Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Obat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Budidaya Tanaman Angsana

Pohon, tinggi 10-40 m. Ujung ranting berambut. Daun penumpu bentuk lanset, panjang 1-2 cm. Daun berseling. Anak daun 5-13, bulat telur memanjang, meruncing, tumpul, mengkilat sekali, 4-10 kali 2,5-5 cm; anak tangkai lk 0,5-1,5 cm. Tandan bunga di ujung dan duduk di ketiak, sedikit atau tidak bercabang, berambut coklat, berbunga banyak, panjang 7-11 cm; anak tangkai 0,5-1,5 cm; bunga sangat harum. Kelopak bentuk lonceng sampai
bentuk tabung, bergigi 5, tinggi lk 7 mm. Mahkota kuning oranye. Daun mahkota berkuku; bidang bendera bentuk Iingkaran atau bulat telur terbalik, berlipat kuat, melengkung kembali, garis tengah lebih kurang 1 cm; lunas lebih pendek daripada sayap, pucat. Bakal buah berambut lebat, bertangkai pendek, bakal biji 2-6. Polongan bertangkai di atas sisa kelopak, hampir bulat lingkaran, dengan paruh di samping, pipih sekali, sekitarnya bersayap, tidak membuka, garis tengah lk 5 cm, pada sisi yarig Iebar dengan ibu tulang daun yang tebal. Biji kebanyakan 1. Kerapkali ditanam; 1-800 m. Catatan: Kayunya mempunyai warna dan kwalitas yang baik sekali; dipergunakan sebagai bahan bangunan dan kayu meubel. Di Maluku pohon ini menghasilkan „kayu akar" (wortelhout) yang bagus. Kulitnya dipakai sebagai obat; dalam keadaan hidup pohon tersebut rnengandung cairan yang merah darah. Bagian yang digunakan Kulit kayu, getah (resin) dan daun muda.


Nama Lokal :
NAMA DAERAH Asan, Athan (Aceh); Sena (Gayo); Sena, Hasona, Sona (Batak); Kayu merah (Timor); Asana, Sana kapur, Sana kembang (Minangkabau), Sana kembang (Madura); Kenaha (Solor); Aha, Naga, Aga, Naakir (Sulawesi Utara); Tonala (Gorontalo); Candana (Bugis); Na, Nar, (Roti); Lana (Buru). NAMA ASING: NAMA SIMPLISIA: Pterocarpi Cortex; Kulit kayu Angsana.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
KHASIAT Adstringen dan diuretik. PENELITIAN Hayati, 1990. Jurusan Farmasi, FMIPA USU. Telah melakukan penelitian pengaruh infus daun Angsana terhadap penurunan kadar gula darah kelinci dibandingkan dengan tolbutamid. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata infus daun Angsana 5 ml, 10% dan 20°Io secara oral menurunkan kadar gula darah kelinci. Pengaruh infus 10% tidak ada beda dengan 50 mg/kg bb tolbutamid, sedangkan penurunan oleh infus 20% lebih besar daripada pengaruh oleh tolbutalmid.

Pemanfaatan :
KHASIAT
Adstringen dan diuretik.

KEGUNAAN
Kulit kayu:
Batu ginjal.
Sariawan mulut (obat kumur).

Daun muda:
Kencing manis.
Bisul (obat luar).

Getah (Kino):
Luka (obat luar).
Sariawan mulut (obat luar).

RAMUAN DAN TAKARAN

Batu Ginjal
Ramuan:
Kulit kayu Angsana   3 gram
Daun Keji beling       2 gram
Daun Kumis kucing  4 gram
Air                           115 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau diseduh.

Cara pemakaian:
Diminum 1 kali sehari 100 ml. Bila batu telah keluar, baik berupa kristal maupun air kencing yang keruh atau air kencing yang berbuih maka pemberian jamu dihentikan. Kemudian dilanjutkan minum teh daun Kumis kucing 6% dalam air. 6 gram daun Kumis kucing diseduh dengan air mendidih sebanyak 100 ml. Diminum seperti kebiasaan minum teh.

Sariawan Mulut
Ramuan:
Kulit kayu Angsana     4 gram
Daun Saga segar        4 gram
Daun Sirih segar         3 helai
Air                              115 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau diseduh.
Bila diperlukan tambahkan 10 gram gips pada beningan, didiamkan beberapa saat, lalu disaring dan diambil bagian beningnya. (Gips dapat dibeli di apotik atau toko kimia).

Cara pemakaian:
Untuk kumur, tiap 3 jam sekali, tiap kali pakai 50 ml, bila perlu dapat diencerkan dengan air.

Bisul
Bisul dicuci dengan air bersih atau alkohol 70%. Kemudian daun Angsana diremas dan ditempelkan pada bisul tersebut. Diperbaharui tiap 3 jam sekali.

Komposisi :
Resin dikenal dengan nama kino (asam kinotanat dan zat warna merah.

Minggu, 20 Maret 2011

Budidaya Mengkudu

Pendahuluan
Asal Tanaman
Tanaman mengkudu pada awal mulanya terpusat di Polinesia, India, dan Cina. Yang kemudian menyebar sampai ke Malaysia, Australia, New Zealand, Kepulauan Pasifik, Tihiti, Hawai, Peurto Rico, Karibia dan Kanada, sampai ke Indonesia. Tanaman mengkudu dikenal sebagai raja dari jenis buah yang ada.
Morfologi Tanaman
Tanaman mengkudu merupakan tanaman tahunan (perenial) yang berbentuk perdu, dengan ketinggian antara 3-8 m. batang tanaman keras dan berkayu yang tumbuh ke atas serta mempunyai banyak percabangan. Cabang-cabang tumbuh mendatar dengan arah keluar kanopi tanaman. Daun termasuk daun tunggal, terdiri atas satu helai daun setiap satu tangkai daun (petiolus). Berbentuk lonjong, dengan ukuran panjang antara 10-40 cm dan lebar antara 15-17 cm, tergantung tingkat kesuburan tanaman. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau mengkilap, sedagkap permukaan bagian bawah berwarna hijau agak pucat. Tangkai daun pendek dan melekat pada batang atau cabang secara berselang-seling atau berpasangan. Semakin subur pertumbuhan tanman, semakin rimbun dan besar ukuran daunnya.
Tanaman mengkudu bebunga sempurna (hermaprodite) dan menghasilkan buah semu majemuk. Buah mengkudu mempunyai bentuk yang bervariasi (agak bulat, agak lonjong atau panjang), dengan permukaan yang tidak rata. Buah stadium muda berwarna kahijau-hijauan dan berubah menjadi hijau keputih-putihan ketika memasuki stadium tua (matang).
Tanaman mengkudu belum banyak diteliti untuk pemuliaan tanaman. Di alam ditemukan dua jenis mengkudu, didasarkan pada struktur buahnya, yaitu jenis mengkudu berbiji (mengandung banyak biji)dan jenis mengkudu tanpa biji. Buah mengkudu yang tak berbiji sering dikenal sebagai “pace sukun”.
Kandungan Kimia dan Manfaatnya
Tanaman mengkudu tergolong tanaman yang serba guna. Tanaman ini dapat dijadikan penghias halaman atau di kebun secara khusus sepeti di lahan kering tegalan. Bagian tanamn yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari adalah daun dan buahnya. Daun mengkudu mempunyai rasa yang agaklangu atau sedikit pahit, tetapi mempunyai kandungan vitamin A yang tinggi hamper sema dengan daun kacang panjang, daun katuk, daun singkong, wiortel, dan daun papaya. Buah mengkudu stadium muda dapat digunakan sebagai rujak bebeg. Hasil penelitian menunjukan bahwa zat penting yang terkandung dalam buah mengkudu terdiri atas terpenoid, pewarna, anti bakteri, asam glukuronat, gum arab, galaktosa, arabinosa, rhamnos, nutrisi, skopoletin, zat anti kanker (damnacanthal) dan xeronine serta proxeronine.
Daun mengkudu dapat dimanfaatkan sebagai sayuran, antara lain pepes daun mengkudu, gangan, urap, gilai dan lalap matang. Atau bisa juga hanya dengan direbusdan dimakn dengan sambal. Sedangkan buah mengkudu dapat diolah menjadi sari buah (juice) mengkudu dan dodol mengkudu.
Selain dimanfaatkan ebagai sayuran, mengkudu dapat juga digunakan sebagi penyembuh penyakit. Daun muda mengkudu berkhasiat sebagai anti kanker, obat peluruh empedu, sakit ginjal, hipertensi, luka, masuk angin (sebagai tapal di perut), disentri, diabetes mellitus, jantung koroner, kolesterol tinggi dan meningkatkan stamina.
Lingkungan tumbuh
Tanaman mengkudu dapat tumbuh baik pada daerah dataranrendah dengan ketinggian 0-500 m dpl, suhu udara antara 220-300 C, namun masih dapat tumbuh hingga suhu 320 C. kelembaban udara (RH) antara 50-70 %. Curah hujan antara 2 000-3 000mm/tahun, dan cukup mendapat sinar matahari. Mengkudu toleran terhadap naungan atau keadaan teduh, sehingga cocock ditanam di pekarangan. Mengkudu menghendaki pH antara 5.5-6.5 dengan struktur subur, banyak mengandung humus, memiliki aerasi dan drainase yang baik. Jenis tanah ang cocok bagi pertumbuhan mengkudu adalah alivial, latosol, dan podsolik merah kuning.
BUDIDAYA TANAMAN MENGKUDU
  1. Penyiapan bibit tanaman
Bibit mengkudu dapat diperoleh dari perbanyakan generatif dan vegetatif. Pohon induk harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : memiliki pertumbuhan yang subur dan normal, berumur antara 3-5 tahun, dan produktif berbuah. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji, sedangkan vegetatif dapat dengan menggunakan setek batang atau cabang. Sampai saat ini belum ada data hasil penelitian yang berkaitan dengan teknologi pembibitan tanamn mengkudu. Meskipun demikian, perbanyakan dapat dilakukan dengan pancangkokan batang atau cabang.
  1. Penyiapan lahan
Lahan untuk budidaya mengkudu berupa lubang tanam. Ukuran dan jarak lubang tanam sangat bervariasi. Dapat dipilih dari 30cm x 30cm x 30cm; 40cm x 40cm x 40cm atau 60cm x 60cm x 60cm; dengan jarak 2.5m x 2m; 4m x 4m; atau 5m x 5m, tergantung tingkat kesuburan tanah. Lubang tanam dibuat 15 hari sebelum penanaman.
  1. Penanaman
Pada saat penanaman dan pengembalian tanah ke dalam lubang, terlebih dulu tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20-40 kg/lubang. Penanaman dengan membuang polibag tetapi usahakan agar tanah dalam polibag tidak hancur dan pecah. Setelah penanaman, dilakukan penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah dan mempercepat tanah menempel pada akar mengkudu.
  1. Pemeliharaan
Pemeliharaan yang biasa dilkaukan adalah penyiangan dan penggemburan tanah, pengairan, pemupukan, pembentukan pohon dan proteksi tanaman.
    • Penyiangan dan penggemburan tanah
Penyiangan dapat dilakaukan sebulan sekali atau tergantung intensitas gulma yang ada. Penggemburan tanah dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk menjamin perakaran tumbuh baik.
    • Pengairan
Pengairan dilakukan secara kontinyu, terutama pada fase awal pertumbuhan. Kemudian dikurangi secara bertahap atau disesuaikan dengan keadaan tanah. Yang terpenting adalah tanah jangan sampai kekeringan.
    • Pemupukan
Pupuk yang diberikan berupa pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik diberikan 6-8 kali setahun masing-masing 20-40 kg. Sedangkan pupuk anorganik diberikan 1-2 kali sebulan dengan dosis 100-300 gr/pohon campuran ure, SP-36, dan KCl; atau NPK sebanyak 300-500 gr/pohon. Pada fase pembuahan sebaiknya diberi pupuk SP-36 dosis lebih tinggi agar kontinyu berbuah.
    • Pembentukan Pohon
Pembentukan pohon dengan memangkas cabang, ranting yang terlalu rimbun dan tidak sehat agar C/N ratio dalam tubuh tanaman seimbang sehingga tanaman produktif berbuah.
    • Proteksi Tanaman
Proteksi dilakukan terhadap hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang adalah semut, kutu putih, dan kutu daun. Sedangkan penyakit yang sering muncul adalah bercak daun dan kapang jelaga.
  1. Pemanenan
Panen pertama dilakukan pada saat tanman berumur 2 tahun. Pembuahan tarjadi secara kontinyu sepanjang tahun. Panen dapat dilakukan sampai 8 kali sebulan, sehingga dalam setahun dapat panen 88 kali.produktivitas buah per pohon adalah 5 kg setiap kali panen. Jika populasi tanaman tiap hektarnya ±400 pohon, maka produksi buah per tahun adalah 176 ton.panen paling baik dilakukan pagi atau sore hari. Panen dilakukandengan petik pilih menggunakan tangan karena buah yang matang rentan rusak dan penyok. Adapun karakteristik buah tua adalah ukurannya maksimum, kulit buah berwarna keputih-putihan dan terdapat benjolan atau bekas kelopak bunga berwarna coklat atau kahitam-hitaman. Penangan pasca penen pun harus sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan buah, karena buah tua banyak mengandung air.

Senin, 14 Maret 2011

Budiaya Kencur

I. PENDAHULUAN
Tanaman Kencur ( kaempferia galanga L. ) termasuk kedalam famili jahe-jahean Zingiberaceae yang merupakan tumbuhan asli India dengan daerah penyebaran meliputi kawasan Asia Tenggara dan Cina.
Sifat dan bentuk tanaman yaitu berbatang semu, jumlah daun 2-3 helai, warna bunga putih, umbi berwarna kuning kecoklatan dan banyak mengandung air. Komposisi umbi terdiri dari pati 4,14%, mineral sebanyak 13,73% serta minyak atsiri 2,4-3,9% yang terdiri dari cineol, asam methyl, aldehide, ethyl, ester dan lain-lain.
Manfaat rimpang kencur sebagai bumbu penyedap juga sebagai obat tradisional, oleh karenanya banyak petani yang mengusahakan di pekarangan maupun di tegalan baik secara monolkultur ataupun secara tympang sari, sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani.
Pada saat ini kencur banyak dalam industri rokok, jamu dan kosmetika dengan perkiraan kebutuhan dalam negeri untuk ketiga komponen tersebut sebesar 10 ton cip kencur kering atau setara dengan 100 ton rimpang basah.

II. SYARAT TUMBUH
2.1. Iklim
- Tinggi tempat : 50 m – 1.000 m dpl.
- Intensitas cahaya : Sedikit terlindung dari sinar matahari lansung
- Curah hujan : 2.500 – 4.000 mm / tahun

2.2. Tanah
- Jenis tanah : Lempung berpasir, lempung berliat.
- Struktur : Remah dan kaya humus.

III. BERCOCOK TANAM

3.1. Klon Anjuran
- Jenis kencur berdaun sempit
- Jenis kencur berdaun lebar

3.2. Pemilihan Bibit
Berasal dari pohon yang sudah tua, cara memperoleh bibit ada 2 cara :
a). Lansung tanam
Rimpang segar setelah dipotong-potong sepanjang 4 Cm lansung ditanam dilapangan tanpa disimpan dulu.
b). Ditunaskan dulu
Rimpang setelah dipotong-potong 4 Cm disimpsn dalam gudang 1-2 minggu (sampai tunas bermunculan), ruang tempat penyimpanan harus kering, tidak panas dan tidak terlindung. Rimpang dihamparkan (tidak bertumpuk) di atas rak kayu atau bambu. Bibit yang baik mempunyai 2-3 buah mata tunas.
Keperluan bibit sekitar 1-2 ton / hektar dengan jarak tanam sekitar 20 X 15 Cm.

3.3. Penyiapan Lahan
- Tanah dibersihkan dari rerumputan lalu dicangkul 2 (dua) kali.
- Dibuat bedengan sambil diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton/hektar.

3.4. Penanaman
- Penanaman pada awal musim hujan.
- Jarak tanam 20 X 15 Cm, kecuali untuk tumpang sari 60 X 40 Cm.
- Cara penanaman dengan meletakan bibit dicelup / dipping pada larutan anti biotik agrimyoin, sterptomyoin.

3.5. Pemeliharaan
- Penyiangan
Pada minggu ke II – IV setelah tanam atau tergantung keadaan.
- Mulching
Penutupan tanah bisa denngan jerami atau ampas perasan tebu.
- Pemupukan
Pada saat tanaman sudah membentuk daun sempurna (akhir minggu ke 4) dipupuk dengan pupuk Urea 75 Kg, TSP 200 Kg dan KCl 100 Kg dan pada saat tanaman berumur 3 bulan dipupuk dengan Urea sebanyak 75 Kg
- Penggemburan tanah
Dilakukan disekitar rumput pada umur 3 bulan bersamaan dengan pemupukan ke II.
- Hama dan Penyakit
Hama pada tanaman kencur tidak banyak yang penting adalah penyakit busuk umbi oleh bakteri Pseudomonas sp.

IV. PANEN

4.1. Umur
- Mulai dapat dipanen umur 6-8 bulan, dan dapat ditunda sampai musim berikutnya karena tidak akan ada efek buruk terhadap rimpang namun jika ditunda sampai musim berikutnya lagi kemungkinan rimpang akan membusuk dan kadar patinya menurun.
- Panen sebaiknya dilakukan dalam waktu yang singkat.
- Biasanya bila setelah cukup panen ditandai dengan daun menguning dan akhirnya gugur.

4.2. Cara Panen
- Membongkar seluruh rimpang dengan cangkul, garpu atau alat lainnya.
- Mematahkan atau memotong rimpang bagian pinggir, sisa yang tertinggal dibiarkan tumbuh untuk musim tanam berikutnya.

4.3. Produktivitas
- Produksi rimpang bisa mencapai 6-10 ton /hektar.
- Variasi produksi di pengaruhi oleh kesuburan tanah, jenis kencur dan pemeliharaan selama penanaman

V. PENGOLAHAN HASIL

Hasil lahan kencur bisa berupa rimpang basah dan rimpang kering. Pada Pengolahan Rimpang basah, rimpang hanya dibersikan, dikering anginkan, dikemas lalu diangkut.
Pada pengolahan rimpang kering terdapat proses pengeringan, pencelupan dan pengeringan.




KHASIAT TANAMAN KENCUR BAGI KESEHATAN


I. PENDAHULUAN
Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka industri farmasipun semakin berkembang seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang kian pesat. Namun dalam keadaan krisis ekonomi saat ini tidak semua lapisan masyarakat mampu membeli produk farmasi yang dibutuhkan, oleh karena itu pengobatan dengan tanaman secara tradisional merupakan salah satu pilihan yang bijaksana. Begitu banyak tanaman yang berfungsi sebagai tanaman obat-obatan salah satu diantaranya adalah tanaman kencur.
Kencur termasuk ke dalam suku jahe-jahean (zingeberaceae) dengan nama ilmiah Kaempferia galanga L. Aroma kencur sangat lembut dan khas sehingga mudah membedakan dengan jenis dari zingeberaceae yang lainnya. Fungsi tanaman kencur selain sebagai penyedap makanan juga banyak digunakan dalam ramuan obat tradisional yang khasiatnya dapat mengobati berbagai macam penyakit, sehingga tidak heran apabila pabrik-pabrik pengolahan obat trasional banyak mempergunakan bahan baku kencur.

II. KHASIAT TANAMAN KENCUR
Kencur dipergunakan untuk meramu obat-obatan tradisional yang sudah banyak diproduksi oleh pabrik-pabrik jamu maupun dibuat sendiri, selain itu rimpangnya bisa dijadikan obat tanpa diramu dengan tumbuhan lain ataupun diramu dengan campuran bahan lain. Secara garis besar khasiat tanaman kencur adalah :

1. Expentorasia
yaitu untuk menyembuhkan batuk dengan cara mengencerkan dahak serta memudahkan keluarnya dahak.

2. Dinretioca
yaitu untuk memperlancar proses pengeluaran urine (air kencing).

3. Carminativa
yaitu untuk membantu proses pengeluaran angin dari dalam perut akibat perut kembung / masuk angin.

4. Stimulansia
yaitu untuk membangkitkan atau memberikan rangsangan.

5. Protection
yaitu untuk memberikan perlindungan pada pakaian atau buku dari gangguan serangga.

III. RESEP PEMBUATAN OBAT-OBATAN TRADISIONAL

1. Batuk
a. Rimpang kencur 1 jari (jangan dibuang kulitnya) dicuci bersih lalu dikunyah halus-halus dengan sedikit garam kemudian ditelan dan disusul dengan minum air hangat dilakukan 2 kali sehari.
b. Rimpang kencur 2 jari, bawang merah 8 butir, buah kapolaga 3 buah, buah kelengkeng 8 buah, daun kaki kuda 1/3 genggam, daun jinten ¼ genggam, rimpang jahe 1 jari. Semua bahan dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dalam air bersih 3 gelas, hingga setengahnya, kemudian beri madu murni 4 sendok makan. Diminum 3 kali sehari sebanyak ½ gelas.

2. Masuk Angin
a. Rimpang kencur ¾ jari, jahe ½ jari, tempurung ½ jari, gangle 1/3 jari, adas ½ sendok teh, gula aren secukupnya. Semua bahan kecuali gula aren dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya kemudian direbus dalam air bersih 4 gelas hingga tersisa 3 gelas. Diminum 3 kali sehari ¾ gelas.
b. Rimpang kencur ½ jari, dicuci bersih, dikunyah dengan garam secukupnya sesudah halus lalu ditelan disusul dengan minum air hangat 2 kali sehari.

3. Muntah – Muntah
a. Rimpang kencur 1 jari dicuci bersih lalu diparut dan dicampur dengan garam sedikit, airnya disaring dan diminum 1-2 kali sehari.
b. Rimpang kencur 1 jari, buah kapulaga 3 buah, jintan ¾ sendok teh, adas ¾ sendok teh. Bahan semua dicuci lalu ditumbuk seperlunya dan direbus dengan air bersih 2 gelas hingga tinggal ¾ nya kemudian ditambah gula aren secukupnya, setelah dingin diminum 1-2 kali sehari.

4. Tetanus
Rimpang kencur 1 jari, putik mengkudu 15 buah, rimpang lengkuas ¾ jari, lempuyang ½ jari, temulawak ¾ jari, jahe ½ jari, bangle ½ jari. Semua bahan dicuci dan dipotong-potong seperlunya lalu direbus dengan air bersih 4 gelas hingga tinggal ¾ nya setelah dingin disaring lalu diminum 3 kali sehari ¾ gelas.

5. Radang Lambung
Rimpang kencur 1 jari, putik mengkudu 15 buah, rimpang lengkuas ¾ jari, lempuyang ½ jari, temulawak ¾ jari, jahe ½ jari, bangle ½ jari. Semua bahan dicuci dipotong seperlunya lalu direbus dengan air 4 ½ gelas hingga menjadi ½ nya, setelah dingin disaring lalu diminum 3 kali sehari ¾ gelas.

6. Mulas
Rimpang kencur 1 jari daun saga 1/5 genggam, bangle ½ jari, kapulaga 2 buah, asam trenggali 2 jari, cengkeh 10 kuntum, adas ½ sendok teh, pulosari ¾ jari daun sena ½ genggam. Semua bahan dicuci dan dipotong-potong lalu ditumbuk dan direbus dengan air 4 gelas hingga ¾ bagiannya, kemudian setelah dingin disaring dan diminum 2-3 kali sehari ¾ gelas.

7. Keracunan

a. Keracunan jamur
Kencur 1 jari, sambiloto 1/3 genggam, daun jinten ¼ genggam. Bahan ditumbuk halus dan diberi air bersih ¾ gelas, lalu diperas dan disaring kemudian diminum 2-3 kali sehari ¾ gelas.

b. Keracunan udang
Kencur ¾ jari, daun bidara laut ¼ genggam, daun kaki kuda 1/3 genggam, gula aren secukupnya. Bahan-bahan kecuali gula aren dicuci dipotong-potong lalu direbus dengan air bersih 2 gelas hingga tinggal ¾ nya, kemudian diminum 1-2 kali sehari ¾ gelas.

c. Keracunan Tempe Bongkrek
Rimpang kencur ¾ jari, daun gidana laut ¼ genggam, daun kaki kuda ¼ genggam, daun jinten ¼ genggam, gula aren secukupnya. Kemudian setelah bahan dicuci direbus dengan air 2 gelas hingga menjadi ¾ nya kemudian diminum 1-2 kali sehari, sekali minum ¾ gelas.

8. Luka Berdarah/Bernanah dan Borok
Kencur 2 jari lalu dicuci dan diparut dan dicampur air 4 sendok makan lalu air perasannya diteteskan pada luka atau dapat digunakan untuk mencuci pada luka bernanah.

9. Keramas
Untuk menyuburkan rambut bisa dengan mencuci 15 lembar daun kencur lalu ditumbuk dan dicampur 2 gelas air, dan air perasannya bisa untuk mencuci rambut.

10. Beras Kencur
Beras ½ genggam (disangrai, dicor air panas ¼ jam, tiriskan), kencur ½ genggam (diungkep), lempuyang, jahe, kunyit, asam masing-masing 1 jempol (dibakar dan diseduh air panas), gula aren 1 jari (dicairkan), cabe jawa 3 buah (direndam air panas), kedawung 3 biji, kayu manis sepotong, cengkeh, kapulaga masing-masing 3 buah lalu disngrai. Setelah siap bahan lalu ditumbuk halus dan diberi air hangat sedikit demi sedikit lalu peras dan saring baru campurkan gula aren cair dan asem.

Kamis, 10 Maret 2011

Budiaya Kumis Kucing

PENDAHULUAN
1. SEJARAH SINGKAT
Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.
Nama daerah: Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis kucing (Sunda),remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura).

2. URAIAN TANAMAN

2.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Lamiaceae
Genus : Orthosiphon
Spesies : Orthosiphon spp.

2.2 Deskripsi

Tanaman terna yang tumbuh tegak, pada buku-bukunya berakar tetapi tidak
tampak nyata, tinggi tanaman sampai 2m. Batang bersegi empat agak
beralur. Helai daun berbentuk bundar telur lonjong, lanset, lancip atau tumpul
pada bagian ujungnya, ukuran daun panjang 1 – 10cm dan lebarnya 7.5mm –
1.5cm, urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua
permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat
banyak, panjang tangkai daun 7 – 29cm. Kelopak bunga berkelenjar, urat dan
pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas
gundul. Bunga bibir, mahkota berwarna ungu pucat atau putih, dengan
ukuran panjang 13 – 27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek yang
berwarna ungu atau putih, panjang tabung 10 – 18mm, panjang bibir 4.5 –
10mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari
tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna
coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm.

2.3 Jenis Tanaman

Spesies kumis kucing yang terdapat di Pulau Jawa adalah O. aristatus, O.
thymiflorus, O. petiolaris dan O. tementosus var. glabratus. Klon kumis kucing
yang ditanam di Indonesia adalah Klon berbunga putih dan ungu.

3. MANFAAT TANAMAN

Daun kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai bahan obat-
obatan. Di Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang
memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik) sedangkan di India untuk
mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat
tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan
sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga bermanfaat untu pengobatan
radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis.

4. SENTRA PENANAMAN

Hingga saat ini, sentra penanaman kumis kucing banyak terdapat di Pulau
Jawa. Baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.

5. SYARAT PERTUMBUHAN

5.1. Iklim

1) Curah hujan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman ini adalah lebih dari
3.000 mm/tahun.
2) Dengan sinar matahari penuh tanpa ternaungi. Naungan akan
menurunkan kadar ekstrak daun.
3) Keadaan suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini adalah
panas sampai sedang.

5.2. Media Tanam

1) Tanaman ini dapat dengan mudah tumbuh di lahan-lahan pertanian, untuk
produksi sebaiknya dipilih tanah yang gembur, subur, banyak
mengandung humus/bahan organik dengan tata air dan udara yang baik.
2) Tanah Andosol dan Latosol sangat baik untuk budidaya kumis kucing.

5.3. Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat optimum tanaman kumis kucing 500 - 1.200 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Penyiapan Bibit
Cara yang paling mudah dan biasa untuk mengembangkan kumis kucing
adalah perbanyakan vegetatif dengan stek batang/cabang. Bahan
tanaman diambil dari rumpun yang tumbuhnya normal, subur dan sehat.
a. Pilih batang/cabang yang tidak terlalu tua atau muda dan sudah
berkayu.
b. Potong batang dengan pisau tajam/gunting pangkas yang bersih.
c. Potong-potong batang menjadi stek berukuran 15–20 cm berbuku 2-3.
d. Buang sebagian daun untuk mengurangi penguapan air.
Adapun kebutuhan bibit untuk 1 hektar dengan jarak tanam 40 x 40 cm
diperlukan 50.000-62.500 stek/ha.

2) Teknik Penyemaian Bibit
Stek dapat langsung ditanam di kebun produksi atau ditanam dulu di
persemaian. Di dalam persemaian stek ditanam dengan jarak tanam 10x10
cm. Stek yang masih segar langsung ditanam di lahan yang telah diolah
sedalam 20 cm. Setelah itu disirami 1-2 kali sehari tergantung dari cuaca
dan hujan yang turun. Bila perlu persemaian dinaungi dengan naungan
plastik transparan atau jerami/daun kering. Setelah timbul tunas baru, bibit
dipindahkan ke kebun produksi.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan
Tanah diolah 30-40 cm, gulma dan tanaman lain dibuang. Setelah diolah,
tanah dibiarkan 15 hari.

2) Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dilakukan setelah pengolahan tanah yang kedua
yaitu dengan menghancurkan bongkahan tanah pada pengolahan tanah
yang pertama hingga mendapatkan struktur tanah yang remah dan
gembur. Pada saat pengolahan tanah kedua ini juga dianjurkan
memberikan pupuk dasar berupa pupuk kompos atau pupuk kandang
sebanyak 50 – 60 ton per hektar bersamaan pada saat pembuatan
bedengan. Bedengan dibuat selebar 100-120 cm tinggi 30 cm dan jarak
antar bedengan 40-50 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan
keperluan dan lahan

3) Pemupukan (sebelum tanam)
Buat lubang tanam berukuran 30x30x30 cm dengan jarak tanam 40 x 60
cm. Masukkan pupuk kandang sebanyak 2,4-3,2 kg/lubang dan tutup
lubang tanah. Campur tanah bedengan dengan 15-20 kg/ha pupuk
kandang sapi.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman
Waktu tanam terbaik adalah di awal musim hujan (Oktober-Desember)
kecuali jika air tersedia sepanjang tahun, waktu tanam bisa dilaksanakan
kapan saja.

2) Pembuatan Lubang Tanam
Buat lubang tanam berukuran 30x30x30 cm dengan jarak tanam 40 x 40
cm

3) Cara Penanaman
a) Pilih bibit yang baik dari pembibitan.
b) Buat lubang kecil di tempat lubang tanam.
c) Tanamkan bibit/stek tegak lurus sedalam 5 cm atau 1/3 bagian dari
pangkal batang stek. Setiap lubang diisi 4-6 bibit/stek.
d) Padatkan tanah di sekitar bibit.
e) Sirami sampai cukup basah.

4) Perioda Tanam
Penanaman tanaman ini bias dilakukan sepanjang tahun yaitu dengan
membongkar tanaman tua yang telah mengeras berkayu dan tidak
produktif lagi atau daunnya jarang dan kecil-kecil, kemudian menanam
ulang dengan tanaman baru yang masih muda

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman
Dilakukan antara 1-15 hari setelah tanam untuk tetap menjaga
pertanaman pada jarak tanam yang telah ditentukan (40 x 40cm).
Penyulaman dilakukan terutama pada tanaman yang mati atau tumbuh
tidak normal dengan tanaman baru yang umurnya tidak berbeda jauh,
sehingga pertumbuhan selanjutnya akan tetap sama dan seragam.

2) Penyiangan
Gulma disiangi secara kontinyu untuk mengurangi persaingan unsur hara.
Penyiangan biasanya dilakukan agak sering saat tanaman masih muda
sehingga lahan di atara tanaman masih terbuka karena kanopi tanaman
belum tumbuh besar. Tetapi pada tanaman dewasa periode penyiangan
sudah agak jarang karena kanopi pada masing-masing tanaman akan
saling menutup permukaan tanah, sehingga akan menekan pertumbuhan
gulma di bawahnya.

3) Pemupukan

a. Pemupukan Organik

Pemupukan secara organic dengan menggunakan pupuk kompos yang
merupakan pupuk organic komplek dapat diberikan sbb:
Sebagai pupuk dasar telah diuraikan di atas yang diberikan pada saat
penyiapan media tanam. Selanjutnya pupuk kompos organic dapat
diberikan setiap bulan sekali sebanyak 1 – 2kg setiap tanaman.
Pemupukan pada tanaman dewasa bisa lebih sering yaitu setiap 2 – 3
minggu sekali sebesar 1.5 – 3kg per tanaman dan terutama diberikan
setelah dilakukan pemanenan/perompesan daun sehingga
pertumbuhan selanjutnya akan lebih baik.

b. Pemupukan Konvensional
Dosis pupuk anjuran adalah 75 kg/ha urea yang diberikan setiap 3 kali
panen atau 6-9 minggu sekali. Pupuk disebar di dalam larikan dangkal
antara baris tanaman dan segera ditutup tanah.

4) Pengairan dan Penyiraman
Pada awal pertumbuhan, tanaman diairi/disiram 1-2 kali sehari. Setelah
tanaman terlihat kokoh dan rimbun, penyiraman dikurangi. Frekuensi
penyiraman selanjutnya tergantung cuaca, yang penting tanah tidak
sampai kering. Penambahan air dapat dilakukan dengan cara disiram atau
menggenangi saluran di antara bedengan dengan air.

5) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama
penyakit.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

Selama ini tidak ada hama atau penyakit yang benar-benar merusak tanaman
kumis kucing. Hama yang sering ditemukan adalah kutu daun dan ulat daun.

7.2. Penyakit

Penyakit yang menyerang disebabkan oleh jamur upas (Upsia salmonicolor
atau Corticium salmonicolor). Jamur ini menyerang batang atau cabang
tanaman yang berkayu. Pengendalian dilakukan dengan perbaikan tata air,
meningkatkan kebersihan kebun, memotong bagian yang sakit, pergiliran
tanaman dan penyemprotan pestisida selektif.

7.3. Gulma

Gulma yang banyak tumbuh di lahan pertanaman kumis kucing cukup
bervariasi dan kebanyakan dari jenis gulma kebun seperti rumput teki,
lulangan, ageratum, alang-alang, dan rumput-rumput lainnya

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organic

Sama seperti pada tanaman obat lainnya bahwa pengendalian hama/penyakit
secara organic pada pertanaman kumis kucing lebih diusahakan secara PHT
(pengendalian hama secara terpadu). Termasuk di dalamnya system bercocok
tanam secara tumpang sari akan dapat menghambat serangan
hama/penyakit. Untuk pengendalian gulma sebaiknya dilakukan secara
manual dengan cara penyiangan seperti telah dijelaskan di atas.

Namun demikian apabila diperlukan dapat diterapkan penyemprotan dengan
insektisida maupun pestisida nabati. Beberapa tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian
hama antara lain adalah:
1) Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk
insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk
serangga kecil misalnya Aphids.
2) Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin
yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat
syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga
seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
3) Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone
untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
semprotan.
4) Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung
azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama
pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti
hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif
untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
5) Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
6) Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen
utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan
pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, tangkai bunga belum muncul dan
tinggi tanaman sekitar 50 cm. Panen pertama jangan sampai terlambat
karena akan mempengaruhi produksi.

8.2. Cara Panen

Daun dipanen dengan cara memetik pucuk bedaun 3-5 helai kemudian
merempal daun-daun tua di bawahnya sampai helai ke 10.

8.3. Periode Panen

Panen dilaksanakan dalam periode 2-3 minggu sekali yaitu pada pertumbuhan
optimum dari daun. Saat panen yang tepat adalah pada saat awal
pertumbuhan bunga tetapi belum tumbuh bunga. Karena yang dimanfaatkan
adalah daunnya maka bunga yang tumbuh sebaiknya dirompes untuk dapat
memaksimalkan pertumbuhan daun pada panen berikutnya.

8.4. Perkiraan Hasil Panen

Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak
Dengan pemeliharaan yang intensif, akan dihasilkan daun basah 6-9 ton/ha
yang setara dengan 1-2 ton/ha daun kering.

9. PASCAPANEN

Setelah pemetikan, daun-daun hasil panen dikumpulkan di dalam karung dan
dibawa ke tempat pengumpulan hasil. Proses pasca panen untuk
mendapatkan daun kering kualitas ekspor adalah sbb:

9.1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi basah dilakukan pada bahan segar dengan cara memisahkan daun
dari kotoran atau bahan asing lainnya. Setelah selesai, timbang jumlah bahan
hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.

Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika air bilasannya masih terlihat kotor
lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu
lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut
dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah
tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah
pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa
air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam
wadah plastik/ember.

9.2. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari
atau alat pemanas/oven. Pengeringan daun dilakukan selama kira-kira 1 - 2
hari atau setelah kadar airnya dibawah 5%. Pengeringan dengan sinar
matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan daun tidak
saling menumpuk. Selama pengeringan daun harus dibolak-balik kira-kira
setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi daun tersebut dari air,
udara yang lembab dan dari bahan-bahan yang bisa mengkontaminasi.
o o
Pengeringan didalam oven dilakukan pada suhu 50 C - 60 C. Daun yang akan
dikeringkan ditaruh diatas tray oven dan alasi dengan kertas Koran dan
pastikan bahwa daun tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang
jumlah daun yang dihasilkan.

9.3. Penyortiran Kering

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah mengalami
pengeringan dengan memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing atau
kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah bahan hasil penyortiran ini (untuk
menghitung rendemennya).

9.4. Pengemasan

Setelah bersih, daun yang kering dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan
kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya), dapat berupa kantong
plastik atau karung. Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang
menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

9.5. Penyimpanan

o
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 C,
dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar
dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang
bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari
langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1 Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya kunyit seluas 1000 m2 yang dilakukan pada tahun
1999 di daerah Bogor.
1) Biaya produksi
a. Sewa lahan 1 musim tanam Rp. 150.000,-
b. Bibit 6000 bh @ Rp. 100,- Rp. 600.000,-
c. Pupuk
- Pupuk kandang 4.000 kg @ Rp. 150,- Rp. 600.000,-
- Pupuk buatan: Urea 25 kg @ Rp. 1.100,- Rp. 27.500,-
d. Pestisida Rp. 100.000,-
e. Alat Rp. 60.000,-
f. Tenaga kerja Rp. 200.000,-
g. Panen dan pasca panen Rp. 100.000,-
h. Lain-lain Rp. 100.000,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.937.500,-
2) Pendapatan 700 kg @ Rp. 3.500,- Rp.2.450.000,-
3) Keuntungan Rp. 512.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. Rasio output/input = 1,265

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Semakin tingginya minat masyarakat Indonesia dan dunia terhadap
pemakaian obat bahan alam memberikan peluang pada kita untuk
membudidayakan kumis kucing untuk kepentingan lokal atau ekspor. Ekspor
kumis kucing dari Indonesia telah dimulai pada awal tahun 30-an sebanyak
23.296-47.414 ton. Pada tahun 1987 ekspor meningkat sampai 8.791.468 ton
dengan tujuan negara di Eropa Barat, Amerika dan Singapura. Dengan
adanya peningkatan perminataan dunia akan bahan kering tanaman obat,
agribisnis kumis kucing agaknya perlu didukung terutama dukungan teknik
penanaman dan pasca panen untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil.

Budaya Kunyit

PENDAHULUAN
1. SEJARAH SINGKAT

Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.

2. URAIAN TANAMAN

2.1 Klasifikasi

Divisio : Spermatophyta
Sub-diviso : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zungiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Curcuma domestica Val.

2.2 Deskripsi

Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang
merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna
hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal,
bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan
pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang
berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan
mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung
dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna
jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.

2.3 Jenis Tanaman

Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa
Linn, Amomum curcuma Murs. Ini merupakan jenis kunyit yang paling
terkenal dari jenis kunyit lainnya.

3. MANFAAT TANAMAN

Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena
berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan
gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu:
sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik,
bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit
itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba,
pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan
kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

4. SENTRA PENANAMAN

Di Indonesia, sentra penanaman kunyit di Jawa Tengah, dengan produksi
mencapai 12.323 kg/ha. Di India, Srilanka, Cina, Haiti, dan Jamaika dengan
produksi mencapai > 15 ton/ha.

5. SYARAT PERTUMBUHAN

a. Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang memiliki intensitas
cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini sangat baik hidup pada
tempat-tempat terbuka atau sedikit naungan.
b. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah yang memiliki curah hujan
1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam di daerah curah hujan <> 2000 m dpl). Produksi optimal + 12 ton/ha dicapai pada ketinggian
45 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Bibit
Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang, karena lebih
mudah tumbuh. Syarat bibit yang baik : berasal dari tanaman yang
tumbuh subur, segar, sehat, berdaun banyak dan hijau, kokoh, terhindar
dari serangan penyakit; cukup umur/berasal dari rimpang yang telah
berumur > 7-12 bulan; bentuk, ukuran, dan warna seragam; memiliki
kadar air cukup; benih telah mengalami masa istirahat (dormansi) cukup;
terhindar dari bahan asing (biji tanaman lain, kulit, kerikil).

2) Penyiapan Bibit
Rimpang bahan bibit dipotong agar diperoleh ukuran dan dengan berat
yang seragam serta untuk memperkirakan banyaknya mata
tunas/rimpang. Bekas potongan ditutup dengan abu dapur/sekam atau
merendam rimpang yang dipotong dengan larutan fungisida (benlate dan
agrymicin) guna menghindari tumbuhnya jamur. Tiap potongan rimpang
maksimum memiliki 1-3 mata tunas, dengan berat antara 20-30 gram dan
panjang 3-7 cm.

3) Teknik Penyemaian Bibit
Pertumbuhan tunas rimpang kunyit dapat dirangsang dengan cara:
mengangin-anginkan rimpang di tempat teduh atau lembab selama 1-1,5
bulan, dengan penyiraman 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Bibit tumbuh
baik bila disimpan dalam suhu kamar (25-28 oC). Selain itu menempatkan
rimpang diantara jerami pada suhu udara sekitar 25-28 oC. dan merendam
bibit pada larutan ZPT (zat pengatur tumbuh) selama 3 jam. ZPT yang
sering digunakan adalah larutan atonik (1 cc/1,5 liter air) dan larutan G-3
(500-700 ppm). Rimpang yang akan direndam larutan ZPT harus
dikeringkan dahulu selama 42 jam pada suhu udara 35 oC. Jumlah anakan
atau berat rimpang dapat ditingkatkan dengan jalan direndam pada
larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.

4) Pemindahan Bibit
Bibit yang telah siap lalu ditempatkan pada persemaian, dimana rimpang
akan muncul tunas telah tanaman berumur 1-1,5 bulan. Setelah tunas
tumbuh 2-3 cm maka rimpang sudah dapat ditanam di lahan. Pemindahan
bibit yang telah bertunas harus dilakukan secara hati-hati guna
menghindari agar tunas yang telah tumbuh tidak rusak. Bila ada
tunas/akar bibit yang saling terkait maka akar tersebut dipisahkan dengan
hati-hati lalu letakkan bibit dalam wadah tertentu untuk memudahkan
pengangkutan bibit ke lokasi lahan. Jika jarak antara tempat pembibitan
dengan lahan jauh maka bibit perlu dilindungi agar tetap lembab dan
segar ketika tiba di lokasi. Selama pengangkutan, bibit yang telah
bertunas jangan ditumpuk.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan Lahan
Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau
pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit sebaiknya dilakukan 30
hari sebelum tanam.

2) Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara
manual atau menggunakan alat mekanik guna menggemburkan lapisan
top soil dan sub soil juga sekaligus mengembalikan kesuburan tanah.
Tanah dicangkul pada kedalaman 20-30 cm kemudian diistirahatkan
selama 1-2 minggu agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap
dan bibit penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari.

3) Pembentukan Bedengan
Lahan kemudian dibedeng dengan lebar 60-100 cm dan tinggi 25-45 cm
dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.

4) Pemupukan (sebelum tanam)
Untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara
dalam tanah, drainase, dan aerasi yang lancar, dilakukan dengan
menaburkan pupuk dasar (pupuk kandang) ke dalam lahan/dalam lubang
tanam dan dibiarkan 1 minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk
kandang 2,5-3 kg.

6.3. Teknik Penanaman

Kebutuhan bibit kunyit/hektar lahan adalah 0,50-0,65 ton. Maka diharapkan
akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton/ha.

1) Penentuan Pola Tanaman
Bibit kunyit yang telah disiapkan kemudian ditanam ke dalam lubang
berukuran 5-10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas.
Tanaman kunyit ditanam dengan dua pola, yaitu penanaman di awal
musim hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau (7-8 bulan) atau
penanaman di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan dua
kali musim kemarau (12-18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada
masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan.
Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.

2) Pembutan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30
x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60

cm.

3) Cara Penanaman
Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatik
sebanyak 1 ml/liter pada media yang diberi mulsa ternyata berpengaruh
nyata terhadap pertumbuhan dan vegetatif kunyit, sedangkan
penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (indolebutyric acid) sebanyak 200
mg/liter pada media yang sama berpengaruh nyata terhadap
pembentukan rimpang kunyit.

4) Perioda Tanam
Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan sama seperti tanaman
rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda
akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun
rimpang tanaman ini nantinya dipanen muda yaitu 7 – 8 bulan tetapi
pertanaman selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman
Apabila ada rimpang kunyit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya
buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) rimpang lain
yang masih segar dan sehat.

2) Penyiangan
Penyiangan dan pembubunan perlu dilakukan untuk menghilangkan
rumput liar (gulma) yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan
mengganggu perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan 3-5 kali
bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan
pertama dilakukan pada saat tanaman berumur ½ bulan dan bersamaan
dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar
tumbuh besar dan tanah tetap gembur.

3) Pembubunan
Seperti halnya tanaman rimpang lainnya, pada kunyit pekerjaan
pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran
dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk
memberikan kondisi media sekitar perakaran lebih baik sehingga rimpang
akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembubunan biasanya
dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan biasanya dilakukan secara
rutin setiap 3– 4 bulan sekali.

4) Pemupukan

a. Pemupukan Organik

Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan,
jumlah daun, dan luas area daun kunyit secara nyata. Kombinasi pupuk
kandang sebanyak 45 ton/ha dengan populasi kunyit 160.000/ha
menghasilkan produksi sebanyak 29,93 ton/ha.

b. Pemupukan Konvensional

Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman kunyit perlu
diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan).
Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha.
Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan
(urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon),
serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Dengan
pemberian pupuk ini diperoleh peningkatan hasil sebanyak 38% atau
7,5 ton rimpang segar/ha. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk
nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P
diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam
(1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman
berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan
secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam
di sela-sela tanaman.

5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman kunyit termasuk tanaman tidak tahan air. Oleh sebab itu
drainase dan pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat mungkin,
agar tanaman terbebas dari genangan air sehingga rimpang tidak
membusuk. Perbaikan drainase baik untuk melancarkan dan mengatur
aliran air serta sebagai penyimpan air di saat musim kemarau.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama
penyakit.

7) Pemulsaan
Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk
menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak
gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan.
Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang
tanaman.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Ulat penggerek akar (Dichcrosis puntifera.)
Gejala:
pada pangkal akar dimana tunas daun menjadi layu dan lama kelamaan
tunas menjadi kering lalu membusuk.
Pengendalian:
tanaman disemprot/ditaburkan insektisida furadan G-3.

7.2. Penyakit

1) Busuk bakteri rimpang
Penyebab:
oleh kurang baik sistem pengairan (drainase) atau disebabkan oleh
rimpang yang terluka akibat alat-alat pertanian, sehingga luka rimpang
kemasukan cendawan.
Gejala:
kulit akar tanaman menjadi keriput dan mengelupas, kemudian rimpang
lama kelamaan membusuk dan keropos.
Pengendalian:
a. mencegah terjadi genangan air pada lahan, mencegah terlukanya
rimpang;
b. penyemprotanfungisida dithane M-45.

2) Karat daun kunyit
Penyebab:
Taphrina macullans Bult dan Colletothrium capisici atau oleh kutu daun
yang disebut Panchaetothrips.
Gejala:
timbulnya warna coklat (karat) pada helaian daun; bila penyakit ini
menyerang tanaman dewasa/daun yang tua maka tidak akan
mempengaruhi produksinya sebaliknya jika menyerang tanaman/daun
muda, menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
Pengendalian:
a. Dilakukan dengan mengurangi kelembaban;
b. Penyemprotan insektisida, seperti dengan agrotion 2 cc/liter atau
dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali

7.2. Gulma

Gulma potensial pada pertanaman kunyit ini adalah gulma kebun yang umum
yaitu alang-alang, rumput teki, rumput lulangan, ageratum, dan gulma
berdaun lebar lainnya.

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia
berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya
dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan
hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama
Terpadu) yang komponennya adalah sbb:
1) Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit
unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap
serangan hama dari sejak awal pertanaman
2) Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami
3) Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan
hama dan penyakit.
4) Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
5) Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya
tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta
rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus
penyebaran hama dan penyakit potensial.
6) Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan
dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang
dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini
hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang
diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan
digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:
1) Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk
insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk
serangga kecil misalnya Aphids.
2) Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin
yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat
syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga
seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
3) Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone
untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
semprotan.
4) Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung
azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama
pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti
hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif
untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
5) Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
6) Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen
utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan
pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8-18 bulan, saat panen yang terbaik
adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun
kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih banyak bila
dibandingkan dengan masa panen pada umur kunyit 7-8 bulan. Ciri-ciri
tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan
vegetatif, seperti terjadi kelayuan/perubahan warna daun dan batang yang
semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).

8.2. Cara Panen

Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar rimpang dengan
cangkul/garpu. Sebelum dibongkar, batang dan daun dibuang terlebih dahulu.
Selanjutnya rimpang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang
melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.

8.3. Periode Panen

Panen kunyit dilakukan dimusim kemarau karena pada saat itu sari/zat yang
terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air dalam rimpang
sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya.

8.4. Perkiraan Hasil Panen

Berat basah rimpang bersih/rumpun yang diperoleh dari hasil panen
mencapai 0,71 kg. Produksi rimpang segar/ha biasanya antara 20-30 ton.

9. PASCAPANEN

9.1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran
berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah
bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.
Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air
bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan
pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar
kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar
kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai,
tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang
tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah
plastik/ember.

9.2. Perajangan

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi
bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan
melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan,
timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat
dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

9.3. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari
atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari,
atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari
dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam
sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara
yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi.
Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 C - 60 C. Rimpang yang
akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak
saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang
dihasilkan

9.4. Penyortiran Kering

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan
cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah
atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini
(untuk menghitung rendemennya).

9.5. Pengemasan

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong
plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai
sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang

menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

9.6. Penyimpanan

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 C
dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar
dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang
bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari
langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya kunyit seluas 1000 m2 yang dilakukan pada tahun
1999 di daerah Bogor.
1) Biaya produksi
a. Sewa lahan 1 musim tanam Rp. 150.000,-
b. Bibit 50 kg @ Rp.
c. Pupuk
- Pupuk kandang 4.000 kg @ Rp. 150,- Rp. 600.000,-
- Pupuk buatan: Urea 32 kg @ Rp. 1.100,- Rp. 35.200,-
- TSP 16 kg @ Rp. 1800,- Rp. 28.800,-
- KCl 16 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 25.600,-
d. Pestisida Rp. 100.000,-
e. Alat Rp. 60.000,-
f. Tenaga kerja Rp. 200.000,-
g. Panen dan pasca panen Rp. 100.000,-
h. Lain-lain Rp. 100.000,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.399.600,-
2) Pendapatan 2.500 kg @ Rp. 750,- Rp.1.875.000,-
3) Keuntungan Rp. 475.400,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. Rasio output/input = 1,399

Usaha budidaya tanaman kunyit skala besar (komersial) atau yang dilakukan
secara intensif, di Indonesia belum ada dan sebagian besar petani cenderung
menanam tanaman ini sebagai tanaman sampingan saja.

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dewasa ini rata-rata kebutuhan bahan baku kunyit untuk industri kosmetik/
jamu tradisional yang ada di Indonesia antara 1,5-6 ton/bulan. Tingkat
kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan persentase
peningkatan 10-25% per tahunnya. Kebutuhan lebih tinggi pada saat
menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan industri di atas
sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari kebutuhan rata-
rata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri, suplai dan
permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi permintaan
pasar luar negeri. Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini
mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut
dipenuhi oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya.
Indonesia kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama
dengan sistem monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih
cepat dan tinggi, agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara
optimal. Walaupun di daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan sistem
penanaman tersebut, juga diperhitungkan dari sudut produktivitas dan jalur
tata niaganya, namun luas lahan tanam yang ada belum maksimal untuk
memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang mencapai ratusan ribu ton/ha-
nya.
Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit. Negara yang dituju antara
lain Asia (Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Jepang), Amerika, dan
Eropa (Jerman Barat dan Belanda). Pada tahun 1987, nilai ekspor tanaman
kunyit Indonesia menyumbangkan devisa yang besar bagi negara. Namun
pada tahun berikutnya jumlah ekspor tersebut mulai mengalami penurunan
dan sempat terhenti pada tahun 1989. Negara India, Cina, Haiti, Srilanka, dan
Jamaika kini mulai membudidayakan tanaman kunyit secara besar-besaran
dan mereka sudah dapat mengestimasikan produksinya hingga +20 ton/ha.
Dari segi jalur tata niaga, kunyit tergolong efisien, karena dari petani
langsung disalurkan ke pedagang pengumpul, lalu ke pabrik/pedagang besar.
Maka harga yang diterima petani mencapai 70% dari harga tingkat pabrik,
dimana 30% merupakan marjin tata niaga yang terdiri atas 12% marjin biaya
dan 18% merupakan marjin keuntungan. Berdasarkan kondisi ini, tata niaga
kunyit bisa ditingkatkan lagi, karena marjin terbesar berada pada keuntungan
pedagang. Peluang agribisnis kunyit di Indonesia dapat dikembangkan.
Kenyataan ini dilandaskan pada tingkat produktivitas, jalur tata niaga, dan
kebutuhan kunyit dari berbagai industri yang membutuhkannya.

Budiaya Temulawak

Pendahuluan
Hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan temulawak, masyarakat hanya mengusahakannya secara kecil-kecilan di tegalan atau lahan pekarangan. Bahkan ada yang masih melakukan perburuan liar di hutan belantara untuk mengumpulkan rimpangnya. Padahal cara seperti itu tidak dapat menjamin kualitas dan kuantitas rimpangnya sesuai tuntutan pasar. Jalan terbaik hanya dengan budidaya secara intensif. Hasilnya pun bisa 10-20 ton/ha.

Pada dasarnya temulawak bisa tumbuh di sembarangan jenis tanah, namun produksinya lebih baik bila dibudidayakan di tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, serta aerasi dan rainasenya baik. Kondisi tanah yang demikian terutama ada pada tanah liat berpasir.
Tanaman ini juga dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 1.200 m dpl. Namun kondisi lingkungan tumbuh paling ideal untuknya di daerah berketinggian sampai 750 m dpl, curah hujan 1.000-4.000 mm/ tahun, dan suhu udara 19°-30°C.

Bibit Temulawak
Temulawak dapat diperbanyak secara vegetatif dengan rimpang-rimpangnya, baik rimpang induk maupun anakan (rimpang cabang). Menyiapkan bibit dari rimpang induk memerlukan penanganan khusus. Mula-mula dipilih rumpun yang berumur tua (10-12 bulan) dan sehat, lalu dibongkar untuk diambil rimpangnya dan dibersihkan dari akar-akar maupun tanah yang menempel. Selanjutnya rimpang dipecah dan dipisahkan antara rimpang induk dan rimpang cabangnya. Rimpang induk dibelah menjadi 4 bagian. Sedapat mungkin setiap bagian rimpang mengandung 2-3 mata tunas.

Belahan rimpang induk selanjutnya dijemur 3-4 jam/ hari selama 4-6 hari berturut-turut, agar kadar air dalam rimpang menyusut dan merangsang tumbuhnya tunas-tunas barn. Bibit belahan rimpang induk ini dapat langsung ditanam di kebun atau ditunaskan dulu di tempat teduh dan lembap selama 7-15 hari.

Sedangkan rimpang anakan hasil pemisahan tadi dipilih yang bermutu baik saja, kemudian disimpan di tempat teduh dan lembap selama 1-2 bulan hingga keluar tunas-tunas baru. Rimpang cabang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi beberapa bagian bakal bibit. Tiap potongan sebaiknya mengandung 2-3 mata tunas.

Sebelum bibit ditanam, sebaiknya disemprot dulu dengan fungisida dan bakterisida untuk menghindari serangan cendawan pada bibit. Dalam satu hektar lahan memerlukan bibit berupa rimpang induk sebanyak 1.500-2.000 kg, atau rimpang cabang 500-700 kg.

Penyiapan lahan dan penanaman Temulawak
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan menjelang atau awal musim tanam, sesuai waktu penanaman bibitnya. Waktu tanam yang paling baik adalah pada awal musim hujan. Lahan untuk kebun temulawak mula-mula dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm dan dibiarkan minimal 15 hari. Selanjutnya dibuat bedengan-bedengan selebar 120-200 cm dengan jarak antar-bedengan 30-40 cm. Di antara bedengan itu dibuat parit sedalam 40-60 cm untuk menjaga drainase tetap baik. Bersamaan dengan penyelesaian bedengan, tambahkan pupuk kandang sebanyak 20-25 ton/ha atau 2-2, 5 kg/m2 luas lahan. Setelah itu lahan dibiarkan dulu selama 1-2 minggu baru ditanami.

Untuk penanamannya, mula-mula dibuatkan lubang tanam pada bedengan dengan jarak antar-lubang 60 cm x 60 cm. Tiap lubang tanam diisikan 1 bibit temulawak terpilih yang diletakkan tegak dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Berikutnya, bibit ditimbun dengan tanah sedalam 7-10 cm. Bersamaan dengan saat tanam dilakukan pemupukan dasar dengan TSP sebanyak 100 kg/ ha yang disebar merata atau ditugalkan dan ditimbun tanah. Biasanya setelah 2-4 minggu tanaman akan tampak di permukaan tanah. Pengairan atau penyiraman sangat diperlukan, terutama bila keadaan tanah kering atau di musim kemarau.

Pemeliharaan Temulawak
Setelah berumur 2 bulan biasanya seluruh tanaman akan tumbuh sempurna. Pada saat itulah dilakukan penyi¬angan gulma sambil mengada¬kan pemupukan susulan. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sebanyak 0.5 kg,' rumpun atau 10- 12, 5 ton/ha, ditambah pupuk urea dan KC1 masing-masing 95 kg dan 85 kg per ha. Pemupukan urea dan KCI masih dilakukan setelah tanaman berumur 4 bulan, masing-masing seba¬nyak 40 kg,/ha.

Untuk menekan gulma dan merangsang pemben¬tukan umbi (rimpang), sebaiknya pertanaman diberikan mulsa berupa jerami atau rumput-rumput liar yang telah kering. Pemberian mulsa ini sebaik- - nya dilakukan seawal mung¬kin agar dapat juga berfungsi sebagai bahan organik. Untuk menghindari serangan hama dan penyakit, selain menggunakan bibit sehat, perlu dilakukan penyemprotan pestisida seminggu sekali dengan dosis sesuai anjuran. Selain itu drainase tanah juga perlu diperhatikan untuk mencegah serangan penyakit jamur F'rrsarium sp., Pythiupn sp., dan bakteri Pseudunzonas sp., penyebab layunya tanaman dan busuk rimpang selepas panen.

Panen dan pasca panen Temulawak
Rimpang temulawak sudah waktunya dipanen bila ukurannya telah maksimal, keras, clan berwarna kuning kotor. Kondisi rimpang seperti ini dapat dilihat dari penampilan tanamannya di permukaan tanah yang mulai layu, menguning, dan akhirnya kering serta `hampir' mati.

Pemanenan dilakukan dengan membongkar secant hati-hati seluruh rumpun bersama rimpang-rimpangnya menggunakan cangkul atau gaco: jangan ada rimpang yang terpotong, karena akan menurunkan kualitasnya. Dengan sistem budidaya intensif tiap hektar lahan dapat menghasilkan 10-20 ton rimpang segar.

Setelah dipanen, rimpang dibersihkan clan diiris dalam arah melintang setebal 7-8 mm. Berikutnya irisan rimpang di-blanching atau dipanaskan dalam larutan natrium karbonat (Na2 CO3) 0, 05-0, 1 % selama 15 menit. Setelah itu dijemur 10-15 hari atau dikeringkan dengan alat pengering listrik pada temperature 50° - 55°C selama 7 jam hingga kering dan berwarna jingga. Irisan rimpang kering ini dikemas dalam wadah peti atau dus karton berkapasitas 20 kg untuk selanjutnya dipasarkan atau diekspor.

Perawaratan mutu rimpang temulawak kering untuk ekspor adalah warnanya kuning jingga sampai cokelat jingga, aroma khas wangi aromatik. rasanya khas dan agak pahit, kelembapan maksimal 12%, kadar abu 3-7%, kadar pasir 1%, dan kadar minyak asiri minimal 5%.

Rabu, 09 Maret 2011

Budidaya Jahe

PENDAHULUAN
1. SEJARAH SINGKAT
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu.
Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh
karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali
memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan
obat-obatan tradisional.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan
temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam
(Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia
galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain.
 
Nama daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak
Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan
Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.

2. URAIAN TANAMAN

2.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species :Zingiber officinale

2.2 Deskripsi

Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong
berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15
mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun
memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak
berbulu.
Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat
atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang
malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu,
panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah,
berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu,
panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik,
bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm,
lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya
agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5
mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna
putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang
9 mm ; tangkai putik 2

2.3 Jenis Tanaman

Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna
rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :

1) Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak
Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih
menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi
baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar
maupun jahe olahan.

2) Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit
Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini
selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih
besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping
seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk
diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

3) Jahe merah
Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil.
sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga
memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga
cocok untuk ramuan obat-obatan.

3. MANFAAT TANAMAN

Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan
rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai

minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi,
industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap,
bandrek, sekoteng dan sirup.
Dewasa ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami.
Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan
awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri
dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai
bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan
lain-lain.
Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif
(peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh
darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik,
anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah
empedu.

4. SENTRA PENANAMAN

Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada
saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir,
Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan.
Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan
negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe
dunia.

5. SYARAT PERTUMBUHAN

5.1. Iklim

1) Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara
2.500-4.000 mm/tahun.
2) Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar
matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang
terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
o
3) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35 C.

5.2. Media Tanam

1) Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan
banyak mengandung humus.
2) Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah
laterik.
3) Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4.
Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

5.3. Ketinggian Tempat

1) Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-
2.000 m dpl.

2) Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Bibit
Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu
fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud
dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh
karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain:
a. Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
b. Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
c. Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka
atau lecet.

2) Teknik Penyemaian Bibit
Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan
langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian
bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

a. Penyemaian pada peti kayu
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai
kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang
tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata
tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit
tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan
dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit
kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu.
Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada
bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di
atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya
sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut.
Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.

b. Penyemaian pada bedengan
Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam
bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah
penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal
10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup
jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian
seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan
bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat
dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot
dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah
bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas
rendah.

Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap
potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

3) Penyiapan Bibit
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan
cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam
larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah
ditanam.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan Lahan
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syarat-
syarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yang
ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman jahe,
maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.

2) Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm
dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau
remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah
dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit
dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan
tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan
pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan
sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.

3) Pembentukan Bedengan
Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk
encegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi
bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm,
sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.

4) Pengapuran
Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara
didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak
tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi
media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp
dan pythium sp.
Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat
diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu,
merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah
dan merangsang pembentukan biji.
a. Derajat keasaman <> 10 ton/ha.
b. Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
c. Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman
Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu
memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi dan
produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara
monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian.
Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai
keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
a. Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
b. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
c. Meningkatkan produktivitas lahan.
d. Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya
pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe yang ditumpangsarikan dengan sayur-
sayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis dan lain-lain.
Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang
tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.

2) Pembutan Lubang Tanam
Untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah
yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan.
Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk
menanam bibit.

3) Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara
rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.

4) Perioda Tanam
Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar
bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman
muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman
Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat
rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman
agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman
lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan
yang benar.

2) Penyiangan
Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu
kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi
tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7
bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur
tersebut rimpangnya mulai besar.

3) Pembubunan
Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat
berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu
tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang
muncul ke atas permukaan tanah.
Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di
sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya
dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk
gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk
menyalurkan kelebihan air.
Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe
berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya
pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun
tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.

4) Pemupukan

a. Pemupukan Organik
Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia
termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara
organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk
kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan
pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan
pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk
dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur
tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga
dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal
pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan
selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10
bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman.
Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan
penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

b. Pemupukan Konvensional
Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi
pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk
dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan
tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20
gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O
(112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga
dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan
K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K
diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis)
diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk
diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau
dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman

5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk
pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan
penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September;

6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan
bibit yang untuk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan
pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk
organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

Hama yang dijumpai pada tanaman jahe adalah:
1) Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.
2) Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan
tanaman jahe menjadi kering dan mati.
3) Kumbang.

7.2. Penyakit

1) Penyakit layu bakeri
Gejala:
Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian
terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering.
Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah.
Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit
membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih
susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur
3-4 bulan dan yang paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yang
dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab.
Pengendalian:

2) Penyakit busuk rimpang

Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan
tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus
berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.
Gejala:
Daun bagian bawah yang berubah menjadi kuning lalu layu dan akhirnya
tanaman mati.
Pengendalian:

3) Penyakit bercak daun

Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui
luka maupun tanpa luka.
Gejala:
Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-
bercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik
berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang
terserang bisa mati.
Pengendalian:
baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun
sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas.

7.3. Gulma

Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara
lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar
lainnya.

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia
berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya
dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan
hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama
Terpadu) yang komponennya adalah sbb:
1) Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit
unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap
serangan hama dari sejak awal pertanaman
2) Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami
3) Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan
hama dan penyakit.
4) Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
5) Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya
tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta
rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus
penyebaran hama dan penyakit potensial.
6) Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan
dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang
dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini
hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang
diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan
digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

1) Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk
insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk
serangga kecil misalnya Aphids.
2) Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin
yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat
syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga
seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
3) Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone
untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
semprotan.
4) Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung
azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama
pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti
hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif
untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
5) Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
6) Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen
utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan
pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila
kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa
ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian
rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua.
Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur
tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri
warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering.
Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan
berlangsung selama 15 hari atau lebih.

8.2. Cara Panen

Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat
garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka.
Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang
dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau
daun pisang kira-kira selama 1 minggu.
Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya
jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.

8.3. Periode Panen

Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan
Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian
atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim
kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun
berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang
dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif
karena lebih banyak kadar airnya.

8.4. Perkiraan Hasil Panen

Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25
ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara
10-15 ton/hektar.

9. PASCAPANEN

9.1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran
berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah
bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.
Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air
bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan
pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar
kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar
kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai,
tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang
tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah
plastik/ember.

9.2. Perajangan

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi
bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan
melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan,
timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat
dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

9.3. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari
atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari,
atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari
dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam
sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara
yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi.

Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 C - 60 C. Rimpang yang
akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak
saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang
dihasilkan

9.4. Penyortiran Kering.

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan
cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah
atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini
(untuk menghitung rendemennya).

9.5. Pengemasan

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong
plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai
sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang
menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

9.6. Penyimpanan

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 C

dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar
dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang
bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari
langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

10.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis usaha budidaya jahe seluas 1 ha; yang dilakukan petani
pada tahun 1999 di daerah Bogor.
1) Biaya produksi
2) Bibit: 2.000 bh @ Rp. 1.700,- = Rp. 3.400.000,-
b. Pupuk
Urea 165 kg @ Rp. 1.100, = Rp. 181.500,-
TSP 160 kg @ Rp. 1800,- = Rp. 288.000,-
KCl 160 kg @ Rp. 1.600,- = Rp. 256.000,-
c. Obat 20 kg @ Rp. 15.000,- Rp. 300.000,-
d. Alat Rp. 180.000,
e. Bahan (mulsa) 20.000 m @ Rp. 150,- Rp. 3.000.000,-
f. Tenaga kerja 200 OH Rp. 2.000.000,-
g. Biaya Lain-lain Rp. 1.000.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 11.355.500,-

2) Penerimaan: 10.000 bh @ 1.500,-= Rp. 15.000.000,-
3) Keuntungan usaha tani Rp. 3.644.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C rasio = 1,321