC SIDABAS 500 EC NAGA 500 EC
BONA 500 EC
1-2 L/ha 1-2 L/ha
1-2 L/ha
2 – 4 ml/L 2 – 4 ml/L
2 – 4 ml/L
3 Fipronil FIPROS 55 SC 0,5 – 1 L/ha 1 – 2 ml/L
4 Imidaklprid TOP DOR 10 WP 0,125 – 0,25 kg/ha 0,25 – 0,5 g/l

Kamis, 14 April 2011

Penyakit Penting Tanaman Jeruk

1. Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)

Penyebab :
Bakteri Liberobacter asiaticum.

Nama Internasional :
Huang Lung Bin

Daerah penyebaran :
Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.



Gejala Penyakit :
• Gejala luar
O Gejala khas CVPD adalah belang - belang kuning (blotching), mulai berkembang pada bagian ujung tanaman (pertumbuhan baru) pada daun yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Gejala ini sulit dibedakan dengan gejala kekurangan hara Zn. Tulang - tulang daun dan urat-urat daun tampak lebih menonjol dengan warna hijau gelap (kontras dengan warna lamina daun). Pengamatan gejala sebaiknya dilakukan pada permukaan atas dan bawah daun. Gejala belang - belang pada bagian atas sama dengan bagian bawah. Pada gejala lanjut daun menjadi lebih kaku dan lebih kecil, tulang daun menjadi berwarna kuning. Gejala ini sangat jelas pada jeruk manis, tetapi kurang jelas pada daun jeruk Mandarin.
O Infeksi pada tanaman muda ditandai dengan kuncup yang berkembang lambat, pertumbuhannya menjulang ke atas, daun menebal, ukuran menjadi lebih kecil dengan gejala khas blotching, mottle, belang - belang kuning tidak teratur.
O Pada tanaman dewasa, gejala sering bervariasi.
a. Gejala greening sektoral diawali dengan munculnya gejala blotching pada cabang - cabang tertentu, diiringi dengan pertumbuhan tunas air lebih banyak dari tanaman normal di luar musim pertunasan. Daun - daun pada cabang sakit mencuat ke atas seperti sikat.
b. Pada gejala berat, daun bisa menguning seluruhnya (seperti defisiensi unsur N) dan terjadi pengerasan tulang daun primer dan sekunder yang dikenal dengan Vein Crocking, daun juga menjadi lebih kaku dan menebal. Gejala ini merupakan indikator adanya kerusakan lebih berat pada pembuluh angkut / pholem.
c. Pada tanaman yang sudah berproduksi, menyebabkan ukuran buah menjadi lebih kecil - kecil hingga sebesar kelereng “nilek” dan bentuk tidak simetris (Lop sided). Kadang-kadang ditemukan buah “red nose” (warna orange pada pangkal buah, terutama di tempat - tempat yang terlindung dari sinar matahari. Buah jeruk yang terserang bijinya abortus, kehitaman dan rasanya asam.
• Gejala dalam
O Irisan tipis ibu tulang daun yang bergejala khas CVPD, terlihat jaringan floemnya tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem berupa jalur - jalur putih. Bila diberi pewarna KI akan terlihat adanya akumulasi pati yang berlebihan dalam sel - sel tersebut
O Dalam menetapkan bahwa tanaman jeruk terserang CVPD harus hati - hati. Di lapangan, baik petugas maupun petani masih mengalami kerancuan, karena gejala serangan penyakit ini mirip dengan gejala kekurangan unsur makro / mikro (Zn,Fe, Mn, Mg, dan lain - lain).
O Untuk mengetahui lebih lanjut, apakah tanaman jeruk terserang penyakit CVPD dapat diketahui dengan menggunakan : 1) Mikroskop Elektron, 2) Polymerase Chain Reaction - PCR (Spesifik primer), 3) Uji Serologi (metoda I – ELISA dan DIBA), 4) Hibridisasi DNA, 5) Uji penularan dengan penyambungan (okulasi mata tempel) dan serangga vektor, serta 5) Uji dengan tanaman indikator Madame vinous dan Vinca rosea.

Morfologi dan daur penyakit :
Belum ada laporan mengenai bentuk morfologi patogen. Patogen ini dapat ditularkan melalui bibit tanaman sakit dan vektor Diaphorina citri yang viruliverous(mengandung patogen penyebab penyakit yang dapat ditularkan). Penularan melalui alat - alat pertanian yang digunakan dalam pengolahan tanah maupun pemangkasan masih perlu dibuktikan. Vektor D. citri baru dapat menularkan CVPD ke tanaman sehat 168 – 380 jam setelah menghisap tanaman sakit. Gejala penyakit tampak pada tanaman kurang lebih 4,5 bulan setelah penularan penyakit.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Tingkat populasi serangga penular, kecepatan angin, tingkat ketahanan varietas berpengaruh terhadap kecepatan penularan penyakit ini.

Tanaman inang lain :
Anggota Rutaceae seperti Poncirus tripoliata Raf., Kemuning (Murraya paniculata L.), Swinglea glutinosa Merr., Clausena indica, Atalantia missionis dan Triphasia aurantiola, tapak dara / Periwinkel (Vinca rosea L.), Maja (Aegle marmeles), dan Kawista (Limnocitrus lettoralis).

Pengendalian : Penerapan PTKJS
Peraturan: Melarang membawa / memasukkan benih jeruk dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit CVPD (belum terserang).

2. Penyakit Tristeza (Quick Decline)
Penyebab : Virus Tristeza jeruk (Citrus Tristeza Virus =CTV) dengan serangga penular Toxoptera citricida Krik. (Aphis citricidus Kirk., Aphis tavaresi Del Garcio, Aphis citricola Van der Goot), T. auranti Fonsc., Aphis spiraecola Patch., Aphis gossypii Glou, Myzus persicae Sulz. Dan Ferrisia virgata Ckll.

Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di Luar Negeri dilaporkan terdapat di Malaysia, Thailand, Philipina, Taiwan, Fiji, India, Australia, Selandia Baru. Hawaii, Israel, AfrikaSelatan dan Barat, serta Amerika Utara dan Selatan.

Gejala :
Gejala infeksi pada tanaman adalah kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (floem), lekukan atau celah - celah pada jaringan kayu pada batang, cabang atau ranting dan gejala daun menguning. Pada varietas yang tahan seperti jeruk keprok gejalanya bisa tak tampak tetapi tetap merupakan sumber infeksi bagi varietas yang peka.

Gejala khas penyakit virus ini adalah daun - daun tanaman yang berubah menjadi berwarna perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit. Biasanya terjadi pemucatan tulang daun (vein clearing) berupa garis - garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya 2 minggu sampai 2 bulan setelah tertular. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat / merana, kerdil, daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung keatas. Bunga yang dihasilkan berlebihan, tetapi tdak dapat berkembang menjadi buah yang masak.

Morfologi dan daur penyakit :
Virus mempunyai zarah - zarah berbentuk batang yang lentur atau benang dengan ukuran 10 - 12 x 2.000 mm. Virus dapat menular secara mekanis melalui tanaman tali putri dan alat pada waktu melakukan perbanyakan dan pemangkasan. Penularan secara alami di lapang dapat terjadi dengan perantara kutu daun sebagai vektor yaitu : Toxoptera citricida Kirk., T. Aurantii Fonsc., Aphis citricidus Kirk., A. tavaresi Del Garcio, A. citricola Van der Goot, A. gossypii, A. spiraecola Patch., Ferrisia virgata Ckll. dan Myzus persicae Sulz.
Kutu daun ini sudah dapat menularkan virus jika mengisap tanaman sakit selama 5 detik dengan masa inkubasi 5 detik dan hanya dapat menularkan secara efektif bila 27 ekor kutu daun secara bersama - sama menularkan pada tanaman sehat. Efektivitasnya hanya terjadi dalam waktu singkat.

Faktor yang mempengaruhi penyakit :
Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh varietas, suhu dan populasi serangga penular. Suhu antara 28 - 36 °C selama 10 hari dapat menekan gejala pada daun.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Penggunaan bibit sehat
- Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza
- Eradikasi terhadap tanaman sakit dan tanaman inang serangga penular, kemudian dibakar.

b. Kimiawi
Pengendalian serangga penular dengan insektisida efektif.

3. Busuk Pangkal Batang (Brown rot Gummosis)
Penyebab :
Cendawan Phytophthora spp., diantaranya yang penting adalah a) P. nicotianae B. de Haan var parasitica (Dast). Waterh (dulu : P. parasitica Dast), b) P. citrophthora (R.E. Sm. & E.H. Sm.) Leonian, (dulu : Pythiacytic citrophthora R.E. Sm. Et E.H. Sm), dan c) P. palmivora (Butl). Di Indonesia spesies yang utama adalah P. nicotianae var. parasitica.

Penyebaran :
Penyakit terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Bali.

Gejala :
Penyakit ini umumnya menyerang pada bagian pangkal batang dekat permukaan tanah atau pada bagian sambungan antara batang atas dan bawah bibit jeruk okulasi. Gejala awal tampak berupa bercak basah yang berwarna gelap / hitam kebasah-basahan pada permukaan kulit pangkal batang. Jaringan kulit kayu yang terserang mengalami perubahan warna bahkan permukaan kulit, kambium, kayu, terutama pada serangan lanjut. Kulit batang yang terserang, permukaannya cekung dan mengeluarkan belendok, dan pada tanaman terserang sering terbentuk kalus. Kematian tanaman akibat serangan penyakit ini terjadi apabila bercak pada kulit melingkari batang.
Perkembangan bercak ke bagian atas, umumnya terbatas hingga 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bagian bawah dapat meluas ke bagian akar tanaman.

Morfologi dan daur penyakit :
Cendawan P. nicotianae var parasiticia sporangiumnya berbentuk jorong sampai agak bulat, berbentuk buah pir, dengan sporangiofor lebih halus dari pada hifa. Spora mempunyai dua bulu cambuk (flagela), dan patogen dapat membentuk klamidospora bulat, berdinding agak tebal.
P. citrophthora sporangiumnya berbentuk jorong atau berbentuk sitrun, dan terbentuk pada bagian tengah atau ujung sporangiofor. Sporangiofor bercabang tidak teratur. Spora mempunyai 2 bulu cambuk. Patogen juga dapat membentuk klamidospora.
P. palmivora mempunyai sporangium jorong, dan dapat membentuk klamidospora. Cendawan P. palmivora dapat bertahan dalam tanah dan membentuk spora kembara. Cendawan ini disebarkan terutama oleh hujan dan air pengairan yang mengalir di atas permukaan tanah.
Penyakit busuk pangkal batang lebih banyak menyerang kebun dengan ketinggian lebih dari 400 m dpl, pada tanah - tanah yang basah, seperti tanah lempung berat yang dapat menahan air lebih lama.
Patogen masuk lewat luka pada pangkal batang (penyebaran oleh oospora melalui luka alamiah, luka karena alat pertanian, atau luka oleh serangga). Infeksi terjadi terutama pada musim hujan dan dibantu oleh pH tanah agak asam (6,0 - 6,5). Infeksi patogen juga dibantu oleh kabut dan fluktuasi suhu yang kecil yang akan memperlambat penguapan.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Penyakit ini lebih banyak menyerang pada ketinggian kebun lebih dari 400 m di atas permukaan laut dan mempunyai temperatur tanah cukup tinggi. Tingkat ketahanan varietas sangat berpengaruh terhadap tingkat serangan patogen ini. Jenis yang peka adalah jeruk manis, jeruk nipis, sitrun Italia, Japanese citroen (JC) dan Rough Lemon (RL) sangat rentan terhadap penyakit ini, sedangkan yang toleran adalah trifoliate orange, jeruk masam, Swingle Ctromelo, Citrange (Corrizo dan Troyer), Sukade, jeruk Keprok, jeruk Manis, Grape Fruit, jeruk besar, jeruk nipis, dan Lemon
Tanah basah, adanya kabut, dan fluktuasi suhu yang kecil, pH tanah yang agak masam yaitu 6,0 - 6,5 merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan patogen.

Tanaman inang lain :
Kacang tanah, cabai, tapak dara, kenaf, ubi kayu, jarak, terung, sirsak, srikaya, aren, pepaya, kelapa, terung belanda, durian, karet, pala, sirih, lada, kakao, anggrek Vanda dan kemiri minyak.

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Menanam jeruk di atas gundukan - gundukan setingi 20 - 25 cm, tetapi tanaman jangan dibumbun agar batang atas tidak berhubungan dengan tanah.
- Menggunakan benih dengan mata tempel setinggi 35 - 50 cm dari permukaan tanah, untuk mengurangi kemungkinan batang atas yang rentan terinfeksi cendawan dari tanah.
- Menghindari air pengairan mengenai / terkena langsung pangkal batang dengan membuat selokan melingkari batang.
- Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur drainase, jarak tanam, pemangkasan, dan sanitasi lingkungan / kebun.
- Menghindarkan terjadinya pelukaan terhadap baik akar maupun pangkal batang pada waktu pemeliharaan / penyiangan.
- Pemupukan
- Pengamatan pangkal batang jeruk secara teliti dan teratur, terutama pada musim hujan, agar gejala penyakit dapat diketahui secara dini.
- pH tanah diupayakan lebih dari 6,5, dengan pemberian dolomit (kapur pertanian),

b. Mekanis / fisis
- Membongkar tanaman (termasuk akarnya) yang terserang berat, kemudian membakarnya.
- Memotong / membuang bagian tanaman yang sakit, termasuk 1 - 3 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi fungisida. Untuk mempercepat pemulihan (regenerasi), sebaiknya bagian atas dan bekas luka potongan membentuk titik.
- Menggunakan multiple foot stock (kaki ganda) dengan teknik aaneting / penyusuan (sambung samping) dengan batang bawah sehat 1 atau beberapa, tergantung besar tanaman yang akan ditolong untuk membantu fungsi akar dan pohon yang rusak.

c. Biologi
Mengunakan agens antagonis cendawan Trichoderma spp., Gliocladium spp. yang dicampur dengan pupuk kandang / kompos.

d. Genetika / Varietas Tahan
- Menggunkan batang bawah yang tahan terhadap Phytophthora, seperti “trifoliate orange” atau jeruk masam.
- Varietas tahan terhadap Phytophthora dan salinitas, yaitu Taiwanica dan Citromello 4475.

e. Kimia
- Melumasi pangkal batang dan akar - akar yang tampak dari luar dengan ter (Carbolineum plantarum 50 %) sampai setinggi 50 cm. Perlakuan tersebut dimulai tahun ketiga setelah penanaman dan setiap awal musim hujan (untuk Jawa September atau setiap 6 bulan. Agar batang yang berwarna hitam tidak banyak menyerap panas sehingga kulitnya rusak (untuk mencegah infeksi setelah diberi ter), maka bagian yang diberi ter ditutup dengan larutan kapur yang ditambah dengan garam dapur (25 kg kapur mati, 2 kg garam dapur, dan 25 - 35 liter air.
- Mengoles luka (bekas tanaman yang terinfeksi yang dibuang) dengan bubur California, bubur Bordo (Lampiran 3), Carbolineum-parafin (8 : 92), Mankozeb, atau tembaga oksiklorida. Kemudian luka ditutup dengan obat penutup luka, seperti ter, setelah kulit mengalami regenerasi.
- Membersihkan alat - alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

4. Penyakit Kulit Diplodia (Bark rot / Diplodia Cummosis)

Penyebab :
Cendawan Botryodiplodia theobromae Pat. (Oomycetes); yang dulu dikenal dengan nama Diplodia zae Lev.; Diplodia natalensis P.Evans.

Penyebaran :
Di Indonesia penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Di luar negeri penyakit terdapat di Amerika Serikat, Kuba, India, Malaysia, dan Thailand.

Gejala :
Pada jeruk dikenal dua macam Diplodia yaitu Diplodia “basah” dan Diplodia “kering”. Penyakit ini dapat menyerang akar, batang dan ranting dan dapat mengakibatkan busuk akar, busuk leher dan mati ranting.
Serangan Diplodia basah mudah dikenal karena tanaman yang terserang mengeluarkan “blendok” yang berwarna kuning emas dari batang atau cabang - cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang setelah beberapa lama dapat sembuh kembali, kulit yang terserang mengering dan mengelupas. Sering terjadi penyakit berkembang terus, sehingga pada kulit terjadi luka - luka yang tidak teratur, kadang-kadang terbatas pada jalur yang sempit, memanjang dan dapat juga berkembang melingkari batang atau cabang yang dapat menyebabkan kematian cabang atau tanaman. Cendawan berkembang di antara kulit dan kayu, dan merusak lapisan kambium tanaman. Kayu yang telah mati berwarna hijau sampai hitam.
Serangan Diplodia kering umumnya lebih berbahaya karena gejala permulaan sukar diketahui. Kulit batang atau cabang tanaman yang terserang mengering, terdapat celah - celah kecil pada permukaan kulit, dan pada bagian kulit dan batang yang ada di bawahnya berwarna hitam kehijauan. Pada bagian celah - celah kulit terlihat adanya massa spora cendawan berwarna putih atau hitam. Perluasan kulit yang mengering sangat cepat dan bila sampai menggelang tanaman, menyebabkan daun-daun tanaman menguning dan kematian cabang atau pohon.

Morfologi dan daur penyakit :
Cendawan dapat membentuk piknidium yang tersebar, berwarna hitam, mula - mula tertutup dan kemudian pecah. Konidium berbentuk jorong, mempunyai 1 sekat, berwarna gelap, dan terutama disebarkan oleh air dan serangga.
Penyakit diplodia banyak terdapat di dataran rendah dan tempat - tempat dengan kelembaban tinggi Infeksi dan perkembangan penyakit terjadi pada awal musim hujan (antara bulan Oktober – Nopember). Patogen masuk lewat luka: alamiah, alat - alat pertanian, retak karena beban buah terlalu berat.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit
Perkembangan dan tingkat serangan penyakit dipengaruhi oleh jenis dan umur tanaman. Jenis jeruk besar seperti jeruk Delima, Pandawangi, dan Bali peka terhadap Diplodia basah dan diplodia kering Bertambahnya umur tanaman pada jenis jeruk tertentu akan meningkat pula ketahannya tetapi pada jenis lain bisa menurun ketahanannya. Jeruk Pandanwangi peka pada umur 4 tahun, tetapi semakin tahan dengan bertambahnya umur tanaman, sedangkan jeruk Delima agak peka pada usia muda, tetapi makin peka dengan bertambahnya umur tanaman.
Kekeringan yang terjadi secara tiba-tiba, pembuahan yang terlalu lebat, dan adanya pelukaan pada tanaman merupakan kondisi yang baik untuk perkembangan patogen.

Tanaman inang lain :
Cendawan ini bersifat polifag yang dapat menyerang beberapa macam jenis tanaman.

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Sanitasi tanaman. Potong pohon / cabang / ranting yang terserang berat, buang kulit yang terinfeksi sedang dan bersihkan kulit yang terinfeksi ringan serta lingkungan dari gulma.
- Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur jarak tanam dan melakukan pemangkasan.
- Penjarangan buah, agar keadaan tanaman tidak terlalu berat, sehingga cabang / ranting tidak luka / retak.
- Menghindari pelukaan terhadap akar maupun batang pada waktu penyiangan.
- Perlakuan pembersihan dengan menggosok batang tanaman, agar batang semakin halus.
- Pemupukan berimbang, terutama setelah panen.
- Drainase. Menjaga agar pengairan tetap baik.

b. Mekanis / fisis
- Memotong / membuang bagian bagian kulit batang tanaman yang sakit, termasuk 1 - 2 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi dengan bahan penutup luka (karbolineum parafin, fungisida atau ter.
- Mengumpulkan sisa - sisa tanamn dan memotong cabang - cabang yang terserang penyakit berat, kemudia dibakar.
- Membongkar tanaman yang terserang berat dan dibakar.

c. Biologi
Mengunakan agens antagonis Trichoderma spp., Gliocladium spp., Pseudomonas fluorescens dan dilanjutkan dengan Bacillus subtilis yang telah dicampur dengan pupuk kandang/kompos, setelah kulit dikupas.

d. Genetika / Varietas Tahan
Varietas tahan belum ada. Varietas yang agak tahan (agak toleran) adalah Pandanwangi (cikoneng), jeruk manis, dan jeruk grape fruit.

e. Kimia
- Mengoleskan bubur California atau fungisida yang efektif berbahan aktif metil tiofanat dan siprokonazol pada bagian kulit batang / ranting tanaman yang sakit setelah dibersihkan lebih dulu, dan untuk pencegahan di daerah kronis endemis.
- Membersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

5. Penyakit Antraknosa

Penyebab :
Cendawan Colletotrichum gloeosporioides Penz., dengan bentuk sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Cendawan penyebab lainnya adalah Gloeosporium limetticolum Clausen.

Penyebaran :
Penyakit ini dikenal di semua negara penanam jeruk. Di Indonesia penyaki ini tersebar di Jawa, Bali, Kalimantan Barat, dan NTB.

Gejala :
Ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik - bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok.
Gejala antraknosa pada buah adalah adanya bercak / bintik - bintik coklat kemerahan atau coklat hitam, berbentuk bulat pada permukaan kulit buah, lama - lama menjadi cekung, mengeras dan kering.

Morfologi dan daur penyakit :
Aservulus dangkal, seta bersekat 1 - 2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah.

Tanaman inang lain :
Bawang - bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp (ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda.

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Penggunan bibit yang bukan berasal dari cangkokan.
- Menjaga agar tanaman pada kondisi optimum dengan memperbaiki kondisi tanah (drainase dan kesuburan tanah yang baik).
- Sanitasi terhadap bagian atau sisa - sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi, kemudian dibakar.

b. Kimiawi
Penggunaan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran.

6. Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)

Penyebab :
Cendawan Oidium tingitanium Carter, yang juga disebut Acrosporium tingitanium (carter) subr.

Penyebaran :
Penyakit ini menyebar di pertanaman jeruk di seluruh Indonesia. Di luar negeri terdapat di California, Brasilia, Panama, India, Sri Lanka, Filipina, Malaysia.

Gejala :
Cendawan ini dapat menyerang daun dan ranting - ranting muda atau bagian tanaman yang masih tumbuh aktif. Permukaan daun atau ranting-ranting muda tertutupi oleh lapisan tepung berwarna putih. Tepung putih ini merupakan massa dari konidia cendawan. Jaringan di bawah lapisan tepung tersebut berwarna hijau tua kebasah - basahan. Serangan berat menyebabkan daun - daun menjadi mengeriting atau mengalami penyimpangan bentuk (malformasi), mengering, tetapi daun - daun tetap melekat pada ranting - ranting tanaman.

Morfologi dan daur penyakit :
Apresorium membulat, konidium berbentuk tong dengan ujung - ujung yang membulat, tidak berwarna, berbutir halus. Konidium membentuk rantai yang terdiri dari 4 - 8 konidium. Penyebarannya dipencarkan oleh angin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :
Penyakit dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Serangan penyakit ini jarang terjadi di dataran rendah. Adanya tunas-tunas muda dan kelembaban tinggi merupakan kondisi yang baik bagi perkembangan patogen.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian :
a. Kultur teknis
Sanitasi terhadap tunas atau daun-daun terinfeksi yang tidak produktif.
b. Kimiawi
Penyemprotan dengan serbuk belerang atau penggunaan fungisida yang efektif, bila dijumpai serangan. Bila menggunakan serbuk belerang, untuk tanaman jeruk dibutuhkan 20 - 30 kg tepung belerang per hektar. Penghembusan tepung belerang hendaknya dilakukan pagi hari, saat bunga dan daun masih basah oleh embun. Bila penghembusan dilakukan saat hari telah panas dapat menimbulkan luka bakar pada bunga dan daun.

7. Jamur Upas

Penyebab :
Cendawan Corticium salmonicolor B. & B.

Penyebaran :
Tersebar luas di daerah penanaman jeruk di Indonesia.

Gejala :
Batang, cabang, dan ranting terlihat dilapisi oleh benang-benang mengkilat seperti sarang laba-laba(stadium membenang. Cendawan berkembang terus, masuk ke dalam kulit dan menyebabkan kulit membusuk. Daun - daun menjadi gugur, ranting dan cabang yang terserang dapat mengalami kematian, terdapat bintil - bintil spora (stadium membintil). Pada stadium lanjut warna merah jambu berubah menjadi abu-abu dan lapisan miselium membentuk bercak - bercak tak beraturan atau seperti kerak (stadium nekator).

Morfologi dan daur hidup
Morfologi pertumbuhan patogen pada tanaman mengalami 4 stadia yakni stadium membenang, stadium membintil, stadium kortisium dan stadium nekator. Stadium membenang merupakan perkembangan awal patogen. Patogen masuk secara mekanis.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Cendawan / penyakit akan berkembang bila kelembaban dan cahaya yang mengenai bagian tanaman, kurang

Tanaman inang lain :
Karet, kakao, kopi, teh dan cengkeh.

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Sanitasi dengan membuang bagian tanaman yang sakit. Pemotongan dilakukan pada bagian tanaman sehat, yaitu + 5 cm dari batas bagian tanaman yang sakit dan sehat. Luka yang terjadi ditutup dengan bahan penutup luka. Potongan bagian tanaman yang sakit dikumpulkan dan dibakar.
- Menjaga kebersihan kebun dan mencegah terjadinya kelembaban yang tinggi.

b. Kimiawi
Melabur bagian tanaman sakit dengan fungisida yang efektif bila dijumpai serangan, harus diiringi dengan pengendalian kutu - kutu daun dengan insektisida yang efektif.

8. Penyakit Kudis (Scab)

Penyebab :
Cendawan Sphaceloma fawcetti (Mc Alpin & Tyron) Jenkins

Penyebaran :
Penyakit kudis terdapat menyebar di pertanaman jeruk di indonesia. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Jepang, Florida, Teluk Meksiko, Australia, dan Argentina.

Gejala :
Gejala kudis dapat terjadi pada daun, ranting dan buah. Pada tanaman yang rentan gejala kudis menyerupai bintil - bintil kecil agak menonjol berwarna kuning atau orange. Kemudian bintil - bintil ini berubah menjadi coklat kelabu, bersatu, keras dan bergabus membentuk kerak. Pada daun, gejala kudis terdapat pada bagian bawah permukaan daun dan kadang-kadang dapat dijumpai pada bagian atasnya. Daun yang terserang berkerut dan gugur. Buah - buah yang terserang terhambat pertumbuhannya dan sering mengalami malformasi.

Morfologi dan daur penyakit :
Aservulus cendawan ini dapat terpisah - pisah atau bersatu, dan agak bulat. Konidiofor berbentuk tabung, dengan ujung meruncing, warna hialin, kemudian menjadi agak keruh dan bersekat 1 berwarna gelap.
Patogen dapat bertahan pada daun, dan ranting tanaman yang terinfeksi. Spora cendawan dapat disebarkan oleh percikan air hujan, tetesan embun, angin, dan serangga. Daun dan buah yang masih muda sangat mudah terinfeksi patogen ini.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Keadaan cuaca, tingkat ketahanan varietas, terbentuknya buah dan tunas baru sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Pada umumnya penyakit tidak berkembang pada musim kemarau, tetapi pada musim hujan, suhu udara antara 15 - 23 °C, dan tanaman sedang membentuk tunas dan buah baru, merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan patogen dan merupakan titik kritis terutama bila tanamannya rentan.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian :
a. Kultur teknis
- Penanaman varietas tahan
- Mengusahakan agar buah dan tunas tanaman pada awal musim hujan sudah besar dimana pada kondisi demikian tanaman menjadi lebih tahan.
- Mengatur saat pembuahan dapat dilakukan dengan menentukan saat pengairan tanaman yang tepat pada jenis jeruk tertentu. Unuk jeruk keprok, usahakan terjadi pembuangan lebih awal dengan pemberian air pada tanaman (+ 8 bulan sebelum musim hujan), sehingga pada awal musim hujan buah sudah agak besar dan mempunyai ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit.

b. Mekanis / Fisis
Serangan pada persemaian batang bawah dapat dicegah dengan penghembusan atau pemberian asap.

c. Kimiawi
Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penyemrpotan bubur Bordo 1,5 - 2 % atau disemprot dengan campuran Zink Zulfate – Cooper Sulfate dan kapur tohor dengan perbandingan 3 : 2 : 6 dalam 100 bagian air (dua kali penyemprotan awal berbunga dan setelah persarian).

9. Kanker

Penyebab :
Bakteri Xanthomonas compestris pv. Citri (Hasse) Dye. Yang juga dikenal dengan nama Xanthomonas compestris (Hasse Dowson), Pseudomonas citri Hasse dan Phytomonas citri (Hasse) Bergex.

Penyebaran :
Penyebaran ini terdapat diseluruh Indonesia. Di luar negeroi dilaporkan terdapat di India, Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan Malaysia. Penyakit ini termasuk penyakit yang cukup merugikan banyak jenis jeruk.

Gejala :
Pada daun dan buah terjadi luka yang timbul dari bercak berwarna hijau gelap, kebasah - basahan yang lalu mengering dengan bagian tengah terjadi pembentukan gabus berwarna coklat / kuning. Pada bagian tengah kulit tersebut terdapat celah - celah yang menyebabkan terjadinya lubang - lubang seperti kepundan.
Daun dan buah yang sakit kadang - kadang mengalami salah bentuk (malformasi) dan ukuran buah menjadi kecil - kecil.

Morfologi dan daur penyakit :
Bakteri berbentuk batang, membentuk rantai, berkapsul, tidak berspora dan bergerak dengan bulu cambuk polar. Patogen dapat bertahan pada bercak di daun, ranting, batang, atau tanah dan bertahan lebih lama pada jaringan kanker yang berkayu. Infeksi terjadi melalui stomata, lentisel, dan luka. Bakteri dapat tersebar melalui serangga.

Faktor - faktor yang mempengaruhi Penyakit :
Perkembangan patogen dipengaruhi oleh jenis tanaman dan keadaan lingkungan. Adanya embun yang sangat tebal pada keadaan lembab, bakteri keluar dari luka. Jenis keprok tahan terhadap penyakit ini sedang jeruk Delima, Pandanwangi dan Bali sangat rentan. Suhu antara 20 - 35 0C sangat menguntungkan bagi patogen untuk menginfeksi tanaman.

Tanaman Inang Lain :
Agle sp.,Atalantia sp., Feronia sp., Zoysia japonica (rumput).

Pengendalian :
a. Menggunakan kultivar yang tahan terhadap penyakit kanker.
b. Membersihkan alat - alat yang dipergunakan di pembibitan misalnya dengan alkohol 70%
c. Pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian tanaman yang terinfeksi penyakit.
d. Bila infeksi berat, tanaman diearadikasi, kemudian dibakar.
e. Pada intensitas serangan hebat, dapat dilakukan pengendalian dengan menyemprot daun - daun muda dan buah dengan fungisida Copper (misalnya bubur Bordo, Copper oxychloride). Penyemprotan dilakukan tepat sebelum pohon membentuk tunas - tunas baru, pada musim hujan. Sebelum terdapat serangan berat.

10. Embun Jelaga (Scooty Mold)

Penyebab : Cendawan Capnodium citri B. & Esm.

Penyebaran :
Terdapat pada setiap pertanaman jeruk, terutama bila dijumpai adanya kutu - kutu tanaman yang mengeluarkan embun madu yang mengandung zat gula.

Gejala :
Daun, ranting dan buah yang terserang dilapisi oleh lapisan tipis berwarna hitam. Pada musim kering lapisan ini dapat dikelupas memakai tangan atau terkelupas sendiri, dan mudah tersebar oleh angin. Buah yang tertutup oleh lapisan hitam ini, biasanya ukurannya lebih kecil dan mengalami kelambatan dalam pematangan. Gejala ini banyak terjadi pada pohon jeruk yang dijumpai kutu - kutu tanaman yang dapat mengeluarkan embun madu.

Marfologi dan daur penyakit :
Miselium berwarna coklat dan melekat pada permukaan daun atau bagian tanaman lainnya.

Faktor-faktor yang mempegaruhi penyakit :
Adanya kutu tanaman yang dapat mengeluarkan sekresi embun madu seperti Aleurodicus sp., Pseudococcus sp., dan Coccus viridis merupakan medium yang baik perkembangan cendawan. Kelembaban yang tinggi juga dapat mendorong perkembangan cendawan.

Tanaman Inang Lain :
Cengkeh, jambu, dan kopi

Pengendalian :
a. Mengendalikan kutu-kutu tanaman antara lain dengan pertisida yang efektif
b. Mengendalikan cendawan dengan fungisida yang efektif

11. Penyakit Ganggang

Penyebab :
Ganggang Cephaleuros virescens Kunse.

Penyebaran :
Semua pertanaman jeruk teruitama di daerah tropis

Gejala :
Bercak - bercak berbentuk bundar atau tidak beraturan pada daun - daun terserang. Bercak - bercak mempunyai tepi yng tidak jelas, permukaan bercak tertutup oleh sporangiofor. Bercak - bercak dapat berubah warnanya menjadi coklat kehijau - hijauan. Bila ranting terserang terlingkari, maka kulit ranting membengkak, membesar dan pecah - pecah. Pada serangan berat daun - daun berguguran. Pada buah akan tampak lapisan yang berwarna hijau gelap atau hitam yang agak tebal yang mengurangi kualitas buah. Namun lapisan ini biasanya terdapat pada buah - buah yang terlalu matang untuk dipasarkan.

Morfologi dan daur penyakit :
Ganggang ini tidak merupakan parasit asli. Pada beberapa jenis jeruk, ganggang nampak pada permukaan tanaman, menyebabkan gangguan pada lapisan kutikula, epidermis atau kulit luar

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Patogen ini berkembang baik dalam kondisi pertumbuhan tanaman lemah, drainase tanah kurang baik, sinar matahari langsung yang terik, kekurangan air, dan pemeliharaan tanaman yang kurang baik.

Tanaman inang lain :
Teh, cengkeh, dan kopi

Pengendalian :
a. Pemeliharaan tanaman yang baik, sehingga tanaman dapat tumbuh kuat (perbaikan drainase, penyiraman, pemupukan berimbang).
b. Penggunaan pestisida yang efektif bila dijumpai serangan.

12. Penyakit Buih atau Busa (Foam Disease)

Penyebab :
Penyebab penyakit belum diketahui. Namun kemungkinan disebabkan oleh kondisi pertanaman yang kurang baik.

Penyebaran :
Kalimantan Barat

Gejala :
Busa berwarna putih seperti buih terlihat keluar dari batang atau pada bidang pertemuan antara percabangan. Busa ini biasanya berbau tidak enak atau seperti bau alkohol. Kulit pada bagian yang mengeluarkan busa busuk dan apabila dikelupas sering terlihat kumbang - kumbang kecil baik dewasa maupun larvanya. Biasanya luka pada kulit tidak menyebar tetapi sembuh secara alami dengan meninggalkan bekas luka diameter 1 – 3 cm.

Morfologi dan daur hidup :
Penyebab penyakit belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan busa yang terbentuk disebabkan oleh fermentasi gula pada cairan tanaman oleh bermacam - macam cendawan atau yeast yang kemudian menarik kegiatan kumbang. Masuknya cendawan maupun yeast pada awalnya melalui alur sempit memanjang pada kulit yang diduga disebabkan oleh bekas rembesan atau aliran air yang terlalu berlebihan selama musim hujan. Penyakit dapat ditularkan oleh kumbang tanduk (Xylotrupes gideon), lalat dan serangga Caspophillus sp. Yang senang memakan atau mengisap bagian yang membusuk dan berbuih.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :
Penyakit ini sering terlihat pada kondisi sangat lembab, seperti umumnya daerah rawa yang airnya berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis batang bawah. Pada keadaan tertentu, luka bisa menyebar sampai melingkari cabang. Keadaan ini tidak berbahaya, kecuali bila timbul luka yang dapat digunakan sebagai jalan masuk Diplodia.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian :
a. Perbaikan drainase di sekitar kebun.
b. Menjaga kesuburan tanaman dengan pemberian air dan pupuk yang berimbang.
c. Bagian tanaman yang sakit dioles dengan campuran belerang atau belerang kapur.

13. Psorosis (Rimocorticus psorosis Fawc.) Holmes

Penyebab :
Virus atau Citrus Psorosis Virus (CPsV)

Penyebaran :
Jawa Timur, jawa Tengah, bali, Riau, kalimantan Barat. Penyebaran di negara lain adalah Florida, Laut Tengah, Afrika Selatan dimana banyak pohon yang tidak produktif akibat serangan penyakit ini.

Gejala :
Gejala awal adalah kematian pucuk atau ranting yang cepat yaitu 1 - 2 bulan setelah penularan. Pucuk dan ranting yang terbentuk setelah penularan mula - mula menguning daun-daunnya rontok, selanjutnya mengering. Gejala selanjutnya adalah garis - garis klorosis pada jaringan di sekitar tulang daun dan bercak - bercak klorosis yang tepinya bergerigi atau zigzag yang simetris di sekitar tulang daun tengah, 2 - 4 bulan setelah penularan gejala dan terlihat jelas pada daun - daun muda dan pada daun yang sudah menjadi tua gejalanya menghilang.
Pada varietas tertentu seperti jeruk manis menyebabkan pengelupasan kulit pada batang dan cabang (Bark scalling) pada 6 - 12 tahun setelah tertulari.

Morfologi dan daur penyakit :
Virus ini menular melalui mata tempel yang berasal dari tanaman terinfeksi. Penularan kemungkinan terbawa biji. Varietas yang sangat peka adalah jenis Sweet Lime, Tangelo, dan mandarin

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Penggunaan mata tempel yang berasal dari tanaman sakit dan penyebaran bibit ke lokasi lain akan membantu penyebaran dan perluasan serangan penyakit ini.

Pengendalian :
a. Menggunakan mata tempel yang sehat.
b. Mengeradikasi / pemusnahan bibit yang terserang penyakit dan mencegah penyebaran dan pemasarannya.
c. Sterilisasi alat - alat perbanyakan dengan alkohol 70 % atau klorok.

14. Exocortis (Scally Butt, Rangpur Lime Disease)

Penyebab :
Viroid atau Citrus Exocorris Virus(CEV).

Penyebaran :
Penyebaran Citrus Exocortis Viroid (CEV) di Indonesia belum banyak diketahui, tetapi telah ditemukan pada beberapa pertanaman jeruk di Kabupaten Malang (Jawa Timur) dan Bali. Di luar negeri penyakit ini dilaporkan terdapat di Australia.

Gejala :
Tanaman kerdil, meranggas, layu, produksi menurun dan akhirnya mati. Kulit mengelupas di sekeliling batang bawah yang peka terhadap penyakit ini. Viroid Exocortis dapat hadir dalam keadaan tanpa gejala di tanaman pembawa (carrier). Exorcotis tidak menunjukkan gejala pada jenis - jenis jeruk Sweet Orange, Grapefruit, Mandarin, Rough Lemon dan Sour Orange. Bila mata tempel yang terinfeksi dari tanaman yang tidak bergejala ditempelkan pada batang bawah yang peka maka, akan timbul tanaman yang berpenyakit Exocortis.

Morfologi dan daur hidup :
Viroid berada pada tanaman sebagai asam nuklead bebas tanpa selubung protein. Tahan lama dalam jaringan - jaringan tanaman yang kering atau sebagai kontaminan pada permukaan bagian tanaman yang kering, dan tetap dapat menginfeksi tanaman. Penularan melalui penggunaan mata tempel yang telah terinfeksi penyakit dan kontaminasi melalui peralatan perbanyakan.

Faktor - faktor yang mempengaruhi penyakit :
Viroid exorcotis tahan terhadap cara - cara pemanasan dan penggunaan bahan - bahan kimia.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian:
a. Gunakan mata tempel yang bebas exocortis.
b. Hindarkan penggunaan peralatan yang terkontaminasi penyakit dalam perbanyakan atau penanaman. Peralatan dapat dibersihkan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % atau campuran formaldehid dan sodium hidroksida
c. Penyebaran CEV di pembibitan dapat dihindari dengan memisahkan tanaman yang terinfeksi dengan tanaman yang sehat.

15. Cachexia Xyloporosis

Penyebab:
Viroid Cachexia Jeruk atau Citrus Cachexia Viroid (CCaV)

Penyebaran: Belum diketahui

Gejala:
Sebagian besar jenis dan varietas jeruk dapat terinfeksi oleh CCaV, tetapi umumnya tidak menunjukkan gejala. Varietas jeruk yang sangat rentan terhadap infeksi viroid ini adalah Tangelo Orlando dan Mandarin Parso’s Special. Kedua varietas ini meruapkan tanaman indikator terbaik untuk pengujian CCaV.

Gejala infeksi CCaV pada tanaman - tanaman indikator ini adalah terbentuknya bercak-bercak yang mengandung blendok (lendir kental berwarna coklat) pada jaringan kulit batang, minimum 1 tahun sejak terinfeksi. Pada permukaan dalam jaringan kulit terjadi tonjolan - tonjolan tumpul yang menyebabkan bagian kayu melekuk ke dalam. Gejala akan tampak lebih nyata pada kondisi suhu yang hangat (20-350C). tanaman jeruk yang terserang berat akan kerdil, daun - daun menguning, layu, mengering dan akhirnya mati.

Morfologi dan daur hidup penyakit :
Penyakit ini disebabkan oleh viroid yang informasinya belum banyak diketahui. Sifat viroid ini mirip dengan viroid exocortis yaitu mudah menular melalui penyambungan mata tempel dan secara mekanik melalui alat - alat pangkas. Viroid ini tidak menular melalui serangga ataupun biji.

Tanaman inang lain : Belum diketahui.

Pengendalian :
a. Menggunakan bahan perbanyakan tanaman yang sehat.
b. Bibit yang diketahui terkena penyakit harus segera dibongkar dan dimusnahkan.
c. Menjaga kebersihan peralatan dengan natrium hipoklorit 1 - 2 % (bahan aktif dalam larutan pencuci seperti “clorox”) dengan cara disemprotkan atau dicelupkan selama 10 detik. Bahan kimia ini sangat efektif dalam mematikan partikel - partikel viroid yang menempel pada alat - alat tersebut.

16. Puru Berkayu (Woody Gall)

Penyebab :
Virus puru berkayu jeruk atau Citrus Vein Enation – Woody Gall Virus (CVEV)

Penyebaran :
Di Indonesia dilaporkan terdapat di Jawa Tengah dan jawa Barat. Di luar negeri tersebar di Amerika, Australia, Afrika Selatan, Fiji, Peru dan India.

Gejala :
Pada tanaman jeruk nipis, infeksi CVEV menyebabkan munculnya tonjolan - tonjolan (enation) yang tersebar tidak beraturan pada tulang daun di permukaan bawah daun. Gejala ini mula - mula berukuran kecil dan mulai tampak pada daun - daun muda yang biasanya terjadi 2 - 3 bulan sejak penularan. Gejala tersebut semakin jelas bila daun menjadi tua. Pada tanaman terinfeksi, gejala tonjolan - tonjolan ini bisa terjadi pada sebagian atau seluruh daun.

Selain pada jeruk nipis, gejala tersebut kadang-kadang dijumpai pada jeruk manis, Siem, Rough lemon (RL) dan Sour Orange, tetapi biasanya lebih ringan dibandingkan pada jeruk nipis.

Pada tanaman jeruk yang disambung pada batang bawah RL, CVEV menyebabkan pembentukan puru - puru atau benjolan - benjolan (gall) pada daerah sambungan, sekitar 6 bulan sejak tertulari. Gejala ini mula-mula berukuran kecil berwarna hijau pucat, kemudian berkembang melebar dan membesar tak beraturan.

Morfologi dan daur penyakit :
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang belum banyak diketahui seluk beluknya. CVEV bersifat endemik di pertanaman jeruk. Virus dapat menular melalui penyambungan mata tempel dan di lapang melalui beberapa jenis kutu daun, yaitu T. citridus, A. gossypii dan M. persicae. Serangan CVEV hampir selalu bersamaan dengan virus Tristeza

Tanaman inang lain : Belum diketahui

Pengendalian :
a. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida.
b. Pemilihan pohon induk yang bebas virus, yang menghasilkan barang atas yang sehat.
c. Alat - alat yang dipakai dalam penempelan didisinfeksi dengan teratur.

Minggu, 03 April 2011

Macam-Macam Jenis Hama Tanaman dan Cara Pengendaliannya

HAMA TANAMAN

1. MORFOLOGI UMUM HAMA
Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar - dasar Perlintan akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis - jenis hama yang dijumpai di lapangan.

Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan - golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).
Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain - lain). Dalam uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar anggota filum tersebut.

A. FILUM ASCHELMINTHES

Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator (pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian - uraian selanjutnya.

Secara umum ciri - ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain adalah :

* Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)

* Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak

* Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.

Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan nematoda parasit.

Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet. Tipe stomatostylet tersusun atas bagian - bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet (bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Tylenchida.

Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda parasit ini antara lain adalah :

* Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain - lain.

* Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.

* Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.

B. FILUM MOLLUSCA

Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.

Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi.

C. FILUM CHORDATA

Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar - benar merupakan hama tanaman. Jenis - jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus.

1. Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)

Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C. nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama dijumpai pada daerah - daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera pada daerha dengan ketinggian sampai 1500 m.

Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang - kadang juga diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih teratur / rapi.

2. Keluarga tikus (fam. Muridae)

Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan antara lain, tikus rumah (Rattus - rattus diardi Jent); tikus pohon (Rattus - rattus tiomanicus Muller), serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver_Rob.&Kl).

Tikus rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu - abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11 - 20 cm dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah puting susunya ada 10 buah.

Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang - kadang agak keabu-abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah putting susunya ada 10 buah.

Tikus sawah memiliki ciri - ciri tubuh antara lain bulu - bulu tubuh bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16 - 22 cm serta jumlah puting susu ada 12 buah.

D. FILUM ARTHOPODA

Merupakan filum terbesar di antara filum - filum yang lain karena lebih dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda.

Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau Hexapoda (serangga).

1. Klas Arachnida

Tanda - tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah:

- Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax (gabungan caput dan thorax) dan abdomen.

- Tidak memiliki antene dan mata facet.

- Kaki empat pasang dan beruas - ruas.

Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau).

Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan dilengkapi dengan bulu - bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax dijumpai adanya empat pasang kaki.

Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian - bagian satu pasang chelicerae (masing - masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang pedipaalpus. Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai penusuk.

Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :

- Tetranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah / jingga pada daun ketela pohon.

- Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).

- Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).

2. Klas Insekta (Hexapoda / serangga)

Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk.

Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah:

- Tubuh terdiri atas ruas - ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga daerah, yaitu caput, thorax dan abdomen.

- Kaki tiga pasang, pada thorax.

- Antene satu pasang.

- Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang atau bahkan tidak bersayap sama sekali.

Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap - tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi.
Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga, sedang uraian singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta akan diberikan pada uraian selanjutnya.

Berdasarkan sifat morfologinya, maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Tipe larva

a. Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat / kupu (Lepidoptera)

b. Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan Scarabaeiform,

c. Apodus (Apodous), tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae (Coleoptera).

2. Tipe pupa

Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan (appendages), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga tipe :

a. Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.

b. Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.

c. Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.

Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.

A. Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting

a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)

Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.

Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena - vena menebal / mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.

Alat - alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap - tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).

Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing - masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.

Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur ---> nimfa ---> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :

- Kecoa (Periplaneta sp.)

- Belalang sembah / mantis (Otomantis sp.)

- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)

b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding

Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain.

Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.

Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas - ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.

Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.

Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :

- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)

- Kepik hijau (Nezara viridula L)

- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)

c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)

Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.

Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.

Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.

Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.

Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :

- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)

- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)

- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).

d. Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)

Anggota - anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.

Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.
Apabila istirahat, elytra seolah - olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.

Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.

Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong (pupa) ---> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas / libera.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)

- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)

- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)

Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.

Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik - sisik yang berwarna - warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.

Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.

Beberapa jenisnya antara lain :

- Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)

- Kupu gajah (Attacus atlas L)

- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)
f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.

Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :

- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum

- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum

- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- lalat buah (Dacus spp.)

- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)

- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)

- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).

g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)

Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator / parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.

Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.

Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.

Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva--> kepompong ---> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.

Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :

- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu / padi).

- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).

- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

h. Ordo Odonata (bangsa capung / kinjeng)

Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena - vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.

Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.

Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.

RANGKUMAN

Mengenal sifat - sifat morfologi luar dari binatang penyebab hama merupakan hal yang penting untuk mempermudah mengenali jenis - jenis hama yang ada di lapangan. Ada beberapa filum dalam dunia binatang yang sebagian dari anggotanya berpotensi menjadi hama tanaman, yakni Filum Aschelminthes, Mollusca, Chordata dan Athropoda.

Dalam filum Aschelminthes, anggota klas nematoda banyak yang berperan sebagai hama tanaman, misalnya anggota dari ordo Tylenchida, “Giantsnail”, Achatina fulica merupakan salah satu anggota filum Mollusca yang diketahui sering merusak berbegai jenis tanaman, baik tahunan maupun tanaman semusim.

Anggota ordo Rodentia, yakni tikus dan bajing merupakan anggota filum Chordata yang menjadi hama penting pada beberapa jenis tanaman. Anggota filum Chordata lain yang juga berpotensi menjadi hama tanaman adalah kera (Primates) dan babi (Ungulata).

Arthropoda merupakan filum terbesar dalam jumlah anggotanya, sehingga sebagian besar jenis hama tanaman merupakan anggota filum ini. Namun demikian, anggota filum ini khususnya dalam klas Arachida sebagian besar bertindak sebagai musuh alami hama, sedang dari klas Insekta sebagian dari anggotanya menjadi hama penting pada berbagai jenis tanaman dan yang lain ada pula yang berperan sebagai musuh alami hama.

2. CARA MERUSAK DAN GEJALA KERUSAKAN

Pembicaraan mengenai cara merusak dan gejala merusak yang diakibatkan oleh serangan hama khususnya dari serangga tidak dapat lepas dari pembicaraan mengenai morfologi alat mulut serangga hama. Dengan tipe alat mulut tertentu, serangga hama dalam merusak tanaman akan mengakibatkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman yang diserangnya. Karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala ataupun tanda serangan akan dapat membantu dalam mengenali jenis - jenis hama penyebab yang dijumpai di lapangan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula digunakan untuk menduga cara hidup ataupun untuk menaksir populasi hama yang bersangkutan.

Berdasarkan pada cara merusak dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya, maka hama-hama penyebab kerusakan pada tanaman dapat digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu hama penyebab gejala puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah, dan hama pengorok (miner)

RANGKUMAN

Jenis - jenis serangga dapat dikelompokkan berdasarkan tipe alat mulutnya. Dengan tipe alat mulut tertentu, perusakan tanaman oleh serangga akan meninggalkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman. Oleh karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala serangan akan memepermudah untuk mengetahui jenis hama penyebab kerusakan yang dijumpai di lapangan. Gejala kerusakan dalam bentuk intensitas serangan hama dapat juga digunakan untuk menduga tingkat populasi hama di lapangan.

Berdasarkan cara merusak dan tipe gejala, ada tujuh tipe yaitu hama penyebab puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah dan hama penggorok (miner).

3. TAKTIK PENGENDALIAN

Pada dasarnya, pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai aras yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk meenghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan populasinya sampai pada aras tertentu ynag secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan secara ekologi.

Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengelolaan / Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian yang akan diuraikan berikut ini mengacu pada buku karangan Metcalf (1975) dan Matsumura (1980) yang terdiri dari :

1. Pengendalian secara mekanik
2. Pengendalian secara fisik
3. Pengendalian hayati
4. Pengendalian dengan varietas tahan
5. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam
6. Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi
7. Pengendalian kimiawi

A. PENGENDALIAN MEKANIK

Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.

Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah - daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.

Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat - ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)

B. PENGENDALIAN FISIK

Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor - faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.

Bahan - bahan simpanan sering diperlakukan denagn pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.

Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara - cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.

C. PENGENDALIAN HAYATI

Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh - musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen - agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.

Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.

Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati. Beberapa kumbang Coccinella merupakan predator aphis atau jenis serangga lain yang baik pada fase larva maupun dewasanya. Contoh lain serangga yang bersifat sebagai predator adalah Chilocorus, serangga ini sekarang telah dimanfaatkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap hama kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada tanaman kelapa.

Agar predator dan tanaman ini sukses sebagai agen pengendali biologis terhadap serangga, maka harus dapat beradaptasi dulu dengan lingkungan tempat hidup serangga hama. Predator dan parasit itu harus dapat beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru. Parasit dan predator juga harus bersifat spesifik terhadap hama dan mampu mencari dan membunuhnya.

Parasit harus mempunyai siklus hidup yang lebih pendek daripada inangnya dan mampu berkembang lebih cepat dari inangnya. Siklus hidup parasit waktunya harus sinkron dengan inangnya sehingga apabila saat populasi inang meningkat maka saat peningkatan populasi parasit tidak terlambat datangnya. Predator tidak perlu mempunyai siklus hidup yang sama dengan inangnya, karena pada umumnya predator ini mempunyai siklus hidup yang lebih lama daripada inangnya dan setiap individu predator mampu memangsa beberapa ekor hama.

Baik parasit maupun predator mempunyai ratio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memiliki kemampuan meenyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga - serangga itu secara efektif mampu mencari inang atau mangsanya.

Beberapa parasit fase dewasa memerlukan polen dan nektar, sehingga untuk pelepasan dan pengembangan parasit pada suatu daerah, yang perlu diperhatikan adalah daerah tersebut banyak tersedia polen dan nektar yang nanti dapat digunakan sebagai pakan tambahan.

Parasit yang didatangkan dari suatu daerah, mula - mula dipelihara dahulu di karantina selama beberapa saat agar serangga ini mampu beradaptasi dan berkembang. Selama pemeliharaan di dalam karantina, serangga-serangga ini dapat diberi pakan dengan pakan buatan atau mungkin dapat pula digunakan inangnya yang dilepaskan pada tempat pemeliharaan. Setelah dilepaskan di lapangan populasi parasit ini harus dapat dimonitor untuk mengetahui apakah parasit iru sudah mapan, menyebar dan dapat berfungsi sebagai agen pengendali biologis yang efektif; dan bila memungkinkan serangga ini mampu mengurangi populasi hama relatif lebih cepat dalam beberapa tahun.

Contoh pengendalian biologis yang pernah dilakukan di Australia adalah pengendalian Aphis dengan menggunakan tabuhan chalcid atau pengendalian kutu yang menyerang jeruk dengan menggunakan tabuhan Aphytes.

Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.

Beberapa jenis bakteri, misal Bacillus thuringiensis secara komersial diperdagangkan dalam bentuk spora, dan bakteri ini dipergunakan untuk menyemprot tanaman seperti halnya insektisida. Yang bersifat rentan terhadap bahan ini adalah fase ulat, dan bilamana ulat-ulat itu makan spora, maka akhirnya bakteri akan berkembang di dalam usus serangga hama, akhirnya bakteri itu menembus usus dan masuk ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya larva akan mati.

Jamur dapat pula digunakan untuk mengendalikan serangga hama, sebagai contoh Entomorpha digunakan untuk mengendalikan Aphis yang menyerang alfafa; spesies Beauveria untuk mengendalikan ulat dan Metarrhizium anisopliae sekarang sudah dikembangkan secara masal dengan medium jagung. Jamur ini digunakan untuk mengendalikan larva Orycetes rhinoceros yang imagonya merupakan penggerek pucuk kelapa.

Lebih dari 200 jenis virus mampu menyerang serangga. Jenis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama adalah Baculovirus untuk menekan populasi Orycetes rhinoceros; Nuclear polyhidrosis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama Heliothis zeae pada tongkol jagung, bahan tersebut telah banyak digunakan di AS, Eropa dan Australia. Virus tersebut masuk dan memperbanyak diri dalam sel inang sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Inti dari sel - sel yang terserang menjadi besar, kemudian virus tersebut menuju ke rongga tubuh akhirnya inang akan mati.

Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :

1. Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).
2. Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.
3. Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.

D. PENGENDALIAN DENGAN VARIETAS TAHAN

Beberapa varietas tanaman tertentu kuran dapat diserang oleh serangga hama atau kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan varietas lain. Varietas tahan tersebut mempunyai satu atau lebih sifat-sifat fisik atau fisiologis yang memungkinkan tanaman tersebut dapat melawan terhadap serangan hama.

Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Toleransi

Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama. Toleransi ini sering juga tergantung pada kemampuan tanaman untuk mengganti jaringan yang terserang, dan keadaan ini berhubungan dengan fase pertumbuhan dan kerapatan hama yang menyerang pada suatu saat.

2. Antibiosis

Tanaman - tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga. Tanaman kapas yang mengandung senyawa gossypol dengan kadar tinggi mempunyai ketahanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang mengandung kadar yang lebih rendah, karena bahan kimia ini bekerja sebagai antibiosis terhadap jenis serangga tertentu.

3. Non prefens

Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat - sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur. Contoh pengendalian hama yang telah memanfaatkan varietas tahan adalah pengendalian terhadap wereng coklat pada tanaman padi, pengendalian terhadap kutu loncat pada lamtoro, pengendalian terhadap Empoasca pada tanaman kapas.

E. PENGENDALIAN HAMA DENGAN PENGATURAN CARA BERCOCOK TANAM

Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang bekerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkunagn hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya. Dengan mengganti jenis tanaman pada setiap musim, berarti akan memutus tersedianya makanan bagi hama-hama tertentu.

Sebagai contoh dalam pengendalian hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) diatur pola tanamnya, yakni setelah padi - padi, pada periode berikutnya supaya diganti dengan palawija. Cara ini dimaksudkan untuk menghentikan berkembangnya populasi wereng. Cara di atas dapat pula diterapkan pada hama lain, khususnya yang memiliki inang spesifik. Kebaikan dari pengendalian hama dengan mengatur pola tanam adalah dapat memperkecil kemungkinan terbentuknya hama biotipe baru. Cara - cara pengaturan pola tanam yang telah diterapkan pada pengendalian wereng coklat adalah :

a. Tanam serentak meliputi satu petak tersier (wikel) dengan selisih waktu maksimal dua minggu dan selisih waktu panen maksimal 4 minggu, atau dengan kata lain varietas yang ditanam relatif mempunyai umur sama. Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama, sehingga lebih mudah memantau dan menjamin efektifitas pengendalian, karena penyemprotan dapat dilakukan serentak pada areal yang luas.

b. Pergiliran tanaman meliputi areal minimal satu WKPP dengan umur tanaman relatif sama.

c. Pergiliran varietas tahan. Untuk daerah-daerah yang berpengairan baik, para petani pada ummnya akan menanam padi - padi sepanjang tahun. Kalau pola demikian tidak dapat diubah maka teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergiliran varietas yang ditanam. Pada pengendalian ini diusahakan supaya digunakan varietas yang mempunyai tetua berbeda, dengan demikian dapat menghambat terbentuknya wereng biotipe baru.

F. PENGENDALIAN HAMA DENGAN SANITASI DAN ERADIKASI

Beberapa jenis hama mempunyai makanan, baik berupa tanaman yang diusahakan manusia maupun tanaman liar (misal rumput, semak - semak, gulam dan lain - lain). Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.

Contoh pengendalian dengan eradikasi terhadap serangan hama wereng coklat adalah :

a. Pada daerah serangan wereng coklat tetapi bukan merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan pada tanaman padi yang telah puso. Pada daerah serangan berat eradikasi hendaknya diikuti pemberoan selama 1 - 2 bulan atau mengganti dengan tanaman selain padi.

b. Pada daerah serangan hama wereng yang juga merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan sebagai berikut :

1). Eradikasi selektif dilakukan pada padi stadia vegetatif yang terserang virus dengan intensitas sama dengan atau kurang dari 25 % atau padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus kurang dari 75 %.

2). Eradikasi total dilakukan terhadap pertanaman statdia vegetatif dengan intensitas serangan virus lebih besar dari 25 % atau pada padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus lebih besar sama dengan 75 %.

Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.

G. PENGENDALIAN KIMIA

Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.

Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :

a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain - lain.

b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing - cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.

c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang - binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain - lain.

d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5 / 5 Saturn D.

e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.

f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.

g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin - 5 - oksida (Staplex 10 WP).

Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).

Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :

1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.

2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain - lain.

Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :
1. Racun perut

Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.

Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :

a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu / rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan - bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.

b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.

c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.

d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.

2. Racun kontak

Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat - tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.

Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :

a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.

b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.

c. Minyak dan sabun.

d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.

3. Racun pernafasan

Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ - organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.

4. Racun Syaraf

Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).

5. Racun Protoplasmik

Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam - logam berat (air raksa dan tembaga).

6. Racun penghambat khitin

Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.

8. Racun sistemik

Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun.

Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi). Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air.

Untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat serta memperoleh efektifitas pengendalian yang tinggi maka oleh perusahaan pestisida, satu bahan aktif dibuat dalam bermacam-macam formulasi.

Tujuan dari formulasi ini adalah :

1. Mempermudah penyimpanan.

2. Mempermudah penggunaan.

3. Mengurangi daya racun yang berlebihan.

Pestisida terbuat dari campuran antara dua bahan, yaitu bahan aktif (bahan pestisida yang mempunyai daya racun) dan bahan pembawa / inert (bahan pencampur yang tidak mempunyai daya racun).

Macam-macam formulasi yang banyak dibuat oleh perusahaan pembuat pestisida adalah :

1. Formulasi dalam bentuk cairan

a. Cairan yang diemulsikan.

Biasanya ditandai dengan kode EC (Emulsifeable Concentrate) yaitu cairan yang diemulsikan. Pestisida ini dalam bentuk asli berwarna bening setelah dicampur air akan membentuk emulsi yang berwarna putih susu. Contoh : Dharmabas 50 EC, Bassa 50 EC dan lain - lain.

b. Cairan yang dapat dilarutkan.

Formulasi ini biasanya ditandai dengan kode WSC atau SCW yaitu kependekan dari Soluble Concentrated in Water. Pestisida ini bila dilarutkan dalam air tidak terjadi perubahan warna (tidak membentuk emulsi sehingga cairan tersebut tetap bening). Contoh : Azodrin 15 WSC.

2. Bentuk Padat

a. Berupa tepung yang dapat dilarutkan, dengan kode SP (Soluble Powder). Penggunaannya disemprotkan dengan sprayer. Contoh : Sevin 85 SP.

b. Berupa tepung yang dapat dibasahi dengan merek dagang WP (Weatable Powder). Pestisida ini disemprotkan dengan dicampur air. Karena sifatnya tidak larut sempurna, maka selama menyemprot seharusnya disertai dengan pengadukan secara terus-menerus.Contoh: Aplaud 10 WP.

c. Berupa butiran dengan kode G (Granulair). Aplikasi pestisida ini adalah dengan menaburkan atau membenamkan dekat. Contoh : Furadan 3 G, Dharmafur 3 G.

d. Campuran umpan (bait). Pestisida ini dicampur dengan bahan makanan yang disukai hama, kemudian diumpankan. Contoh : Klerat RMB.

RANGKUMAN

Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.

Falsafah pengendalian hama yang digunakan adalah Pengelolaan / Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT tidak pernah mengandalkan satu taktik pengendalian saja dalam memcahkan permasalahan hama yang timbul, melainkan dengan tetap mencari alternatif pengendalian yang lain.

Beberapa taktik pengendalian hama yang dikenal meliputi : taktik pengendalian secara mekanis, fisis, hayati, dengan varietas tahan, mengatur pola tanam, sanitasi dan eradikasi, dan cara kimiawi.