Tampilkan postingan dengan label Pertanian Modern. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian Modern. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2011

Macam -Macam Media Tanam

Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak selalu sama. Di Asia Tenggara, misalnya, sejak tahun 1940 menggunakan media tanam berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa, kulit kelapa, atau batang pakis. Bahan-bahan tersebut juga tidak hanya digunakan secara tunggal, tetapi bisa dikombinasikan antara bahan satu dengan lainnya.
Misalnya, pakis dan arang dicampur dengan perbandingan tertentu hingga menjadi media tanam baru. Pakis juga bisa dicampur dengan pecahan batu bata.
Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam, seorang hobiis harus memiliki pemahaman mengenai karakteristik media tanam yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya. 8erdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.

A. Bahan Organik

Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.

Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi.

8eberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam di antaranya arang, cacahan pakis, kompos, mosS, sabut kelapa, pupuk kandang, dan humus.

1. Arang

Arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat coeok digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembapan tinggi. Hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam )umlah banyak. Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Dengan demikian, jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan.

Selain itu, bahan media ini juga tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur atau eendawan yang dapat merugikan tanaman. Namun, media arang eenderung miskin akan unsur hara. Oleh karenanya, ke dalam media tanam ini perlu disuplai unsur hara berupa aplikasi pemupukan.

Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang dipeeah menjadi potongan-potongan keeil terlebih dahulu sehingga memudahkan dalam penempatan di dalam pot. Ukuran peeahan arang ini sangat bergantung pada wadah yang digunakan untuk menanam serta jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk mengisi wadah yang memiliki diameter 15 em atau lebih, umumnya digunakan peeahan arang yang berukuran panjang 3 em, lebar 2-3 em, dengan ketebalan 2-3 em. Untuk wadah (pot) yang lebih keeil, ukuran peeahan arang juga harus lebih kecil.

2. Batang Pakis

Berdasarkan warnanya, batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang pakis hitam dan batang pakis coklat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam lebih umum digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu, batang pakis ini pun mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis.

Selain dalam bentuk cacahan, batang pakis juga banyak dijual sebagai media tanam siap pakai dalam bentuk lempengan persegi empat. Umumnya, bentuk lempengan pakis digunakan sebagai media tanam anggrek. Kelemahan dari lempengan batang pakis ini adalah sering dihuni oleh semut atau binatang-binatang kecillainnya.

Karakteristik yang menjadi keunggulan media batang pakis lebih dikarenakan sifat-sifatnya yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.

3. Kompos

Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut dikenal 2 peranan kompos yakni soil conditioner dan soil ameliorator. Soil ( ondotioner yaitu peranan kompos dalam memperbaiki struktur tanah, terutama tanah kering, sedangkan soil ameliorator berfungsi dalam Il1emperbaiki kemampuan tukar kation pada tanah.

Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu Ydng telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan I IL,rubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.

4. Moss

Moss yang dijadikan sebagai media tanam berasal dari akar paku-pakuan, atau kadaka yang banyak dijumpai di hutan-hutan. Moss sering digunakan sebagai media tanam untuk masa penyemaian sampai dengan masa pembungaan. Media ini mempunyai banyak rongga sehingga memungkinkan akar tanaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa.

Menurut sifatnya, media moss mampu mengikat air dengan baik serta memiliki sistem drainase dan aerasi yang lancar. Untuk hasil tanaman yang optimal, sebaiknya moss dikombinasikan dengan media tanam organik lainnya, seperti kulit kayu, tanah gambut, atau daun-daunan kering.

S. Pupuk kandang

Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.

Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan sebelum diaplikasikan sebagai media tanam.

Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.

6. Sabut kelapa (coco peat)

Sabut kelapa atau coco peat merupakan bahan organik alternatif yang dapat digunakan sebagai media tanam. Sabut kelapa untuk media tanam ,I 'iJdiknya berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat.

Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sebaiknya dilakukan di daerah yang bercurah hujan rendah. Air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan media tanam ini mudah lapuk. Selain itu, tanaman pun menjadi cepat membusuk sehingga bisa menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi pembusukan, sabut kelapa perlu direndam terlebih dahulu di dalam larutan fungisida. Jika dibandingkan dengan media lain, pemberian fungisida pada media sabut kelapa harus lebih sering dilakukan karena
sifatya yang cepat lapuk sehingga mudah ditumbuhi jamur.

Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai untuk daerah panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).

7. Sekam padi

Sekam padi adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.

Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk.

Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.

8. Humus
Humus adalah segala macam hasil pelapukan bahan organik oleh Jasad mikro dan merupakan sumber energi jasad mikro tersebut. Bahanbahan organik tersebut bisa berupa jaringan asli tubuh tumbuhan atau binatang mati yang belum lapuk. Biasanya, humus berwarna gelap dan ciijumpai terutama pada lapisan atas tanah (top soil)

Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah. dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bias menyimpan unsur hara. Oleh karenanya, dapat menunjang kesuburan tanah, Namun, media tanam ini mudah ditumbuhi jamur, terlebih ketika tl'rjadi perubahan suhu, kelembapan, dan aerasi yang ekstrim. Humus Juga memiliki tingkat porousitas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air, Dengan demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media lain yang memiliki porousitas tinggi, misalnya tanah dan pasir.

B. Bahan Anorganik

Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan o/eh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi.
Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju. Selain itu, bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermikulit, dan perlit.

1. Gel

Gel atau hidrogel adalah kristal-kristal polimer yang sering digunakan sebagai media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media jenis ini sangat praktis dan efisien karena tidak perlu repot-repot untuk mengganti dengan yang baru, menyiram, atau memupuk. Selain itu, media tanam ini juga memiliki keanekaragaman warna sehingga pemilihannya dapat disesuaikan dengan selera dan warna tanaman. Oleh karenanya, hal tersebut akan menciptakan keindahan dan keasrian tanaman hias yang diletakkan di ruang tamu atau ruang kerja.

Hampir semua jenis tanaman hias indoor bisa ditanam dalam media ini, misalnya philodendron dan anthurium. Namun, gel tidak eaeak untuk tanaman hias berakar keras, seperti adenium atau tanaman hias bonsai. Hal itu bukan dikarenakan ketidakmampuan gel dalam memasok kebutuhan air, tetapi lebih dikarenakan pertumbuhan akar tanaman yang mengeras sehingga bisa membuat vas pecah. Sebagian besar nursery lebih memilih gel sebagai pengganti tanah untuk pengangkutan tanaman dalam jarak jauh. Tujuannya agar kelembapan tanaman tetap terjaga.

Keunggulan lain dari gel yaitu tetap cantik meskipun bersanding dengan media lain. Di Jepang gel digunakan sebagai komponen terarium bersama dengan pasir. Gel yang berwarna-warni dapat memberi kesan hidup pada taman miniatur tersebut.

2. Pasir

Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.

Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses :o::misahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau ~'lgin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan ::emupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.

Penggunaan pasir seoagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman.

Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah yang bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk :gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci :erlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat ,enyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).

3. Kerikil

Pada dasarnya, penggunaaan kerikil sebagai media tanam memang :idakjauh berbeda dengan pasir. Hanya saja, kerikil memiliki pori-pori makro lebih banyak daripada pasir. Kerikil sering digunakan sebagai media untuk budi daya tanaman secara hidroponik. Penggunaan media ini akan membantu peredaran larutan unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak menekan pertumbuhan akar. Namun, kerikil memiliki kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga mudah basah dan cepat kering jika penyiraman tidak dilakukan secara rutin.

Seiring kemajuan teknologi, saat ini banyak dijumpai kerikil sintesis. Sifat kerikil sintesis cenderung menyerupai batu apung, yakni memiliki rongga-rongga udara sehingga memiliki bobot yang ringan. Kelebihan kerikil sintesis dibandingkan dengan kerikil biasa adalah kemampuannya yang cukup baik dalam menyerap air. Selain itu, sistem drainase yang dihasilkan juga baik sehingga tetap dapat mempertahankan kelembapan dan sirkulasi udara dalam media tanam.

4. Pecahan batu bata

Pecahan batu bata juga dapat dijadikan alternatif sebagai media tanam. Seperti halnya bahan anorganik lainnya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan akar. Sebaiknya, ukuran batu-bata yang akan digunakan sebagai media tanam dibuat keeil, seperti kerikil, dengan ukuran sekitar 2-3 em. Semakin keeil ukurannya, kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara akan semakin balk. Selain itu, ukuran yang semakin keeil juga akan membuat sirkulasi udara dan kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik.

Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media tanam ini adalah kondisinya yang miskin hara. Selain itu, kebersihan dan kesterilan pecahan batu bata yang belum tentu terjamin. Oleh karena itu, penggunaan media ini perlu ditambahkan dengan pupuk kandang yang komposisi haranya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Walaupun miskin unsur hara, media pecahan batu bata tidak mudah melapuk. Dengan demikian, pecahan batu bata cocok digunakan sebagai media tanam di dasar pot karena memiliki kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Tanaman yang sering menggunakan pecahan batu bata sebagai media dasar pot adalah anggrek.

5. Spons (floralfoam)

Para hobiis yang berkecimpung dalam budi daya tanaman hias sudah sering memanfaatkan spans sebagai media tanam anorganik. Dilihat dari sifatnya, spans sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan ditempatkan di mana saja. Walaupun ringan, media jenis ini tidak membutuhkan pemberat karena setelah direndam atau disiram air akan menjadi berat dengan sendirinya sehingga dapat menegakkan tanaman.

Kelebihan lain dari media tanam spans adalah tingginya daya serap terhadap air dan unsur hara esensial yang biasanya diberikan dalam bentuk larutan. Namun, penggunaannya tidak tahan lama karena bahannya mudah hancur. Oleh karena itu, jika spans sudah terlihat tidak layak pakai (mudah hancur ketika dipegang), sebaiknya segera diganti dengan yang baru. Berdasarkan kelebihan dan kekurangannya tersebut, spans sering digunakan sebagai media tanam untuk tanaman hias bunga potong (cutting flower) yang penggunaannya eenderung hanya sementara waktu saja.

6. Tanah liat

Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori berukuran keeil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang eukup kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara. Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.

Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, eangkok, dan bonsai.

7. Vermikulit dan perlit

Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan dari pemananasan kepingan-kepingan mika serta mengandung potasium dan H',lum. Berdasarkan sifatnya, vermikulit merupakan media tanam yang memiliki kemampuan kapasitas tukar kation yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat jenis, dan meningkatkan daya serap air jika digunakan sebagai campuran media tanaman. Jika digunakan sebagai campuran media tanam,

vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya absorpsi air sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar tanaman.

Berbeda dengan vermikulit, perlit merupakan produk mineral berbobot ringan serta memiliki kapasitas tukar kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai campuran media tanam, fungsi perlit sama dengan Vermikulit, yakni menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya serap air.

Penggunaan vermikulit dan perlit sebagai media tanam sebaiknya dikombinasikan dengan bahan organik untuk mengoptimalkan tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara.

8. Gabus (styrofoam)

Styrofoam merupakan bahan anorganik yang terbuat dari kopolimer styren yang dapat dijadikan sebagai alternatif media tanam. Mulanya, styrofoam hanya digunakan sebagai media aklimatisasi (penyesuaian diri) bagi tanaman sebelum ditanam di lahan. Proses aklimatisasi tersebut hanya bersifat sementara. Styrofoam yang digunakan berbentuk kubus jengan ukuran (1 x 1 x 1) cm.

Sekarang, beberapa nursery menggunakan styrofoam sebagai campuran media tanam untuk meningkatkan porousitas media tanam. Jntuk keperluan ini, styrofoam yang digunakan dalam bentuk yang sudah dihancurkan sehingga menjadi bola-bola kecil, berukuran sebesar biji kedelai. Penambahan styrofoam ke dalam media tanam membuatnya menjadi ringan. Namun, media tanam sering dijadikan sarang oleh semut.

Budidaya Cabe Menggunakan Mulsa Plastik

Teknik budidaya dengan system mulsa plastic hitam perak(MPHP) merupakan pengembangan teknologi system mulsa plastic untuk berbagai usaha tani tanaman sayuran dan buah-buahan yang dirintis oleh negara Jepang dan Taiwan. MPH ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwana hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam dimaksudkan untuk menutup permukaan tanah , sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya. Teknik budidaya tanaman dengan system MPH banyak memiliki keuntungan, antara lain cukup efektif dalam menjaga tanaman dari serangan hama maupun virus penyakit, mampu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan tanah atau kegemburan tanah, serta dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah sehingga menghemat biaya usaha budidaya.
Penggunaan system MPHP kini telah berkembang di Indonesia, termasuk pada usaha budidaya cabai hibrida. Alasan utama penggunaan system MPHP dalam usaha budidaya cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa sehingga secara ekonomis menguntungkan. Di samping itu, budidaya cabai hibrida dengan system MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Adapun kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida dengan system MPHP meliputi:

A. Penyiapan Lahan
Dua hal penting untuk diperhatikan dalam penyiapan lahan kebun cabai hibrida dengan system MPHP adalah pemilihan lahan yang memenuhi persyaratan dan tahapan cara pengolahan tanah.
Adapun persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida dengan system MPHP yaitu:
1. Tempatnya harus terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh.
2. Lahan bukan bekas penanaman tanaman yang sefamili, seperti kentang,
tomat, terung ataupun tembakau, untuk menghindari resiko serangan
penyakit.
3. Lahan yang paling baik berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak
perlu membajak cukup berat.
4. Lahan tegalan(tanah kering) dapat digunakan asalkan cukup tersedia air.
Sedangkan tahap-tahap pengolahan tanahnya dilakukan dengan tata
cara sebagai berikut:
1. Pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman
sebelumnya.
2. Pembajakan atau pengolahan lahan sedalam 30 cm- 40 cm , kemudian di
kering-anginkan selama 7 hari sampai 14 hari.
3. Pembuatan bedengan-bedengan selebar 110 cm-120 cm, tinggi 40 cm-50
cm,lebar parit 60 cm – 70 cm, dan panjang bedengan sebaiknya tidak lebih
dari 12 meter. Kedalaman parit untuk tanah yang banyak mengandung
air(mudah becek) sebaiknya dibuat sedalam 60 cm-70 cm.
4. Pembuatan parit keliling selebar dan sedalam 70 cm untuk pemasukan dan
pengeluaran air.
5. Pemberian pupuk kandang( kotoran ayam, domba, kambing, sapi, ataupun
kompos) yang telah matang sebanyak 1 kg -1,5 kg per tanaman atau Super
TW plus 4 ton -5 ton per hektar.
6. Pengapuran sebanyak100 gr – 125 gr per tanaman. Pupuk kandang dan
kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil
dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin-anginkan selama kurang lebih 2
minggu. Sebagai catatan jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000
tanaman hingga 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 cm x 70 cm, maka
memerlukan pupuk kandang 18 ton - 30 ton atau Super TW plus 4 ton – 5
ton, dan kapur pertanian 1,8 ton – 2 ton berupa Calcit atau Dolomit atau
Zeagro-1.

B. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar , dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan(kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih kurang lebih 180 gram atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram.
Benih cabai dapat disemai langsung satu persatu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air air dingin ataupun air hangat bersuhu 55°C - 60°C selama 15 menit hingga 30 menit untuk mempercepat proses perkecambahan dan mencucihamakan benih tersebut.

Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK yang dihaluskan serta Furadan atau Curater. Pedoman untuk campuran adalah tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang dan halus(1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK yang dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan atau campuran tanah 1 bagian + pupuk organic Super TW plus 6 bagian (1:6). Bahan media semai tersebut dicampur secara merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90 % penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1-1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Selanjutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama kurang lebih 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah(lembap) selama kurang lebih 3 hari.

Benih cabai yang telah tampak keluar bakal akarnya sepanjang 2 mm – 3 mm dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag pada prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat Bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak.
Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, atau dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 cm – 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bamboo beratapkan plastic bening (transparan) ataupun jaringan net kassa.
Selama bibit di persemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali sehari atau tergantungcuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gram per liter air saat tanaman muda berumur 10-15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

C. Pemasangan MPHP
Bedengan yang akan ditutup dengan MPHP terlebih dahulu harus dipupuk dengan pupuk buatan secara total sekaligus. Perhitungan dosis dan jenis pupuk untuk setiap bedengan dapat diambil contoh sebagai berikut : misalnya, panjangan bedengan 12 meter, jarak tanam 60 cm x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah kurang lebih 4 kg yang terdiri dari perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 KCl dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 Furadan.

Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian, bedengan diratakan kembali sambil dirapikan dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah.

Pemasangan MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 2 siang hingga pukul 4 sore, agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan MPHP ini minimal dilakukan oleh dua orang. Caranya adalah kedua ujung MPHP ditarik ke setiap ujung bedengan arah memanjang. Kemudian, MPHP dikuatkan dengan pasak bilah bamboo berbentuk huruf U yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya, lembar MPHP ditarik pula ke bagian sisi kiri kanan(lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. MPHP yang telah terpasang dan menutup permukaan bedengan dikuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 cm – 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP ini dibiarkan kurang lebih 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.

D. Penanaman
Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari dan bibit cabai telah berumur 17 hari hingga 23 hari atau berdaun 2 helai sampai 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam terlebih dahulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 cm x 70 cm atau 70 cm x 70 cm dan untuk cabai paprika 50 cm x 70 cm atau 60 cm x 70 cm.
Untuk membuat lubang tanam dapat digunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi disi arang. Penggunaan alat ini dilakukan dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian, MPHP akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter kurang lebih 6 cm – 8 cm. Selain itu, pelubangan MPHP juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat Bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah menutup calon lubang tanam yang telah ditetapkan dengan kaleng bekas susu tersebut, kemudian memutar kaleng itu sambil menekannya ala kadarnya sehingga terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cater dengan cara dikeratkan langsung pada MPHP berbentuk bulatan kecil.

Bibit cabai hibrida yang siap dipindah-tanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian, bibit diredam bersama dengan polybagnya dalam larutan fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis 0,5 gr – 1 gr per lter air selama 15 menit hingga 30 menit untuk mencegah penularan hama dan penyakit. Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara hati-hati. Caranya adalah polybag yang berisi bibit dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk secara perlahan-lahan dan hati-hati sehingga bibit cabai keluar bersama akar dan mediannya. Bibit cabai hibrida yang telah dikeluarkan dari polybag siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia.

Cara penanaman bibit cabai mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag. Kemudian , bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya sambil sedikit dipadatkan. Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag ini begitu dipindah-tanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Bibit cabai yang telah ditanam tersebut segera disiram air sampai tanahnya cukup basah.
Untuk penanaman cabai hibrida jenis paprika, selain dapat dilakukan pada bedengan bermulsa plastik, juga dapat dilakukan dalaam polybag berdiameter 20 cm-30 cm. Sedangkan tata cara penanaman cabai paprika dalam polybag adalah sebagai berikut:
1. Siapkan polybag yang telah dilubangi pada bagian dasarnya untuk
pembuangan air (drainase).
2. Siapkan media berupa campuran tanah dengan pupuk kandang ( 1 : 1 )atau
tanah dengan pupuk organic Super TW plus ( 5:1 ) atau arang sekam padi
yang dibakar setengah matang untuk system hidroponik.
3. Isikan (masukkan) media ke dalam polybag hingga 90 % tampak penuh.
4. Tanamkan bibit cabai paprika pada polybag yang tersedia. Tiap polybag ditanami satu bibit cabai paprika.
5. Siram media dalam polybag hingga cukup basah.


Harus diingat bahwa cabai paprika sifatnya peka terhadap sinar matahari sehingga perlu diberi naungan beratap plastic bening(transparan). Jika tidak diberi naungan, maka cabai paprika akan banyak menalami kerontokan buah dan terbakar sinar matahari. Pemasangan kerangka naungan ini dapat dilakukan per bedengan atau dua bedengan bahkan tiap empat bedengan sekaligus, tergantung pada kepraktisan dan keterseiaan bahan.

Adapun tata cara pemasangan naungan(sungkup) untuk cabai paprika yaitu:
a. Pasang tiang-tiang dari bambu gelondongan setinggi 50 cm – 80 cm di
bagian pinggir bedengan dan arahnya memanjang pada jarak tiap 3 m–4 m.
b. Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan setengah lingkaran
setinggi 160 cm – 200 cm dari permukaan tanah. Caranya adalah dengan
memasukkan ujung bilah bamboo ke dalam lubang bambu gelondongan
yang letaknya berpasangan.
c. Hubungkan antara kerangka sungkup yang satu dengan yang lainnya
memakai bilah bambu yang dipasang memanjang, kemudian ikat dengan
tali kawat hingga akhirnya sungkup(kerangka) naungan siap dipasangi atap
plastik bening.
d. Pasang atap plastik bening, dan kuatkan dengan tali pengikat agar btidak
mudah lepas oleh terpaan angin.

E. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau vaietas cabai hibrida pada umumnya adalah sebagai berikut :

1. Pemasangan(Turus)
Cabai hibrida umumnya berbuah lebat sehingga untuk menopang
pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta supaya tidak rebah perlu
dipasang ajir(turus) dari bilah bamboo setinggi 125 cm, lebar kurang lebih 4 cm dan tebalnya kurang lebih 2 cm. Ajir ini dipasang (ditancapkan) tegak atau miring 45° . Tiap tiga tanaman satu ajir atau tiap tiap tanaman satu ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir yang satu dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang(gelagar) atau tali rafia atau tali kain bekas kaos tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah.

Pemasangan ajir harus sedini mungkin ,yakni pada saat tanaman belum berumur satu bulan setelah pindah tanam. Pemasangan ajir secara dini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu pemasangan ajir. Batang cabai diikatkan pada ajir dengan system pengikatan melingkar bentuk angka delapan. Pemasangan ajir untuk cabai paprika dapat dilakukan pada setiap tanaman.

2. Pengairan(penyiraman)
Fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun membutuhkan penyiraman secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara leb setiap 3 hari sampai 4 hari sekali. Pengairan dengan cara leb ini cukup sampai batas antara tanah bagian bawah denan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, air dapat segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang penyakit layu.
Lahan tertentu yang tidak mungkin dilakukan pengairan dengan cara leb dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang yang dialirkan di antara empat tanaman. Ujung selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di tengah –tengah bedengan.

Tanaman cabai hibrida di bawah umur empat puluh hari memerlukan pengairan yang intensif dan rutin. Tanaman cabai yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak, tetapi keadaan tanah harus tetap dijaga agar tidak kekeringan.

3. Perempelan
Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan menganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, tunas-tunas samping ini perlu dirempel(dibuang).

Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara tujuh hari hingga dua puluh hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, perempelan tunas dihentikan. Perempelan tunas ini biasanya dilakukan dua kali hingga tiga kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat.
Bunga pertama yang muncul di sela-sela percabangan pertama juga harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang nlebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat.

Tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 hari hingga 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal. Daun –daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama ataupun penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan sering kali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal sebab pertumbuhan cabang belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua justru dapat menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun.


4. Pemupukan Tambahan(Susulan)
Tanaman cabai hibrida , sekalipun sudah dipupuk total pada saat akan MPHP, tetap perlu diberi pupuk tambahan(susulan) agar pertumbuhannya menjadi subur. Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif ( daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan nitrogennya tinggi, misalnya pupuk Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan pupuk daun adalah antara 10 hari hingga 14 hari sekali. Dosis atau konsentrasi pemupukan mengikuti label yang tertera pada kemasan pupuk daun tersebut.

Cabai hibrida pada saat fase pertumbuhan bunga dan buah (generatif) masih memerlukan pemberian pupuk daun yang mengandung unsure fosfor dan kalium tinggi, misalnya Complesal merah, Kemira merah, ataupun Growmore Kalsium.

Pertumbuhan bunga dan buah pada tanaman cabai yang berumur 50 hari dapat dipacu dengan pupuk susulan berupa NPK tablet komposisi N, P2O5, K2O, CaO (14-21-8-1 + mikro) dosis 1 tablet per pohon atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak kurang lebih 4 sendok makan. Cara pemberian pupuk adalah dengan melubangi MPHP di antara empat tanaman. Kemudian, pupuk diusahakan melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk dengan tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah.

Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan, terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah NPK sebanyak 4 kg – 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air(1 drum). Pemberian pupuk adalah dengan cara dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 cc – 500 cc atau tergantung pada kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukan dengan alat Bantu corong atau selang sepanjang 0,5 m -1 m yang dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk larutan ini dapat dilakkan setiap dua minggu sekali.

Varietas cabai hibrida umumnya bias berbuah cukup lama sehingga dapat dipanen beberapa kali(dua belas kali hingga empat belas kali), terutama pada cabai hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai panen, perlu dilakukan pemupukan susulan untuk mempertahankan produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuk susulan adalah NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl(1 : 1 : 1 : 1) sebanyak dua sendok per tanaman yang diberikan di antara dua tanaman cabai bagian kiri dan kanan. Untuk pemberian pupuk susulan pada tanaman cabai dalam kondisi pertumbuhan tanaman cabai yang bagus cukup sebulan sekali. Cara pemupukannya dapat dilakukan dengan cara dikocor(disiram) ataupun disemprot dengan larutan pupuk organic Yease + Great, Strong, Excellent, Amino Age, Flaurisher, atau Harmony-P dengan konsentrasi yang tertera pada labelnya.

Pemupukan nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan memakai dua macam sumber N, yaitu ZA dan Urea. Hasil penelitian Balithor Lembang menunjukkan bahwa campuran Urea dan ZA dengan proporsi ZA yang banyak ternyata pengaruhnya lebih positif terhadap peningkatan hasil buah cabai. Pupuk ZA, selain mengandung unsure nitrogen, juga kaya akan unsur belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan cabai hibrida secara optimal.



5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Strategi(taktik) pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam.

Adapun hama dan penyakit tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali. Berikut adalah berbagai jenis hama dan penyakit tanaman cabai dan cara pengendaliannya:
A. Hama Cabai
Hama-hama penting yang umum menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut:
1. Ulat Grayak(Spodoptera Litura F.)
Ulat yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuningan pada sisinya ini sering merusak tanaman cabai di musim kemarau dengan cara memakan daun dan buahnya mulai dari bagian tepi hingga menyebar ke bagian atas dan bawah. Serangan ulat grayak ini menyebabkan daun dan buah cabai berlubang secara tidak beraturan sehingga menghambat proses fotosintesis. Akibatnya produksi cabai akan menurun.

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Pengendalian secara mekanis , yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya
dan langsung membunuhnya.
b. Pengendalian secara kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari
gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama,
serta melakukan rotasi tanaman.
c. Pengendalian secara kimiawi , yakni sebagai berikut:
1) Pemasangan Sex Pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh
serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan
seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan
melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal
dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak
Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk
dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara
pemasanganUgratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua
volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut
2) Penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil seperti Hostation 40
EC 2 cc per liter atau Orthene 75 SP I gr per liter.

2. Kutu Daun(Myzus Persicae Sulz)
Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan
daun, pucuk, tangkai, bunga atau bagian tanaman lainnya. Serangan kutu daun yang
berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang
kekuningan(klorosis), dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun.
Di samping itu , kutu daun juga menjadi penular (penyebar) berbagai virus. Kutu
daun mengeluarkan cairan manis(madu) yang dapat menutupi permukaan daun.
Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga
menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun biasanya menghebat di
musim kemarau.

Pengendalian secara terpadu terhadap serangan hama kutu daun dapat
dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultut tehnik, yaitu memanam tanaman perangkap(trap crop) di sekeliling kebun, misalnya jagung.
2) Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Decis 2,5 EC 0,04 %, Hostathion 40 EC 0,1 % , atau Orthene 75 SP 0,1 %.

3. Lalat Buah(Dacus Ferrugineus Coquillet atau D.Dorsalis Hend)
Serangga dewasa dari lalat buah memiliki panjang tubuh kurang lebih
0,5, berwarna coklat tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur
tersebut akan menetas menjadi ulat dan merusak semua bagian buah cabai. Buah-
buah yang diserang hama lalat buah akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian
membusuk , berlubang kecil dan akhirnya berguguran(rontok).

Adapun pengendalian hama lalat buah dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1) Pengendalian secara kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan
tanaman inang lalat buah.
2) Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan mengumpulkan semua buah cabai
yang telah terserang, kemudian memusnahkannya.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan pemasangan perangkap beracun
seperti Metil Eugenol (CM-Antraktan) atau Promar atau Protein Hydrolisat
yang efektif terhadap serangga jantan dan betina. Selain itu , dapat juga
dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara langsung, misalnya dengan
Buldok, Lannate, atau Tamaron.

4.Thrips(Thrips sp)
Serangga Thrips bentuknya sangat kecil dengan panjang tubuh kurang
Lebih 1 mm. Serangga ini berkembang biak tanpa pembuahan sel telur
(Partenogenesis) , dan siklus hidupnya berlangsung selama tujuh hari hingga dua
belas hari.
Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan
Memperlihatkan gejala serangan berupa strip-strip pada daun dan warna keperakan.
Serangan yang berat dapat mengakibatkan daun menjadi kering(mati) dan bunga-
bunga cabai berguguran. Hama Thrips ini kadang-kadang juga berperan sebagai
penular(vektor) penyakit virus.

Pengendalian hama Thrips dapat dilakukan dengan cara:
1) Pengendalian secara kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak
menanam cabaisecara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena
tanaman muda akan mudah terserang parah hama Thrips.
2) Pengendalian memakai perangkap hama, yaitu dengan memasang Insect Adesive
Trap Paper( IATP ) berupa lembar kertas berwarna kuning ukuran 21,5 cm x 15
cm asal Taiwan. Cara pemasangannya adalah digulung dan digantung setinggi 15
cm – 30 cm dari pucuk tanaman cabai. Dengan cara demikian, serangga hama
Thrips yang berterbangan dan mengenai IATP akan langsung terperangkap.
3) Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Dicarzol 25
SP, Confidor 200 SL, Pegagus 500 SC, Decis 2,5 EC(0,04 %), Hostathion 40
EC(0,2 %), dan Mesurol 50 WP(0,1 % - 0,2 %). Dosis atau konsentrasi
penyemprotan disesuaikan dengan label yang terdapat pada label kemasan obat
tersebut.

5. Tungau
Jenis tungau yang sering menyerang cabai adalah tungau
kuning(Polyphagotarsonemus Latus Bank) dan tungau merah( Tetranyus
Innabarinus Boisd). Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap
cairan sel daun atau pucuk tanaman. Serangan tungau dapat mengakibatkan
bintik-bintik kuning atau keputihan pada daun cabai. Serangan tungau yang berat,
terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan
daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan
penyemprotan insektisida akarisida seperti Pmite 57 EC (0,2 %) atau Mitac 200
EC (0,2 %).

B. Penyakit Cabai
Penyakit utama cabai adalah sebagi berikut:

1. Layu Bakteri(Pseudomonas Solanacearum E.F. Smith)
Penyakit layu bakteri dapat menyebar melalui benih, bibit, bahan
tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi(air), serangga, nematoda, dan alat-
alat pertanian. Penyakit layu bakteri biasanya menghebat pada tanaman cabai di
daerah dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi secara tiba-
tiba(mendadak) yang akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa
hari kemudian. Penyakit layu bakteri menyerang system perakaran tanaman
cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang penyakit ini dipotong atau
dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, setelah beberapa menit
digoyang-goyangkan, akan keluarlah cairan berwarna cokelat susu atau berkas
pembuluh batangnya berwarna cokelat berlendir(slime bakteri)

Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai yang
terserang penyakit layu bakteri adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk,
kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman, daun menguning dan akhirnya
mengering serta rontok. Penyakit layu bakteri dapat menyerang tanaman cabai
pada semua tingkatan umur, tetapi yang paling peka adalah tanaman cabai yang
masih muda, tanaman cabai menjelang fase berbunga, atau tanaman cabai ketika
berbuah.
Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu
dengan cara sebagai berikut:
a. Benih atau bibit sebelum tanam direndam dengan bakterisida Agrimycin atau
Agrept 0,5 gram per liter selama lima menit hingga lima belas menit.
b. Drainase tanah di sekitar kebun diperbaiki agar tidak becek atau menggenang.
c. Tanaman yang sakit dicabut agar penyakit tidak menular ke tanaman yang sehat.
d. Bakterisida Agrimycin atau Agrept digunakan dengan cara disemprotkan atau
dikocor di sekitar batang tanaman cabai yang diperkirakan terserang layu bakteri.
e. Lahan dikelola misalnya dengan pengapuran tanah atau pergiliran tanaman yang
bukan termasuk famili Solanaceae.

2. Layu Fusarium(Fusarium Oxysporum Sulz)
Layu fusarium disebabkan oleh organisme cendawan yang bersifat
tular tanah. Penyakit ini biasanya muncul pada tanah-tanah yang ber-pH
rendah(masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan
warna tulang-tulang daun di sebelah atas yang diikuti dengan merunduknya
tangkai-tangkai daun. Akibat lebih lanjut dari serangan penyakit ini adalah seluruh
tanaman layu dan mati.

Gejala serangan layu fusarium sering kali sulit dibedakan dengan
serangan layu bakteri. Pembuktian penyebab layu fusarium tersebut dapat
dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman cabai yang sakit,
kemudian merendamnya dalam gelas berisi air bening(jernih). Biarkan rendaman
batang cabai tersebut sekitar lima menit hingga lima belas menit, kemudian
digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih
dan terlihat suatu cincin berwarna cokelat dari berkas pembuluhnya, berarti tanaman
cabai tersebut terserang penyakit layu fusarium.

Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan berbagai
cara sebagai berikut:
a. perendaman benih atau bibit dalam larutan sistemik, misalnya Benlate ataupun
Derosal 0,5 gr- 1 gr per liter air selama sepuluh menit hingga lima belas menit
b. pengapuran tanah sebelum tanamdengan Dolomit atau Captan (Calsit) sesuai
dengan angka pH tanah agar mendekati netral.
c. pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman
yang sehat.
d. pengaturan pembuangan air (drainase) dengan cara pembuatan bedengan yang
tinggi, terutama pada musim hujan.
e. penyiraman larutan sistemik seperti Derosal, Anvil, Benlate, dan Topsin di sekitar
batang tanaman cabai yang diduga sumber penyakit layu fusarium atau yang
terkena cendawan.

3. Bercak Daun dan Buah(Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby)
Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit antraknosa atau
patek. Penyakit ini menjadi masalah utama pada musim hujan yang disebabkan
oleh cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev dan Collectrotichum Capsici (
Syd.) Butl.et. Bisby

Cendawan Goloesporium Piperatum Ell.et.Ev umumnya menyerang
buah muda dan menyebabkan mati ujung(die back). Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk serta tepi
bintik berwarna kuning. Bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang, dan
bagian tengahnya berwarna gelap.

Adapun cendawan Collectrotichum Capsici (Syd.) Butl.et. Bisby
lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai
dengan terbentuknya bercak cokelat kehitaman pada buah, kemudian meluas
menjadi busuk lunak. Di bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang
merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan
buah cabai mengerut dan mengering menyerupai mummi dengan warna buah
seperti jerami.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Benih direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram,
misalnya Benlate pada dosis 0,5 gr per liter ataupun berbahan aktif
Captan(Ortocide) dengan dosis 1gr per liter. Lamanya perendaman benih adalah
antara empat jam hingga delapan jam.
b. Jarak tanam diatur agar kondisi kebun tidak terlalu lembab. Misalnya, pada
musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 cm x 70 cm dan pada musim
hujan 60 cm x 70 cm atau 65 cm x 70 cm. Pengaturan jarak tanam ini dapat
menggunakan system segi empat atau system segi tiga zig-zag.
c. Lingkungan sekitar kebun dibersihkan dari gulma dan disiangi agar tidak menjadi
sarang hama dan penyakit.
d. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan dan dmusnahkan(dibakar).
e. Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc per liter, Phycozan,
Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol, dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut
sangat efektif menekan antraknosa.
f. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae, misalnya
tomat, kentang, terung dan tembakau. Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk
memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit antraknosa.

4. Bercak Daun(Cercospora Capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora Capsici. Gejala
serangan penyakt ini ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan.
Bercak tersebut akan meluas hingga mencapai garis tengah kurang lebih 0,5 cm. Pusat
bercak tampak berwarna pucat sampao putih, dan tepinya berwarna lebih tua. Serangan
yang berat(parah) dapat menyebabkan daun menguning atau langsung berguguran
tanpa didahului menguningnya daun.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan
kebun dan menyemprotkan fungisida, seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara
berselang-seling.

5. Bercak Alternaria(Alternaria Solani Ell & Marf )
Penyebab penyakit Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini
ditandai dengan timbulnya bercak-bercak cokelat tua sampai kehitaman dengan
lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung
menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun paling bawah,
tetapi kadang-kadang juga menyerang bagian batang.

Pengendalian penyakit bercak Alternaria, antara lain, dengan cara menjaga
kebersihan kebun dan melakukan penyemprotan dengan fungisida , seperti Sandofan
10/56 WP, Kocide 77 WP, atau Polyram 80 WP secara selang-seling sesuai konsentrasi
yang dianjurkan.

6. Busuk Daun dan Buah(Phytophthora Capsici Leonian)
Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala
serangan tampak pada daun, yaitu timbul bercak-bercak kecil di bagian tepi daun,
kemudian menyerang seluruh daun. Penyakit ini juga sering menyerang batang
tanaman cabai yang gejalanya adalah terjadinya perubahan warna, yakni menjadi
kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala awal
bercak-bercak kebasahan yang meluas ke arah sumbu panjang dan akhirnya buah akan
terlepas dari kelopaknya karena membusuk.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak
tanam yang baik, misalnya pada musim hujan jarak tanaman dibuat 70 cm x 70 cm,
pengumpulan dan pemusnahan buah cabai yang busuk, serta penyemprotan dengan
fungisida , seperti Sandovan MZ, Kocide, atau Polyram secara selang-seling.

7. Virus
Penyakit virus yang dapat menyerang tanaman cabai antara lain Cucumber
Mosaic Virus(CMV), Potato Virus Y(PVY), Tobacco Etch Virus(TEV), Tobbaco
Mosaic Virus(TMV), Tobbaco Rattle Virus(TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus
(TRSV). Sedangkan gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil,
keriting dan mosaic yang disebabkan oleh TMV, CMV, dan TEV. Penyebaran virus
biasanya dibantu oleh serangga penular(vektor) seperti kutu daun dan Thrips.

Tanaman cabai yang terserang virus sering kali mampu bertahan hidup, tetapi
tidak menghasilkan buah. Pengendalian penyakit yang belum ditemukan obatnya ini
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Serangga penular(vektor) seperti Aphids dan Thrips diberantas dengan semprotan
insektisida yang efektif.
b. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan dicurigai terserang virus dicabut
dan dimusnahkan.
c. Dilakukan pergiliran(rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

8. Penyakit Fisiologis
Penyakit fisiologis merupakan keadan suatu tanaman yang menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang sering ditemukan yaitu:

a. Kekurangan unsur hara Kalsium(Ca)
Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada
buahnya yakni terdapat bercak air hijau gelap yang kemudian menjadi lekukan basah cokelat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal(sebelum waktunya). Kekurangan Ca biasanya terjadi pada stadium buah rusak yang diikuti dengan tumbuhnya cendawan.

Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur
Ca, seperti Growmore, Kalsium CaB dan lain-lain.

b. Terbakar sinar matahari(Sunburn)
Cabai jenis paprika tidak tahan terhadap terik sinar matahari sehingga bila
mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit buah dan bagian
dalam buah. Gejala yang tampak pada bagian luar adalah warna kulit buah berubah
menjadi keputih-putihan hingga kecokelatan dan mengerut. Meskipun tidak menjadi
busuk basah, warna buah akan menjadi jelek dan kualitasnya menurun(rendah).

Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman
cabai paprika dengan sungkup beratapkan plastik transparan(bening). Naungan plastik
bening ini dapat mereduksi(mengurangi) intensitas cahaya matahari, tinggi temperatur
tanah serta defisit air sehingga dapat meningkatkan kelembapan relatif tanah di sekitar
pertanaman cabai paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastic bening dapat
meningkatkan hasil(bobot) buah total.

c. Kekurangan air
Gejala kekurangan air adalah terhambatnya pertumbuhan dan terjadinya
kelayuan tanaman cabai. Kekurangan air yang terjadi pada stadium pembungaan atau
pembuahan dapat menyebabkan semua bunga dan buah gugur(rontok).Gejala yang
khas dari kekurangan air pada buah cabai adalah kulit buahnya mengerut, bergaris
kekuning-kuningan atau cokelat. Ukuran buah lambat laun menjadi abnormal(kecil),
bengkok, mengeras dan belang-belang.Pengendalian penyakit fisiologis kekurangan air
ini adalah dengan pengairan secara kontinyu agar tanah tidak kering permanen,
pemetikan buah cabai yang keriput atau belang-belang dan pengocoran pembenah
tanah Agri SC 300 cc - 500 cc perhektar atau larutan NPK 5 kg per 200 liter air
masing-masing 250 cc hingga 300 cc per tanaman.

9. Busuk Kuncup atau Pucuk(Teklik)
Penyebab penyakit busuk kuncup atau pucuk adalah cendawan Choanephora
Cucurbitarum Berk .er Rav.Thaxt. Gejala penyakit ini adalah pucuk atau kuncup atau
ranting yang masih muda tampak busuk berwarna cokelat kehitam-hitaman, tangkai daun
patah, dan helai daun lunglai seperti menggantung.

Usaha pengendalian penyakit ini adalah dengan cara perbaikan drainase tanah,
mengurangi kelembapan lingkungan sekitar kebun, dan penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 atau Vitragran Blue pada konsentrasi yang
dianjurkan.

10. Penyakit Lain
Beberapa penyakit lain yang juga dapat menyerang tanaman cabai diantaranya adalah:
a. Layu oleh cendawan Sclerotium Rolfii Sacc. yang menyebabkan keseluruhan tanaman
cabai layu secara tiba-tiba, daun berwarna kuning, dan kemudian daun menjadi cokelat.
Patogen penyakit menyerang leher akar yang ditandai dengan adanya miselium
berwarna putih. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pengapuran tanah,
rotasi tanaman dengan jagung, dan perlakuan(sterilisasi) tanah dengan Basamid-G.
b. Embun tepung oleh cendawan Oidiopsis Sicula Scald an O.Capsici Sawada yang dapat
dikendalikan dengan fungisida yang mangkus dan sangkil, seperti Afugan 300 EC atau
Rubigan 120 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.
c. Rebah semai oleh cendawan Rhizoctonia Solani Kuhn dan Pythium Spp. Kedua
penyakit ini disebut dumping-off di persemaian. Gejalanya yaitu pangkal batang bibit
membusuk , berwarna hitam dan rebah secara massal. Pengendalian penyakit ini ,
antara lain dengan cara sterilisasi media persemaian, perbaikan drainase tanah
persemaian, dan perendaman benih sebelum semai dalam air hangat pada suhu 55° C
sampai 60° C selama lima belas hingga tiga puluh menit , dan penggunaan fungisida
seperti Benlate 0,1 % atau Previcur N 0,2 %.
d. Busuk buah oleh cendawan Culvularia Lunata(Wakk.) Boed.Gejala serangannya
adalah ujung buah bagian bawah membusuk dan berwarna cokelat muda sampai hitam,
kemudian buah rontok. Pengendalian penyakit ini, antara lain dengan cara mencabut
dan memusnahkan tanaman inang yang sakit parah serta penyemprotan fungisida yang
mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2 %.
e. Busuk basah oleh bakteri Erwina Carotovora Jones. Gejala serangannya adalah pangkal
buah busuk basah dan rontok. Pengendalian penyakit ini , antara lain dengan cara
merotasikan tanaman, mengurangi infeksi buah, dan menyemprotkan bakterisida

Budidaya Tanaman Secara Vertikultur

Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris (vertical dan culture) artinya sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat.

PENGERTIAN VERTIKULTUR

Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris (vertical dan culture) artinya sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Cara bercocok tanam secara vertikultur ini sebenarnya sama saja dengan bercocok tanam di kebun atau di sawah. Perbedaannya terletak pada lahan yang digunakan. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman. Dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman.

Banyak sedikitnya tanaman yang akan kita budidayakan bergantung pada model wadah yang kita gunakan.

Untuk tanaman yang memerlukan banyak sinar matahari, seperti cabai, tomat, terong, dan sawi hendaknya diletakkan di posisi bagian atas. Sedangkan tanaman ginseng, kangkung, dan seledri bisa di bagian tengah atau bawah.

Sistem vertikultur ini sangat cocok diterapkan bagi petani atau perorangan yang mempunyai lahan sempit, namun ingin menanam tanaman sebanyak-banyaknya. Selain tanaman sayuran, kita bisa juga menanam tanaman hias.

BUDIDAYA TANAMAN SECARA VERTIKULTUR

Untuk memulai budidaya tanaman secara vertikultur sebenarnya tidak perlu direpotkan dengan peralatan dan bahan yang akan menghabiskan biaya yang besar, yang penting wadah yang dipakai dapat menyediakan ruang tumbuh yang baik bagi tanaman. Namun terkadang kita ingin hasilnya nanti tidak hanya berupa panen tapi juga keindahan tanaman yang ditanam secara vertikultur dan struktur bangunan/wadah tanam tahan lama. Untuk alasan-alasan itu maka cara berikut ini dapat dipakai.

Alat yang diperlukan adalah sebagai berikut :

- gergaji/parang
- palu
- paku
- tang
- gunting
- cangkul
- sekop
- gembor
- kayu

Bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

- pralon, bambu, talang, atau papan
- kaso
- reng
- plastik bening
- pupuk kandang
- tanah gembur
- sekam, serutan, atau gergaji kayu
- kotak semai untuk benih

Banyak sedikitnya alat dan bahan yang digunakan bergantung pada bangunan dan model wadah yang akan kita pilih. Ukuran panjang-pendek, tinggi-rendah, serta besar kecilnya tergantung lahan yang kita miliki. Kalau kita ingin membuat, sebaiknya diserahkan tukang kayu, karena biasanya begitu melihat gambar, mereka sudah bisa memperkirakan ukurannya sesuai dengan keinginan kita.

Untuk kesempatan kali ini, secara khusus akan dijelaskan wadah tanaman dan pralon bulat dengan posisi berdiri. Wadah ini bisa diletakkan di mana saja asal kena sinar matahari. Bisa untuk menanam sayur, tanaman hias ataupun anggrek. Wadah ini sangat cocok untuk lahan yang sangat terbatas dan apabila pandai mengaturnya bisa menjadi satu karya seni yang indah.

Di toko material biasa dijual pralon batangan. Setiap batang berdiameter 4 (empat) meter. Belilah pralon yang tidak terlalu tebal. Siapkan gergaji besi, penggaris atau meteran, lampu teplok, kayu bulat, dan sarung tangan. Untuk mempermndah bisa juga ditambahkan cat dengan warna sesuai selera.

Cara Pembuatannya:

- Ukur terlebih dulu jarak lubangnya, misalnya 10 sampai dengan 15 cm.
- Tandai silang dengan pensil sepanjang 10 cm.
- Dari batas 10 cm tersebut ukur naik 10 cm.
- Lakukan seterusnya sehingga sampai ujung pralon.
- Gergajilah setiap tanda silang dengan lebar 10 cm.
- Siapkan lampu teplok.
- Pralon yang sudah digergaji dipanaskan dengan lampu teplok.
- Bila sudah agak lembek, cepat tekan ke dalam dengan besi atau kayu bulat.
- Bagian atas ditekan ke dalam untuk menahan tanah / akar tanaman.
- Bagian bawah ditekan keluar.
- Agar bisa berdiri tegak, bagian bawah bisa di cor permanen atau bisa pula diberi pemberat semen dengan wadah kaleng atau pot.

Setelah lubang tanam selesai dibuat, siapkan gembur, pasir, dan kompos dengan ukuran 1 : 1 : 1 dan bisa ditambahkan pupuk urea. Biarkan selama lebih kurang 1 minggu dengan setiap kali disiram air dari lubang atas.

Pada dasarnya semua tanaman bisa ditanam wadah pralon. Namun, sebaiknya hal itu dilakukan untuk tanaman yang tingginya kurang dari satu meter. Untuk tanaman yang tidak membutuhkan banyak air dan banyak sinar matahari, bisa ditanam di lubang atas dan perlu banyak air di bagian bawah. Misalnya di bagian atas cabai, di tengah seledri, dan bawah ginseng atau katuk.

Kita harus pula sering menambahkan kompos atau tanah gembur di setiap lubang apabila media tanahnya berkurang. Apabila Anda punya sisa-sisa pralon bekas membangun rumah, jangan dibuang. Itu bisa dijadikan menjadi wadah tanam yang indah dan unik.

Selain pembuatan lubang pralon seperti di atas bisa juga pralon dibuat lubang bulat-bulat kecil dengan cara dibor mengelilingi pralon. Untuk model ini sebaiknya menggunakan media yang ringan seperti sekam atau serutan yang sudah steril.

Untuk menciptakan sawah atau kebun mini, selain pralon berdiri bisa juga menggunakan sarana talang yang dibuatkan silangan kayu untuk meletakkan pralon tersebut. Kita bisa pula mengkombinasikan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Bisa pula merancang pagar rumah menjadi pot memanjang atau membuat pot-pot menempel di tembok. Apabila dana belum mencukupi untuk membuat cor beton, kita bisa pula bercocok tanam di atas genting.

Pandai-pandailah memanfaatkan lahan di pekarangan / halaman kita untuk berbagai tanaman produktif atau tanaman obat. Di rumah yang sudah tak ada tanah kosong karena dipenuhi bangunan, atap kamar dan pagar rumah serta lokasi di atas got dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Mulai dari tanaman sayuran, tanaman obat sampai ke tanaman buah-buahan bisa dimiliki. Di atas kamar, setengah lahan dapat diletakkan pralon berdiri dan talang-talang air yang dibuat bersusun untuk tanaman sayuran. Setengahnya lagi dipakai untuk meletakkan tanaman buah dengan model bersusun. Semuanya bisa tumbuh subur bersamaan kalau kita telaten merawat dan memberikan kasih sayang.

PEMELIHARAAN TANAMAN

Tanaman juga memerlukan perawatan, seperti halnya makhluk hidup yang lain. Tanaman memerlukan perhatian dan kasih sayang. Selain penyiraman dilakukan setiap hari juga perlu pemupukan, dan juga pengendalian hama penyakit.

A. Pemupukan

Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos, pupuk kandang atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi mikroorganisme 4 (EM4) atau simbal.

Ir. Joko Purnomosidi dari Dinas Pertanian DKI Jaya menyarankan agar buah tidak mudah rontok sebaiknya menggunakan KCL satu sendok teh atau sendok makan tergantung besar kecilnya pohon. Pemberian KCL sebaiknya setiap 5 sampai 6 bulan sekali.

Di perkotaan, pupuk kandang atau kompos harganya menjadi mahal. Kalau kita mau irit/berhemat, kita bisa membuatnya sendiri. Limbah dapur atau daun-daun kering bisa kita manfaatkan untuk pembuatan pupuk bokashi (lihat artikel resep bokashi).

Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk.

Pupuk Bokashi sangat benguna sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam waktu singkat. Bahan-bahannya juga mudah didapat dan sekaligus baik untuk kebersihan lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian atau limbah rumah tangga, seperti jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam, dan serbuk gergaji.

Kalau di daerah pedesaan, biasanya sampah atau kotoran hewan dimasukkan ke sebuah lubang. Kalau lubangnya sudah penuh, sampah dibakar dan sebagai pupuk. Dengan catatan, pupuk buatan kotoran hewan yang akan digunakan hendaknya sudah tidak berbau busuk. Dewasa ini di swalayan-swalayan banyak dijual pupuk kandang yang sudah kering, tidak berbau, dan steril. Dewasa ini masyarakat mulai banyak mempertimbangkan mengkonsumsi hasil panen yang Iebih sehat cara penanamannya, yakni yang menggunakan pupuk dan pengendalian hama alami. Meski lebih mahal tetap dibeli karena dirasa lebih aman dikonsumsi untuk kesehatan.

B. Pengendalian Hama

Saat ini banyak dijual racun pestisida yang menggunakan bahan kimia. Sayuran yang penampilannya tampak cantik, segar dan bersih kadang kala malah berbahaya untuk dikonsumsi, karena banyak menggunakan pestisida kimia. lni bisa membahayakan kesehatan. Hal yang perlu diperhatikan apabila kita terpaksa menggunakan bahan kimia harus benar-benar selektif agar tanaman yang kita usahakan tidak tercemar. Sebaiknya dua minggu sebelum masa panen jangan menggunakan obat/racun pestisida.

Ada satu masukan dari Suku Dinas Pertanian Jakarta Utara, yakni Bp. Memed Achmad, ahli pengendali hama penyakit tanaman. Untuk berkebun di rumah sebaiknya jangan menggunakan bahan kimia. Ditekankan pula jangan menggunakan furadan untuk membunuh hama yang ada di dalam tanah. Penggunaan furadan bisa mengurangi tingkat kesuburan tanah dan juga mencemari tanaman kurang lebih selama sebulan. Jadi, sebaiknya untuk tanaman sayuran tidak perlu digunakan furadan.

Dalam praktik, penulis menggunakan furadan enam bulan sekali atau kalau benar-benar terpaksa sekali untuk tanaman keras saja, seperti belimbing, jeruk, mangga, dan jambu air. Apabila kita menyebarkan furadan di sekitar tanaman, maka cacing, lipan atau uret yang ada di dalam tanah akan muncul ke permukaan dan mati. Bangkai-bangkainya jangan dibuang, namun kubur saja di sekitar tanaman karena bisa menjadi pupuk. Hasilnya ternyata belimbing dan jeruk saya berbuah lebat.

PEMANENAN DAN PASCAPANEN

Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, slada, kangkung dan sebagainya). Apabila kita punya tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri akan lebih menghemat apabila kita potong daunnya. Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih lama dan kita bisa panen berulang-ulang.

Selain tanaman sayuran dan obat-obatan, tanaman buah-buahan juga bisa ditanam secara vertikultur dengan wadah pot atau drum bekas dan rnenggunakan tangga berjenjang.

Secara teori tanaman buah yang disusun secara vertikultur tidak bisa menghasilkan buah yang maksimal. Untuk pasca panen kita bisa membuat aneka macam minuman, sirup dan selai. Apabila kita menanam tomat, selain bisa dibuat saus tomat, juga bisa dibuat minuman sari buah. Bila tomat dicampur belimbing, jadilah sari buah tobing (tomat dan belimbing) yang bergizi tinggi, juga sebagal obat penurun darah tinggi dan penurun kolestrol.

Belimbing wuluh yang sering terbuang-buang bila sedang berbuah lebat bisa kita buat manisan atau sirop segar. Beberapa kelompok tani di Jakarta yang sebagian besar anggotanya ibu-ibu rumah tangga, banyak yang berhasil membuat produksi pasca panen.

Ada pula yang berhasil memproduksi kapsul-kapsul tanaman obat dan kebun sendiri dan masyarakat di sekitarnya banyak yang terbantu dengan obat tradisional yang murah dan mujarab. Buah makuto dewo yang penampilannya seperti jambu bol dan buahnya nempel di pohon, kalau matang berwarna merah tua awalnya tidak diperhatikan, bahkan dibuang-buang karena tidak enak dimakan. Kini orang mulai memburu buah tersebut.

Kelemahan petani di daerah adalah penyimpanan dan pengolahan hasil pascapanen. Seringkali pula mereka tidak melihat dan mempertimbangkan pemasarannya. Juga petani sering ikut-ikutan. Begitu harga cabai mahal, semuanya menanam cabai. Akibatnya, hasil panen melimpah, harga anjlok dan petani merugi. Sebelum menanam sesuatu sebaiknya dipertimbangkan dulu situasi pasar. Untuk petani yang sukses, langkah mereka justru mencari pasarnya terlebih dulu baru menanam apa yang dibutuhkan pasar.

Upaya lain agar hasil Pasca Panen punya nilai lebih dan tahan lama hendaknya dilakukan pengolahan menjadi suatu produk yang mempunyai nilai lebih. Kelompok Wanita Tani Bunga Lili memanfaatkan buah-buah musiman untuk dijadikan sirup yang bisa bertahan kurang lebih 3 (tiga) bulan, juga sirup berkhasiat obat yang mulai digemari masyarakat. Bahan-bahannya memanfaatkan hasil panen petani yang dijual sangat murah, seperti jahe, sereh, daun pandan, daun jeruk dan lain-lain.

Rumah Kaca (Green House)

Green house atau yang dikenal dengan rumah kaca saat ini bukanlah barang baru bagi pelaku agribisnis, terutama agribisnis hortikultura seperti sayuran dan tanaman hias. Meskipun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa semua petani Indonesia mengerti dan mengetahui tentang green house ini. Jangankan tahu manfaatnya, bahkan mungkin melihatnya saja belum pernah. Berdasarkan pertimbangan tersebut,dalam bahasan ini akan diulas gambaran umum mengenai apa sebenarnya dan manfaat dari green house sebagai penunjang agribisnis kita.
Rumah kaca atau green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal, karena tidak semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Green house biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan, Balai Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di mancanegara sudah umum dilakukan. Bahkan mungkin sudah berpuluh tahun sebelum negara kita mengadopsi tekhnologi tersebut.

Rumah kaca/green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar musim oleh para mahasiswa , para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang pertanian.

Green House sebagai Sarana Penunjang Agribisnis Hortikultura sangat Mendukung Upaya Peningkatan Produksi dan Kontinyuitas Produk

Sebenarnya ide awal untuk pembuatan bangunan green house di Indonesia dilatarbelakangi oleh kegiatan penelitian yang dilakukan lembaga penelitian maupun dunia pendidikan. Kegiatan penelitian yang dimaksud disini adalah kegiatan mencari jawaban atau mencari solusi / jalan keluar atau pemecahan terhadap suatu kasus. Sebagai contoh, bila kita ingin mencari uji ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tertentu. Adanya green house yang mampu menciptakan iklim yang bisa membuat tanaman mampu berproduksi tanpa kenal musim ini ternyata juga mampu menghindarkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak diujikan. Selain itu dengan adanya green house penyebaran hama dan penyakit yang diujicoba dapat dicegah . Hal ini berbeda dengan percobaan yang dilakukan di luar green house dimana dalam waktu yang sangat singkat hama dan penyakit dapat cepat menyebar luas karena terbawa angin maupun serangga.

Sejalan dengan bertambahnya waktu dan tingginya serapan tekhnologi pertanian, peranan green house bagi dunia pertanian kita semakin lama semakin dibutuhkan. Dengan semakin maraknya pembangunan perumahan maupun kawasan industri akhir-akhir ini membuat lahan pertanian makin berkurang. Padahal kebutuhan akan pangan di dalam negeri semakin lama semakin besar dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan pemikiran itulah penggunaan green house untuk kegiatan bisnis pertanian semakin diperlukan. Pemikiran pengembangan green house untuk agribisnis hortikultura yang didasari pada keinginan pemenuhan kebutuhan produk pertanian yang kontinyu tanpa kenal musim.

Biasanya bila suatu produk hortikultura terjadi panen raya maka harga dipasaran akan jatuh, sehingga para petani menderita kerugian, apalagi harga benih, pupuk, pestisida maupun tenaga kerja mulai naik. Pada saat paceklik dimana produk hortikultura langka atau tidak ada dipasaran sedangkan permintaan banyak maka akan mengakibatkan kenaikan harga 2 sampai 3 kali lipat. Maka dengan adanya green house ini kita dapat menanam suatu jenis / crop tanaman horticultura diluar musim yang ada, sehingga harga jual produk tersebut dapat dijaga sehingga keuntungan yang kita dapatkan menjadi optimal.

Kelebihan

Dari uraian diatas, timbullah suatu pertanyaan apa sebenarnya keunggulan dan keuntungan menggunakan green house ini ? Berdasarkan informasi dari Agricultural Western Australia 2000 mengungkapkan beberapa keunggulan dari penggunaan green house ini antara lain :

1. Tanaman dapat berproduksi secara kontinyu dan berkesinambungan sepanjang tahun. Hal ini disebabkan pada green house kita dapat mengatur suhu, kelembaban, tekanan udara maupun pH sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan crop. Hal ini berkaitan dengan subsistem yang berkelanjutan dalam agribisnis yaitu pengolahan/agroindustri maupun pemasaran dimana dengan produksi yang kontinyu maka pasokan ke pasar maupun industri selanjutnya pun bisa terpenuhi juga.

2. Penggunaan air, pupuk maupu pestisida lebih efisien, baik dalam dosis penggunaan, waktu maupun tempat. Karena kita menggunakan polybag yang tentu sangat efektif dalam penggunaan pupuk, air dan pestisida.

3. Resiko tanaman terserang penyakit menjadi lebih kecil karena lingkungan dalam green house sendiri secara langsung maupun tidak telah terlindung dari lingkungan luar.

Meskipun investasi/biaya yang harus dikeluarkan untuk mendirikan green house memang cukup besar, tetapi untuk jangka panjang maka green house sangat menguntungkan sebab kita mampu memproduksi tanaman import didalam negeri atau kita mampu memproduksi tanaman sayuran, buah, bunga dan hias diluar musim sehingga kita mampu menenuhi kebutuhan sayuran dan buah-buahan segar kepada supermarket secara rutin dan kontinyu. Implikasinya dalam jangka panjang kita akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Persyaratan

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi bila kita bermaksud mendirikan green house. Hal ini sangat erat kaintannya dengan investasi, pertimbangan pemasaran, pengadaan sarana produksi, infrastruktur serta industri pengolahan dan pemasarannya.


Sehingga pembuatan green house ini tidak bisa dilakukan sembarangan tanpa pertimbangan. Adapun beberapa lokasi ideal yang dapat dijadikan tempat green house harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya : (1) intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi pada musim hujan, (2) suhu yang cukup dan mendukung, dalam arti tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, (3) dekat dengan pusat keramaian/pasar, (4) dekat sumber air yang baik dan cukup sepanjang tahun, (5) dekat dengan instalasi listrik, (6) tempatnya harus datar tidak boleh mempunyai kemiringan (7) tanah yang digunakan merupakan tanah yang tidak bergerak dan terakhir (8) dekat dengan sarana penunjang seperti kantor, laboratorium, jalan besar (mudah dijangkau kendaraan) untuk mempermudah pengawasan dan penggunaannya.

Selain itu ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan diantaranya : batasan kekuatan muatan, penetrasi cahaya dalam green house dan biaya. Meskipun di Indonesia hanya mengenal dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau namun perlu diperhatikan pula kekuatan atap dan bangunannya. Baik atap maupun bangunan harus kokoh dan kuat dari terpaan angin maupun hujan deras. Kemiringan atap pun minimal harus 28o.

Tanpa mengesampingkan aspek kekokohannya, struktur konstruksi bangunan green house haruslah bisa menjaga agar penetrasi (cahaya yang masuk) tetap maksimal. Agar penetrasi cahaya sesuai dengan kebutuhan tanaman, sebaiknya atap penutup haruslah terbuat dari bahan yang sangat transparan. Selain itu pilar-pilar penyokong sebaiknya dicat dengan warna yang dapat memantulkan cahaya.

Bahan Penutup Green House

Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar tanaman yang dibudidayakan pada green house membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 – 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Hampir semua bahan penutup green house mampu menampung cahaya tersebut sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan tanaman. Bahan yang terbuat dari Polyethylene dan fiberglass cenderung membuat cahaya menjadi tersebar, sementara bahan yang terbuat dari acrylic dan polycarbonate lebih cenderung meneruskan cahaya yang masuk secara langsung. Cahaya yang sifatnya menyebar tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi tanaman, dimana dia bisa mengurangi kelebihan cahaya pada daun-daun tanaman bagian atas dan memantulkannya pada daun-daun yang ada di bagian bawah sehingga penyebaran cahaya menjadi lebih merata.

Sebenarnya bentuk-bentuk green house tersebut bermacam-macam mulai dari bentuk sederhana dengan bahan yang paling murah sampai bentuk komplek yang dibentuk dari bahan penutup yang mahal. Adapun bahan penutup atap dapat menggunakan kaca maupun plastik. Bahan yang terbuat dari plastik juga tidak kalah dengan kaca dimana mempunyai kelebihan antara lain : tahan pecah, bentuknya bisa disesuaikan dengan bermacam design, dan sangat mudah digunakan. Beberapa tipe plastik yang biasa digunakan sebagai penutup green house antara lain :

1. Acrylic

Acrylic sangat tahan terhadap perubahan cuaca , tahan pecah serta sangat transparan. Penyerapan sinar ultra violet yang berasal dari matahari lebih tinggi dibandingkan dengan bahan yang terbuat dari kaca. Penggunaan acrylic sebanyak dua lapis mampu menghantarkan sekitar 83 % cahaya dan mengurangi kehilangan panas sekitar 20-40% dibandingkan penggunaan 1 lapis. Bahan ini tidak akan menguning walaupun digunakan dalam waktu yang lama. Namun kekurangan dari bahan acrylic adalah : mudah terbakar,sangat mahal, dan sangat mudah tergores/tidak tahan gores.

2. Polycarbonate

Polycarbonate memiliki ciri-ciri : lebih tahan, lebih fleksibel, lebih tipis, serta lebih murah dibandingkan acrylic. Penggunaan dua lapis polycarbonate mampu menghantarkan cahaya sekitar 75-80 % dan mengurangi kehilangan panas sekitar 40% dibandingkan satu lapis. Namun bahan ini sangat mudah tergores, mudah memuai, gampang menguning, dan akan membuat lapisan kurang transparan dalam waktu satu tahun (meskipun kini hadir jenis baru yang tidak cepat menguning).

3. Fiberglass Reinforced Polyester

Bahan ini memiliki sifat-sifat : lebih tahan lama, penampilannya menarik, harganya terjangkau dibandingkan kaca, serta FRP ini lebih tahan pengaruh perubahan cuaca. Bahan plastik ini mudah sekali dibentuk menjadi bentuk bergelombang maupun berupa lempengan. Meskipun demikian kekurangannya adalah bahan ini mudah memuai.

4. Polyethylene film

Bahan ini sangat murah dibandingkan dengan bahan lainnya namun sifatnya hanya sementara (kurang tahan lama), bentuknya kurang menarik, serta membutuhkan penanganan maupun perawatan yang lebih intensif . Selain itu, bahan ini juga mudah sekali rusak oleh sengatan cahaya matahari, walaupun mampu bertahan minimal 1 – 2 tahun dengan perawatan lebih intensif. Dikarenakan bahan ini berupa lembaran lebar sehingga tidak membutuhkan kerangka yang lebih banyak dan bisa menghantarkan cahaya paling besar.

5. Polyvinyl cholride film

Bahan ini mempunyai sifat penghantar emisi yang sangat besar untuk cahaya dengan panjang gelombang yang besar, dimana bahan ini mampu menciptakan temperatur udara yang cukup tinggi pada malam hari dan bisa berfungsi sebagai penghalang sinar ultra violet. Bahan ini lebih mahal dibandingkan polyethylene film dan cenderung mudah kotor, yang mana harus terus dilakukan pembersihan agar didapatkan penghantaran cahaya yang lebih baik.

Cara pembuatan green house ini tidak jauh berbeda dengan membuat bangunan gudang atau kantor. Pertama-tama kita perlu membuat pondasi bangunan yang dalam, semakin besar ukuran green house maka semakin dalam pondasi yang kita buat. Besi yang dibuat untuk kerangka green house tersebut harus anti karat dan terbuat dari bahan pipa yang tebal. Pipa yang satu dengan pipa yang lain harus disambung secara kuat dan berulang-ulang.

Untuk model atap ada yang berbentuk melengkung dan ada yang berbentuk lancip. Tinggi dinding yang baik mencapai 6 sampai 9 meter, tergantung crop yang akan diproduksi atau tergantung pada tujuannya. Bahan dinding beserta atapnya dapat dari kaca maupun plastik yang tebal yang tidak mudah sobek dan cara pemasanganya dimulai dari atapnya dulu, kalau sudah selesai baru dinding. Pintu dari green house harus dibuat serapat mungkin sehingga tidak memberikan kesempatan bagi udara luar untuk masuk kedalam green house. Setelah dinding dan atap terpasang kaca atau plastik, kita dapat memasang sistem irigasi dengan menggunakan pipa secara sistematis yang dapat kita kendalikan, serta diberi bak pengontrol untuk mengontrol masuk dan keluarnya air dari dalam dan keluar dari green house. Untuk bagian dalam green house ada 2 jenis, yaitu diplester dengan semen, ini hanya untuk green house yang penanamannya menggunakan media pot atau plastik polybag atau percobaan hydroponik tetapi ada juga yang dalamnya berupa tanah seperti yang ada dilahan persawahan, hal ini bertujuan untuk budidaya sayuran, buah-buahan dan bunga yang akan dibuat petakan atau bedengan. Bahkan bedengan ini ada juga yang diberi mulsa sama seperti tehnik budidaya tanaman pada umumnya. Tetapi dengan green house pengawasan terhadap tanaman baik temperature, kelembaban, kebutuhan air, kebutuhan hara bahkan pengendalian hama dan penyakitnya dapat dikontrol dengan sebaik-baiknya.

Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan green house sangat menguntungkan khususnya untuk bisnis fresh market hortikultura karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim bahkan kualitas produk yang dihasilkan dapat terjamin atau lebih baik dari tehnik budidaya dialam bebas.